Cakupan Imunisasi Menurun Picu Lonjakan Kasus Campak

  • 15 Mar 2026 21:35 WIB
  •  Ambon

RRI.CO.ID, Ambon - Lonjakan kasus Campak yang terjadi belakangan ini dinilai berkaitan dengan menurunnya kekebalan kelompok atau herd immunity di masyarakat. Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, Aisyah Amanda Hanif, mengatakan peningkatan kasus campak sering menjadi tanda bahwa imunitas populasi terhadap virus tersebut sedang menurun. Kondisi ini membuat lebih banyak orang menjadi rentan terhadap penularan. Jika tidak segera diatasi, situasi tersebut berpotensi memicu wabah di berbagai daerah.

Menurut Aisyah, campak merupakan salah satu penyakit yang sangat mudah menular. Virus campak dapat menyebar dengan cepat melalui udara ketika penderita batuk, bersin, atau berbicara. Bahkan, satu orang yang terinfeksi dapat menularkan virus kepada banyak orang di sekitarnya. Ia menjelaskan bahwa satu penderita campak bisa menularkan virus kepada sekitar 12 hingga 18 orang yang belum memiliki kekebalan.

Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa sekitar 90 persen orang yang tidak memiliki kekebalan terhadap virus campak berpotensi tertular jika terpapar. Oleh karena itu, cakupan imunisasi yang tinggi menjadi faktor utama dalam mencegah penyebaran penyakit ini. Ketika jumlah orang yang telah divaksin menurun, maka jumlah individu yang rentan akan meningkat. Hal inilah yang kemudian membuat virus lebih mudah menyebar di dalam komunitas.

Aisyah menjelaskan bahwa kekebalan kelompok atau herd immunity dapat tercapai apabila sebagian besar masyarakat sudah memiliki kekebalan terhadap virus campak. Kekebalan ini dapat diperoleh melalui vaksinasi maupun dari infeksi sebelumnya. Untuk penyakit campak, herd immunity baru dapat terbentuk jika lebih dari 94 persen masyarakat memiliki kekebalan. Sementara itu, target cakupan imunisasi yang ditetapkan pemerintah minimal mencapai 95 persen.

Jika cakupan imunisasi berada di bawah angka tersebut, maka risiko penyebaran campak akan semakin besar. Ketika virus masuk ke komunitas dengan banyak orang yang belum memiliki kekebalan, wabah dapat terjadi dengan lebih cepat. Kondisi ini membuat kelompok rentan seperti bayi dan anak-anak menjadi lebih berisiko tertular. Oleh sebab itu, menjaga cakupan imunisasi tetap tinggi menjadi langkah penting dalam pencegahan.

Campak juga tidak dapat dianggap sebagai penyakit ringan. Virus ini biasanya masuk ke dalam tubuh melalui saluran pernapasan dan kemudian berkembang biak sebelum menyebar ke berbagai organ. Respons sistem kekebalan tubuh terhadap infeksi tersebut kemudian menimbulkan gejala khas berupa ruam pada kulit. Selain ruam, penderita juga dapat mengalami demam tinggi, batuk, dan mata merah.

Pada beberapa kasus, campak dapat menimbulkan komplikasi serius. Kelompok yang paling berisiko adalah bayi, anak dengan kondisi gizi buruk, serta individu dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah. Komplikasi yang dapat terjadi antara lain radang paru atau pneumonia serta radang otak atau ensefalitis. Bahkan dalam kondisi tertentu, infeksi campak dapat menyebabkan kematian.

Untuk mencegah penyebaran penyakit ini, vaksinasi dinilai sebagai langkah perlindungan yang paling efektif. Vaksin campak menggunakan virus hidup yang telah dilemahkan sehingga mampu melatih sistem imun tubuh mengenali virus tanpa menimbulkan penyakit. Setelah vaksin diberikan, tubuh akan membentuk antibodi spesifik serta memori imun jangka panjang. Dengan cara ini, tubuh dapat merespons lebih cepat jika suatu saat terpapar virus campak.

Bagi anak yang belum atau terlambat mendapatkan imunisasi, vaksin tetap dapat diberikan melalui program imunisasi kejar. Anak yang belum divaksin menjadi kelompok yang paling rentan tertular campak. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk memastikan anak mendapatkan imunisasi campak secara lengkap sesuai jadwal. Selain itu, masyarakat juga perlu mengenali gejala awal campak dan mengisolasi penderita agar tidak menularkan virus kepada orang lain.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....