Strategi Indonesia Kejar UCCN 2027 Gastronomi dan Film
- 06 Mei 2026 09:53 WIB
- Ambon
RRI.CO.ID, Ambon - Indonesia mulai mematangkan langkah untuk memperkuat posisinya di kancah global melalui sektor ekonomi kreatif. Salah satu fokus utama adalah menghadapi seleksi UNESCO Creative Cities Network (UCCN) 2027, dengan target melengkapi bidang yang belum terisi, yakni gastronomi dan film.
Pengamat Ekonomi Kreatif, Budaya, dan Pariwisata, Harry Waluyo, menilai Indonesia sebenarnya telah memiliki fondasi kuat di berbagai subsektor kreatif. Beberapa kota bahkan sudah diakui dunia, seperti Ambon di bidang musik, Bandung untuk desain, hingga Jakarta dalam kategori literasi. Namun, ketiadaan perwakilan di sektor gastronomi dan film dinilai menjadi celah yang perlu segera diisi.
Menurut Harry, pendekatan dalam memilih kota perwakilan harus berubah. Ia menegaskan bahwa popularitas bukan lagi faktor utama dalam seleksi UCCN. “Yang dibutuhkan adalah kota yang benar-benar siap secara ekosistem, memiliki data yang kuat, serta mampu berkolaborasi di tingkat internasional,” ujarnya.
Ia menjelaskan, terdapat lima pilar utama yang menjadi kunci keberhasilan dalam seleksi UCCN 2027. Pilar tersebut meliputi ekosistem kreatif yang nyata, dukungan kebijakan pemerintah, dimensi internasional, keberlanjutan berbasis SDGs, serta implementasi berbasis data dan indikator yang terukur.
Di sektor gastronomi, Indonesia dinilai memiliki potensi besar dengan kekayaan kuliner yang sudah dikenal dunia, seperti rendang, sate, hingga nasi goreng. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya terlembagakan dalam sistem global. Kota yang ingin maju di bidang ini harus memiliki identitas kuliner yang kuat, sistem pangan lokal yang terintegrasi, serta dukungan pelaku industri yang mampu bersaing secara internasional.
Sementara itu, di sektor film, industri dalam negeri menunjukkan pertumbuhan signifikan, baik dari sisi produksi maupun jumlah penonton. Meski demikian, hingga kini belum ada kota di Indonesia yang masuk jejaring global UCCN untuk kategori film. Padahal, kriteria yang dibutuhkan mencakup ekosistem produksi lengkap, festival bertaraf internasional, hingga dukungan regulasi yang kuat.
Harry juga menekankan pentingnya mekanisme seleksi nasional yang ketat dan berbasis data. Ia menyarankan proses seleksi dilakukan melalui beberapa tahap, mulai dari penyaringan awal, penilaian berbobot, verifikasi lapangan, hingga kurasi nasional final.
Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa keberhasilan dalam UCCN bukan ditentukan oleh kota terbesar atau paling terkenal, melainkan yang paling siap secara sistem dan memiliki kontribusi nyata bagi dunia. Narasi global yang kuat, dukungan data, serta komitmen pemerintah menjadi faktor penentu utama.
Jika strategi ini dijalankan secara konsisten, Harry optimistis Indonesia mampu melengkapi seluruh bidang dalam UCCN, sekaligus meningkatkan diplomasi budaya, memperkuat ekonomi kreatif daerah, dan mendorong pariwisata berkualitas.
“Masalah Indonesia bukan kekurangan kota kreatif, tetapi bagaimana membangun narasi global yang kuat dan berbasis data. Jika itu diperbaiki, peluang lolos UCCN 2027 bisa mencapai 60 hingga 80 persen,” tegasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....