Sering Lemas Setelah Makan, Ini Penjelasan Ahli Gizi

  • 26 Jan 2026 20:17 WIB
  •  Ambon

RRI.CO.ID, Ambon - Pernah merasa tubuh justru lemas, mengantuk, dan sulit fokus setelah makan dalam porsi besar? Kondisi ini ternyata cukup sering dialami banyak orang dalam kehidupan sehari-hari. Menurut ahli gizi, rasa lemas setelah makan bukan semata karena kekenyangan. Penyebab utamanya justru berkaitan dengan kualitas asupan nutrisi yang tidak seimbang.

Kepala Instalasi Gizi RSAB Harapan Kita, Siti Dharma Azizah, S.ST, MKM, RD, menjelaskan bahwa banyak orang hanya mengejar rasa kenyang secara fisik. Pola makan tersebut umumnya tinggi karbohidrat dan lemak, namun minim protein dan serat. “Masalah utama kita saat ini adalah makan asal kenyang. Yang dikejar hanya karbohidrat dan lemak, tapi abai terhadap protein dan serat,” ujar Siti dalam talk show kesehatan bersama Kementerian Kesehatan RI, dikutip Kompas.com, Senin (26/1/2026).

Menurut Siti, konsumsi karbohidrat sederhana seperti mi instan tanpa lauk dan sayur memang dapat memberikan energi cepat. Namun energi tersebut juga cepat menurun sehingga tubuh kembali merasa lemas. Fluktuasi kadar gula darah inilah yang menyebabkan rasa kantuk dan sulit berkonsentrasi setelah makan. Kondisi ini sering kali dianggap sepele, padahal berdampak buruk jika terjadi terus-menerus.

Dalam jangka panjang, kebiasaan makan asal kenyang tanpa gizi seimbang dapat memicu berbagai masalah kesehatan serius. Kekurangan protein hewani dapat menyebabkan anemia gizi karena rendahnya asupan zat besi. Selain itu, metabolisme tubuh melambat akibat menyusutnya massa otot. Risiko penyakit tidak menular seperti obesitas, hipertensi, dan diabetes pun meningkat secara signifikan.

Sebagai solusi, Siti menyarankan masyarakat menerapkan panduan gizi seimbang “Isi Piringku”. Setengah piring diisi dengan sayur dan buah, dengan porsi sayur lebih banyak untuk menjaga rasa kenyang lebih lama. Setengah sisanya diisi karbohidrat dan lauk pauk berprotein dengan porsi seimbang. Ia juga menekankan pentingnya memanfaatkan pangan lokal seperti ikan, telur, tahu, dan tempe yang bergizi tinggi dan terjangkau.

Selain jenis makanan, kebiasaan minum juga berpengaruh terhadap penyerapan gizi. Siti mengungkapkan bahwa minum teh setelah makan berat dapat menghambat penyerapan zat besi. Akibatnya, kadar oksigen dalam darah menurun dan tubuh menjadi cepat lelah. Ia merekomendasikan air putih atau jus jeruk yang kaya vitamin C untuk membantu penyerapan zat besi secara optimal.

Mengatur porsi dan komposisi makanan, menurut Siti, bukan sekadar soal diet atau menjaga penampilan. Pola makan seimbang merupakan investasi jangka panjang untuk kesehatan di usia lanjut. Dengan asupan gizi yang baik sejak dini, fungsi organ dan hormon tubuh dapat terjaga dengan optimal. “Kita semua ingin menjadi lansia yang mandiri dan tetap aktif. Semua itu dimulai dari komitmen kita untuk memperhatikan apa yang ada di atas piring hari ini,” tutupnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....