Dari Soya, Remaja Ambon Belajar Menjaga Sesama

  • 21 Sep 2026 15:48 WIB
  •  Ambon

RRI.CO.ID, Ambon - Di Negeri (desa adat) Soya, pembinaan remaja tidak berhenti pada penyampaian materi di ruang kelas. Sejak 2010, Tim Aktivis Go to School telah mendatangi sekolah-sekolah di Kota Ambon untuk membuka ruang edukasi tentang narkoba, HIV/AIDS, kesehatan reproduksi, pernikahan usia dini dan berbagai persoalan yang dihadapi remaja.

Gerakan itu kemudian berkembang menjadi pembinaan yang lebih terarah melalui Pusat Informasi dan Konseling Remaja atau PIK-R Sirimau Negeri Soya. Remaja tidak hanya ditempatkan sebagai penerima informasi, tetapi didorong untuk belajar, berdiskusi dan kemudian berbagi pengetahuan dengan teman sebayanya.

Kegiatan Jambore Kreativitas 2026

Gerakan Itu Dimulai dari Sekolah

Pembina sekaligus pengelola utama PIK-R Sirimau Negeri Soya, Joan F. Pesulima, mengatakan gerakan tersebut awalnya berjalan dengan dukungan berbagai pihak, termasuk Tim Aktivis Go to School, Forum GenRe dan BKKBN. Pemerintah Negeri Soya kemudian ikut memfasilitasi keberlanjutan kegiatan pembinaan bagi remaja di wilayah tersebut.

Dari proses itu, PIK-R Sirimau mulai membangun kader pendidik dan konselor sebaya. Mereka mendapat pembekalan agar mampu menyampaikan informasi sekaligus menjadi tempat awal bagi teman-teman seusianya untuk berbicara mengenai persoalan yang dihadapi.

Kini, gerakan tersebut memasuki tahap pengembangan berikutnya melalui Jambore Ajang Kreativitas 2026. Kegiatan yang berlangsung 17 hingga 19 September itu mempertemukan sekitar 80 peserta dari PIK-R, pemuda dan unsur AMGPM di lingkungan Negeri Soya.

Pembina sekaligus pengelola utama PIK-R Sirimau Negeri Soya, Joan F. Pesulima,

Ketika Remaja Menjadi Pendidik bagi Temannya

Jambore tidak sekadar dikemas sebagai pertemuan dan perlombaan. Di dalamnya terdapat proses pelatihan dan penilaian untuk memilih pendidik serta konselor sebaya yang nantinya akan menjadi bagian dari penggerak edukasi remaja di Negeri Soya.

Joan menjelaskan, konsep yang dikembangkan adalah sustainable generation, yakni membangun kader yang mampu melanjutkan kegiatan setelah program atau pendampingan berakhir. Para kader nantinya diharapkan dapat membantu memberikan sosialisasi kepada remaja di sekolah maupun lingkungan RT dan RW.

Di titik ini, peran konselor sebaya menjadi penting karena persoalan remaja sering kali lebih mudah dibicarakan dengan orang yang sebaya. Namun, kader tetap diarahkan memahami batas perannya dan bekerja bersama fasilitator maupun lembaga yang memiliki kapasitas dalam penanganan kasus.

Pembinaan juga diarahkan pada persiapan Duta GenRe PIK-R Sirimau Negeri Soya untuk mengikuti ajang tingkat Kota Ambon dan Provinsi Maluku. Selain itu, para peserta dibekali materi tentang keterampilan hidup, perencanaan masa depan, kesehatan reproduksi, pencegahan penyalahgunaan NAPZA dan kesiapan berkeluarga.

Bagi para peserta, proses tersebut bukan hanya tentang mendapatkan predikat atau mengikuti lomba. Ada tanggung jawab yang ikut tumbuh, yakni membawa pengetahuan yang diperoleh dari jambore kembali ke lingkungan tempat mereka tinggal dan berinteraksi.

Peserta Jambore Kreativitas 2026

Generasi yang Tak Berhenti di Jambore

Jambore tiga hari itu pada akhirnya bukan titik akhir. Justru dari kegiatan tersebut, PIK-R Sirimau Negeri Soya ingin memastikan kader yang telah dibentuk tetap memiliki ruang untuk berkembang dan mengambil peran di tengah komunitas.

Joan mengatakan kader yang telah melewati proses pembinaan nantinya diarahkan untuk mendukung kegiatan edukasi di sekolah dan lingkungan masyarakat. Ketika memasuki usia dewasa, mereka juga diproyeksikan tetap terhubung dengan pembinaan keluarga melalui kelompok Bina Keluarga Remaja atau BKR.

Rencana pengembangan berikutnya mencakup penguatan kemampuan kader dalam menerima rujukan dan pendampingan kasus sesuai kapasitasnya. PIK-R juga membuka peluang kegiatan edukasi bagi anak dan remaja di lembaga pemasyarakatan anak sebagai bagian dari perluasan jangkauan pembinaan.

Malam kreativitas seni peserta Jambore 2026

Dari sebuah gerakan yang bermula dengan mendatangi sekolah, kini terbentuk jejaring yang melibatkan remaja, pemerintah negeri, Forum GenRe, BKKBN, organisasi kepemudaan dan para fasilitator. Perjalanan itu menunjukkan bahwa pendidikan remaja tidak selalu harus dimulai dari program besar, tetapi dapat tumbuh dari komunitas yang mau membuka ruang bagi anak-anak mudanya.

Di Negeri Soya, ruang itu kini bernama PIK-R Sirimau. Jambore mungkin hanya berlangsung tiga hari, tetapi harapannya sederhana: setelah kegiatan berakhir, para remaja pulang membawa pengetahuan, keberanian untuk berbicara, dan kemauan untuk saling menjaga.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....