Rektor UM Maluku Jadi Panelis Bersama Mantan Mendag Bahas Masa Depan Asia Tenggara

  • 15 Agt 2026 16:10 WIB
  •  Ambon

RRI.CO.ID, Ambon - Rektor Universitas Muhammadiyah Maluku (UM Maluku), Prof. Faris Al-Fadhat, Ph.D., menjadi salah satu panelis dalam Masterclass and Roundtable Discussion bersama mantan Menteri Perdagangan RI Gita Wirjawan di Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Kamis 13 Agustus 2026.

Forum yang menjadi bagian dari rangkaian Dies Natalis ke-61 UAJY tersebut membahas masa depan dan posisi strategis Asia Tenggara di tengah perubahan geopolitik, ekonomi, teknologi, dan tata kelola global. Diskusi berangkat dari gagasan dalam buku terbaru Gita, What It Takes: Southeast Asia.

Dalam sesi masterclass, Gita mengajak peserta membaca masa depan Asia Tenggara dengan terlebih dahulu memahami perjalanan panjang kawasan. Ia mengulas dinamika sejarah dan geopolitik Asia Tenggara, mulai dari kedatangan Portugis di Malaka pada 1511 hingga perkembangan kekuatan regional dan global pada periode berikutnya.

Salah satu gagasan yang ditekankan Gita adalah pentingnya negara-negara Asia Tenggara menjaga equilibrium atau keseimbangan dalam berhubungan dengan kekuatan Barat dan Tiongkok. Di tengah kompetisi kekuatan besar yang semakin tajam, keseimbangan tersebut diperlukan agar kawasan memiliki ruang untuk memperkuat kapasitasnya sendiri dan bergerak keluar dari kondisi mediocrity menuju capaian yang lebih unggul.

Diskusi kemudian dilanjutkan melalui roundtable bersama enam akademisi lintas disiplin. Prof. Faris mendapat kesempatan memberikan perspektif Hubungan Internasional, khususnya mengenai posisi Asia Tenggara dalam dinamika global.

Menurut Faris, Asia Tenggara memang semakin strategis secara geografis dan ekonomi. Namun, posisi strategis tersebut belum sepenuhnya diikuti kemampuan kawasan untuk memengaruhi struktur dan arah perubahan politik global.

“Asia Tenggara tidak cukup hanya menjadi kawasan yang strategis atau arena pertemuan berbagai kekuatan besar. Tantangannya adalah bagaimana kawasan ini membangun agency dan kapasitas untuk ikut membentuk arah perubahan tatanan global,” kata Faris.

Ia menilai ASEAN telah memiliki modal penting berupa stabilitas kawasan dan ASEAN Centrality. Namun, perubahan relasi Amerika Serikat-Tiongkok, berkembangnya BRICS+, serta pergeseran ekonomi politik global menuntut ASEAN bergerak lebih jauh dari sekadar mempertahankan keseimbangan di antara kekuatan besar.

Faris juga menempatkan buku Gita dalam perkembangan pemikiran mengenai Asia Tenggara. Menurutnya, ada tiga buku yang menarik dibaca sebagai satu rangkaian pemikiran.

Pertama, buku The ASEAN Miracle karya Kishore Mahbubani dan Jeffery Sng membantu menjelaskan mengapa ASEAN berhasil, terutama dalam menjaga perdamaian di kawasan yang sangat beragam. Kedua buku Does ASEAN Matter? karya Marty Natalegawa, mantan menteri luar negeri RI, yang mempertanyakan apakah ASEAN akan tetap relevan di tengah perubahan dunia. Dan buku ketiga What It Takes: Southeast Asia karya Gita Wirjawan membawa diskusi menuju pertanyaan berikutnya: apa yang diperlukan Asia Tenggara untuk maju di masa depan?

“Menurut saya, di situlah buku Pak Gita mengisi ruang yang penting. Kita tidak lagi hanya membicarakan keberhasilan dan relevansi ASEAN, tetapi kapasitas apa yang harus dibangun agar Asia Tenggara dapat memainkan peran lebih besar dalam perubahan dunia,” ujarnya.

Selain Faris, roundtable menghadirkan Rektor UAJY Dr. G. Sri Nurhartanto, Prof. Gregoria Arum Yudarwati (Guru Besar UAJY), Dr. Norma Sari (Wakil Rektor UAD), Prof. Aloysius Gunadi Brata, dan Prof. Ir. A. Djoko Budiyanto (Guru Besar UAJY). Para panelis memperkaya pembahasan dari perspektif geopolitik, hukum internasional, komunikasi strategis dan keberlanjutan, ekonomi pembangunan, hingga teknologi digital dan kecerdasan buatan. Acara dipandu oleh Desideria Cempaka Wijaya Murti. Ph.D. Wakil Dekan FISIP UAJY.

Keterlibatan Rektor UM Maluku dalam forum tersebut menjadi bagian dari upaya UM Maluku memperluas jejaring akademik sekaligus menghadirkan perspektif dari Indonesia Timur dalam percakapan mengenai berbagai isu strategis nasional dan global.

Masterclass and Roundtable Discussion di Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY)

Menurut Faris, perguruan tinggi di Maluku memiliki ruang yang besar untuk semakin terhubung dengan perkembangan tersebut. Posisi Maluku yang secara historis telah menjadi bagian penting dari jaringan ekonomi dan politik global dapat menjadi modal untuk membangun tradisi akademik yang lebih terbuka dan berorientasi internasional.

“UM Maluku memang sedang bertumbuh sebagai sebuah universitas. Tetapi sejak awal kita ingin membangun tradisi bahwa kampus di Maluku juga harus hadir dalam percakapan-percakapan penting mengenai masa depan Indonesia, Asia Tenggara, dan dunia,” kata Faris.

Forum berlangsung secara dialogis dengan mempertemukan pengalaman Gita Wirjawan sebagai mantan pejabat publik dan pelaku usaha dengan perspektif akademisi lintas disiplin mengenai tantangan masa depan Asia Tenggara.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....