Bahaya "Doomscrolling" Bagi Kesehatan Mental

  • 09 Mar 2026 11:24 WIB
  •  Ambon

RRI.CO.ID, Ambon - Kebiasaan menggulir layar ponsel tanpa henti untuk membaca berita buruk, atau yang dikenal sebagai doomscrolling, telah menjadi fenomena digital yang mengkhawatirkan. Banyak orang merasa terjebak dalam siklus informasi negatif, mulai dari bencana alam hingga konflik politik, tanpa menyadari dampaknya pada psikis. Perilaku ini sering kali dilakukan di malam hari, yang justru memperburuk kualitas istirahat.

Dra. Maya, Psikolog Klinis, menjelaskan bahwa otak manusia secara evolusioner dirancang untuk peka terhadap ancaman. "Secara insting, kita mencari informasi tentang bahaya agar merasa lebih siap. Namun, di era digital, aliran informasi negatif ini tidak pernah berhenti, sehingga otak kita terus-menerus berada dalam mode 'siaga satu' atau fight-or-flight," ungkapnya.

Paparan terus-menerus terhadap konten negatif memicu pelepasan hormon kortisol dan adrenalin secara berlebihan. Akibatnya, seseorang bisa mengalami kecemasan kronis, kesulitan fokus, hingga gangguan tidur. Dra. Maya menekankan bahwa doomscrolling tidak memberikan solusi atas masalah yang dibaca, melainkan hanya menguras energi emosional pembacanya.

Selain dampak mental, aktivitas ini juga merusak produktivitas. Ketika otak dibombardir oleh tragedi dari seluruh dunia, kapasitas kognitif untuk menyelesaikan tugas harian akan menurun drastis. Kita menjadi lebih mudah marah dan kehilangan empati karena merasa kewalahan oleh beban informasi yang tidak mampu kita kendalikan secara langsung.

Untuk memutus rantai ini, Dra. Maya menyarankan teknik digital detox ringan. "Batasi konsumsi berita maksimal 30 menit sehari dan hindari membuka media sosial satu jam sebelum tidur. Gantilah konten negatif dengan hobi fisik atau bacaan yang inspiratif untuk menyeimbangkan kembali dopamin di otak kita," tutupnya dengan tegas.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....