Imun Otak: saat Sistem Kekebalan Tubuh Mulai Bisa Baca Bahasa Tumor Ganas
- 28 Mei 2026 09:17 WIB
- Ambon
RRI.CO.ID, Ambon - Selama puluhan tahun, para ahli meyakini otak manusia merupakan wilayah istimewa yang terpisah dari sistem kekebalan tubuh. Ternyata anggapan itu keliru. Mengutip laman resmi Kementerian Kesehatan RI Ayo Sehat, penelitian terbaru menunjukkan bahwa otak justru aktif berkomunikasi dengan sistem imun lewat berbagai jalur seperti pembuluh darah, cairan otak, hingga kelenjar limfa di leher. Penemuan ini membuka pintu baru bagi pengobatan tumor otak yang selama ini sulit ditaklukkan.
Dokter Dito Anurogo, peneliti dari Taipei Medical University yang tulisannya dimuat dalam portal Ayo Sehat Kemenkes RI, menjelaskan bahwa tumor otak terbagi menjadi dua jenis utama. Pertama adalah tumor primer seperti glioma yang tumbuh dari jaringan otak sendiri. Kedua adalah tumor metastasis yang merupakan penyebaran kanker dari organ lain seperti paru-paru atau payudara. Glioma terkenal cerdik karena mampu bersembunyi dari sistem imun, sementara metastasis justru lebih mudah dikenali karena membawa sifat asing dari kanker asalnya.
Yang membuat glioma sangat berbahaya adalah kemampuannya membajak sistem komunikasi normal di otak. Menurut informasi yang dirilis Kemenkes melalui kanal Ayo Sehat, sel tumor ini bisa menyamar, berkembang perlahan, dan menciptakan lingkungan yang menekan sistem kekebalan. Mikroglia dan makrofag yang seharusnya melindungi otak malah berbalik membantu tumor dengan melepaskan zat yang membuat sel-sel imun menjadi lelah dan tidak berdaya. Kondisi inilah yang menyebabkan pengobatan konvensional seperti operasi dan kemoterapi sering gagal total.
Kabar baiknya, para ilmuwan kini sedang mengembangkan berbagai terapi baru seperti vaksin tumor, virus perusak sel kanker, hingga terapi sel T rekayasa. Pendekatan kombinasi yang disesuaikan dengan profil genetik setiap pasien menjadi kunci utama. Seperti dikutip dari laman sehatnegeriku.kemkes.go.id, untuk Indonesia diperlukan persiapan sejak sekarang, mulai dari membangun laboratorium diagnostik molekuler hingga registri tumor otak nasional, agar pasien tidak hanya diukur dari ukuran tumor di MRI, tetapi dipahami secara utuh sebagai ekosistem penyakit yang kompleks.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....