Hipertensi Bisa Picu Demensia hingga Kebutaan, Ini Komplikasi yang Jarang Disadar
- 23 Mei 2026 11:22 WIB
- Ambon
RRI.CO.ID, Ambon - Penyakit tekanan darah tinggi atau hipertensi sering disebut sebagai silent killer karena kerap tidak menimbulkan gejala jelas meski kerusakan pada tubuh terus berlangsung. Jika tidak dikendalikan dengan baik, hipertensi dapat memicu berbagai komplikasi serius pada organ vital, mulai dari otak, mata, hingga jantung.
Ketua Perhimpunan Hipertensi Indonesia (InaSH), Eka Harmeiwaty, mengatakan masyarakat umumnya hanya mengenal hipertensi sebagai penyebab stroke dan serangan jantung. Padahal, tekanan darah tinggi juga dapat memicu gangguan lain yang tidak kalah berbahaya.
“Hipertensi selain stroke juga bisa menyebabkan pasien jadi pikun atau demensia,” ujar dr. Eka dalam peluncuran tensimeter Omron SF Series di Jakarta Selatan.
Menurutnya, tekanan darah tinggi dapat merusak pembuluh darah kecil di otak secara perlahan. Kerusakan tersebut menyebabkan sel-sel saraf mati dan memicu penurunan daya ingat hingga demensia, bahkan tanpa didahului stroke.
Kondisi tersebut dikenal sebagai cerebral small vessel disease atau gangguan pembuluh darah kecil di otak. Karena prosesnya berlangsung perlahan, banyak penderita tidak menyadari kerusakan yang terjadi hingga fungsi kognitif mulai menurun.
Selain otak, organ mata juga rentan mengalami komplikasi akibat hipertensi. Tekanan darah tinggi dapat menyebabkan pecahnya pembuluh darah pada mata yang jika terus berulang dapat berujung pada gangguan penglihatan permanen.
Penyiar radio Iwet Ramadhan yang juga merupakan penyintas stroke mengaku pernah mengalami pecah pembuluh darah di mata ketika mengalami stres dan kelelahan bekerja. Kondisi tersebut sempat muncul berulang dalam beberapa bulan.
Dr. Eka menjelaskan bahwa retinopati hipertensi yang tidak ditangani serius dapat menyebabkan kebutaan mendadak, termasuk pada usia muda.
Komplikasi lain yang juga sering tidak disadari adalah gangguan irama jantung dan gagal jantung. Hipertensi dapat membuat jantung bekerja lebih keras sehingga memicu gangguan detak jantung seperti atrial fibrillation atau fibrilasi atrium.
Gangguan tersebut membuat denyut jantung menjadi tidak teratur dan meningkatkan risiko terbentuknya gumpalan darah yang dapat menyumbat aliran darah ke otak dan memicu stroke.
Menurut dr. Eka, penderita atrial fibrillation sering hanya merasakan gejala ringan seperti jantung berdebar, mudah lelah, atau sesak napas sehingga kondisi ini kerap luput dari perhatian.
Ia juga mengingatkan penderita hipertensi agar berhati-hati saat melakukan olahraga berat, terutama angkat beban. Tekanan tinggi pada pembuluh darah yang sudah rapuh dapat meningkatkan risiko pembuluh darah robek.
Dalam beberapa kasus, robeknya pembuluh darah besar di area leher atau dada dapat terjadi secara mendadak dan berakibat fatal sebelum sempat mendapatkan pertolongan medis.
Karena itu, masyarakat diimbau rutin memeriksa tekanan darah dan tidak mengabaikan hipertensi meski tubuh terasa sehat. Pengendalian tekanan darah melalui pola hidup sehat, olahraga yang sesuai, konsumsi obat teratur, serta pemeriksaan medis berkala dinilai penting untuk mencegah komplikasi serius di kemudian hari.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....