Gangguan Penglihatan pada Diabetes Jangan Dianggap Hal Biasa
- 27 Jul 2026 06:27 WIB
- Ambon
RRI.CO.ID, Ambon - Gangguan penglihatan pada penyandang diabetes sering kali dianggap sebagai bagian dari proses penuaan. Padahal, kondisi tersebut bisa menjadi tanda komplikasi serius akibat diabetes yang berisiko menyebabkan kebutaan apabila tidak ditangani sejak dini.
Dilansir dari Kompas Health, para ahli mengingatkan bahwa diabetes yang tidak terkontrol dapat merusak pembuluh darah di berbagai organ tubuh, termasuk mata. Kerusakan tersebut dikenal sebagai retinopati diabetik, salah satu komplikasi diabetes yang paling sering terjadi tetapi masih kurang mendapat perhatian masyarakat.
Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam, Prof. Em Yunir, Sp.PD-KEMD, menjelaskan bahwa diabetes tidak hanya menyebabkan tingginya kadar gula darah, tetapi juga sering disertai penyakit lain seperti hipertensi, kolesterol tinggi, dan obesitas. Kombinasi kondisi tersebut mempercepat kerusakan pembuluh darah yang dapat memicu gangguan pada mata hingga gagal ginjal yang memerlukan cuci darah.
Sementara itu, dokter spesialis mata Prof. dr. Muhammad Bayu Sasongko, M.Epi., Ph.D., Sp.M., mengatakan bahwa retinopati diabetik sering kali berkembang tanpa gejala pada tahap awal. Banyak penderita baru menyadari adanya gangguan ketika kerusakan pada retina sudah cukup parah sehingga peluang pengobatan menjadi lebih terbatas.
Beberapa gejala yang perlu diwaspadai antara lain penglihatan mulai kabur, warna terlihat kurang terang, muncul bintik-bintik hitam, pandangan berbayang, hingga kesulitan melihat pada malam hari. Karena gejalanya muncul secara bertahap, banyak pasien menganggap kondisi tersebut sebagai penurunan penglihatan akibat usia.
Menurut Prof. Bayu, kerusakan pembuluh darah di retina dapat berlangsung selama bertahun-tahun tanpa disadari. Oleh karena itu, penyandang diabetes dianjurkan menjalani pemeriksaan mata secara berkala meskipun belum merasakan keluhan pada penglihatannya.
Pemerintah juga terus mendorong deteksi dini melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi, menyampaikan bahwa pemeriksaan gula darah kini telah menjadi bagian dari layanan tersebut. Ke depan, skrining retina juga akan diintegrasikan ke layanan Puskesmas untuk memperluas akses pemeriksaan bagi masyarakat.
Namun, upaya tersebut masih menghadapi sejumlah tantangan. Indonesia masih mengalami kekurangan dokter spesialis mata serta belum meratanya ketersediaan alat pemeriksaan retina, seperti kamera fundus, di fasilitas kesehatan tingkat pertama.
Untuk mengatasi kendala tersebut, berbagai pihak membentuk Konsorsium Diabetic Retinopathy Initiatives (DRIVE). Program ini memanfaatkan teknologi tele-ophthalmology, sehingga tenaga kesehatan di Puskesmas dapat melakukan skrining awal dan mengirimkan hasil pemeriksaan kepada dokter spesialis mata. Pasien yang terindikasi mengalami retinopati diabetik kemudian akan dirujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Melalui penguatan sistem skrining dan deteksi dini, para ahli berharap kasus kebutaan akibat diabetes dapat ditekan. Masyarakat, khususnya penyandang diabetes, diimbau untuk rutin mengontrol kadar gula darah, menjalani pemeriksaan mata secara berkala, serta tidak menganggap gangguan penglihatan sebagai hal yang wajar karena bertambahnya usia
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....