GERD Ramai Dibicarakan, Dokter Tegaskan Bukan Penyebab Kematian

  • 31 Jan 2026 15:10 WIB
  •  Ambon

RRI.CO.ID, Ambon - Belakangan ini, gastroesophageal reflux disease atau GERD kembali menjadi perbincangan hangat di media sosial. Keluhan seperti dada terasa panas, jantung berdebar, hingga nyeri di ulu hati membuat banyak orang merasa khawatir. Kepanikan publik meningkat setelah beredar kabar wafatnya seorang figur publik yang disebut memiliki riwayat GERD. Tak sedikit warganet kemudian mengaitkan GERD dengan risiko kematian mendadak dan menyamakannya dengan serangan jantung.

Menanggapi hal tersebut, dokter spesialis penyakit dalam konsultan, dr. Andi Khomeini Takdir Haruni, Sp.PD, menegaskan bahwa GERD bukanlah penyebab kematian mendadak. Ia menyebutkan bahwa jika terjadi kondisi fatal, hampir pasti ada penyakit lain yang menyertai. “Perlu digarisbawahi, GERD tidak menyebabkan orang meninggal mendadak,” ujar dr. Andi dalam Siaran Sehat Kementerian Kesehatan RI, dikutip Kompas.com, Jumat (30/1/2026). Menurutnya, kesalahpahaman ini perlu diluruskan agar masyarakat tidak panik berlebihan.

GERD merupakan kondisi ketika asam lambung naik ke kerongkongan akibat melemahnya katup lambung atau lower esophageal sphincter. Asam lambung yang seharusnya berada di lambung kemudian mengiritasi dinding esofagus yang tidak tahan terhadap sifat asam. Akibatnya, penderita dapat merasakan sensasi panas di dada, nyeri ulu hati, rasa asam di mulut, hingga mual. Dr. Andi menjelaskan bahwa GERD bukan penyakit langka dan dialami oleh sekitar 10 persen penduduk Indonesia.

Salah satu penyebab GERD sering menimbulkan kepanikan adalah karena gejalanya mirip dengan serangan jantung. Namun, dr. Andi menekankan bahwa keduanya memiliki karakteristik yang berbeda. Nyeri pada GERD biasanya terasa seperti terbakar dan berkaitan dengan riwayat sakit maag. Sementara serangan jantung menimbulkan nyeri dada seperti ditekan atau diremas, berlangsung lebih lama, dan tidak membaik dengan obat lambung.

Menurut dr. Andi, sebagian besar kasus GERD berkaitan erat dengan faktor gaya hidup. Sekitar 80 hingga 90 persen penderita memiliki kebiasaan yang memicu naiknya asam lambung. Faktor tersebut antara lain kelebihan berat badan, merokok, konsumsi alkohol, serta pola makan tidak sehat. Tekanan berlebih di area perut akibat obesitas dapat melemahkan fungsi katup lambung dan memperparah gejala.

Selain faktor fisik, kondisi kesehatan mental juga berperan besar dalam munculnya GERD. Dr. Andi mengungkapkan bahwa sekitar 80 persen pasien GERD yang ia tangani mengalami gangguan kecemasan. Kecemasan dan stres dapat memicu peningkatan produksi asam lambung, sementara keluhan GERD juga dapat memperburuk kondisi psikologis. Hubungan ini dikenal sebagai brain–gut axis, yaitu keterkaitan antara otak, emosi, dan sistem pencernaan.

Dr. Andi menyarankan masyarakat untuk segera berkonsultasi ke dokter jika keluhan GERD tidak membaik atau semakin berat. Tanda bahaya seperti muntah darah dan buang air besar berwarna hitam tidak boleh diabaikan. Untuk pencegahan, ia menganjurkan menjaga berat badan ideal, menghindari rokok dan alkohol, serta tidak langsung berbaring setelah makan. “GERD itu bisa dicegah dan dikendalikan. Kuncinya ada pada gaya hidup,” tutupnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....