People Pleaser: Kenali Ciri, Penyebab, dan Cara Mengatasinya

  • 21 Apr 2026 18:38 WIB
  •  Ambon

RRI.CO.ID, Ambon – Fenomena people pleaser yang kian marak di tengah masyarakat menjadi perhatian serius dari kalangan psikolog. Psikolog Klinis Nur Ria Handayani menjelaskan, people pleaser merupakan istilah yang merujuk pada individu yang memiliki kecenderungan kuat untuk selalu menyenangkan orang lain, bahkan hingga merugikan diri sendiri.

Dalam keseharian, perilaku ini sering kali tidak disadari karena dianggap sebagai bentuk kebaikan atau empati. Namun, pada kenyataannya, individu dengan kecenderungan ini cenderung mengutamakan kepentingan dan perasaan orang lain dibandingkan dirinya sendiri secara terus-menerus.

Nur Ria Handayani mengungkapkan, terdapat sejumlah ciri yang dapat dikenali dari seorang people pleaser. Salah satunya adalah kesulitan untuk berkata tidak. Individu dengan kecenderungan ini cenderung selalu mengiyakan permintaan orang lain meskipun sebenarnya tidak setuju atau tidak mampu melakukannya.

Selain itu, mereka juga sering kali terlalu mudah meminta maaf, bahkan untuk kesalahan yang tidak mereka lakukan. Kebiasaan ini muncul sebagai bentuk upaya menjaga hubungan agar tetap harmonis.

Ciri lainnya adalah kecenderungan menghindari konflik. Mereka lebih memilih mengalah dan mengikuti keinginan orang lain daripada terlibat dalam diskusi dua arah yang berpotensi menimbulkan perbedaan pendapat. Hal ini didorong oleh kekhawatiran bahwa konflik dapat merusak hubungan sosial.

Tidak hanya itu, people pleaser juga biasanya memiliki kepekaan yang tinggi terhadap perasaan orang lain dan merasa bertanggung jawab atas kondisi emosional di sekitarnya. Misalnya, ketika orang lain merasa sedih, mereka ikut merasa bersalah meskipun bukan penyebabnya, sehingga terdorong melakukan berbagai cara agar orang tersebut kembali merasa lebih baik.

Dalam banyak kasus, mereka bahkan rela melakukan apa saja, mulai dari mengorbankan waktu, tenaga, fisik, hingga materi demi membantu orang lain. Dorongan ini muncul dari keinginan untuk membuat orang lain bahagia sekaligus rasa tanggung jawab yang berlebihan terhadap perasaan orang lain.

Lebih lanjut dijelaskan, ada beberapa faktor yang menyebabkan seseorang menjadi people pleaser. Salah satunya adalah rendahnya kepercayaan diri, yang membuat individu merasa bahwa pendapat dan kebutuhannya tidak sepenting orang lain. Selain itu, adanya kecemasan dalam beradaptasi dan keinginan untuk diterima lingkungan juga menjadi pemicu utama. Rasa takut akan penolakan dan konflik membuat individu memilih untuk selalu menyenangkan orang lain.

Jika kondisi ini berlangsung dalam jangka panjang, dampaknya dapat memengaruhi kualitas hidup, baik saat ini maupun di masa depan. Individu dapat merasa kehilangan kendali atas hidupnya karena terlalu bergantung pada ekspektasi lingkungan.

Untuk itu, Nur Ria Handayani menyarankan beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk menghentikan kebiasaan tersebut. Pertama, menanamkan pola pikir untuk menghargai dan menjaga diri sendiri. Mengutamakan kebutuhan pribadi tidaklah egois selama dilakukan secara proporsional, karena kebahagiaan orang lain bukan sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu.

Kedua, belajar berkata tidak. Menolak permintaan orang lain dalam kondisi tertentu merupakan hal yang wajar dan tidak perlu disertai rasa bersalah, terutama jika kondisi diri tidak memungkinkan.

Ketiga, meningkatkan kepercayaan diri. Hal ini dapat dilakukan dengan mengikuti berbagai aktivitas positif seperti kursus, pelatihan, sertifikasi, maupun bergabung dengan komunitas yang dapat membantu mengembangkan potensi diri.

Dengan memahami ciri, penyebab, dampak, serta cara mengatasinya, masyarakat diharapkan dapat lebih bijak dalam menjalin hubungan sosial tanpa harus mengorbankan kesejahteraan diri sendiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....