Pemanfaatan Teknologi Pengering Cengkeh Energi Surya di Kamarian, SBB, Maluku
- 31 Jul 2026 19:28 WIB
- Ambon
RRI.CO.ID, Ambon - Pemanfaatan teknologi tepat guna terus didorong untuk meningkatkan kesejahteraan petani di daerah penghasil rempah. Salah satunya dilakukan melalui penerapan teknologi pengering cengkeh berbasis energi matahari di Desa Kamarian, Kecamatan Kairatu, Kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku.
Program tersebut merupakan bagian dari kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat skema bottom-up Institut Teknologi Bandung (ITB). Kegiatan ini bertujuan memberikan solusi atas kendala yang selama ini dihadapi petani dalam proses pengeringan cengkeh yang belum merata sehingga memengaruhi kualitas hasil panen.
Tim pengabdian dipimpin Prof. Ari Widyanti, Ph.D., dari Fakultas Teknologi Industri (FTI) ITB bersama Intan Taufik, Ph.D., dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) ITB. Kegiatan ini turut melibatkan akademisi Universitas Pattimura Ambon, yakni Prof. Dr. Wilma Latuny, Ph.D., dari Teknik Industri Fakultas Teknik, David Tuhurima, S.Pd., M.Pd., dari FKIP Pendidikan Fisika, serta Victor Lawalata, S.T., M.T., dari Teknik Industri Fakultas Teknik.
Sebanyak tujuh unit pengering cengkeh berbasis energi matahari diserahkan kepada masyarakat Desa Kamarian. Enam unit ditempatkan di masing-masing dusun, sementara satu unit lainnya diberikan kepada pemerintah desa sebagai sarana bersama yang dapat dimanfaatkan secara bergiliran atau menjadi contoh bagi warga yang ingin mengembangkan teknologi serupa secara mandiri.
Teknologi tersebut dirancang sederhana dengan biaya pembuatan yang relatif murah. Rangka pengering dapat menggunakan kayu atau bambu, sedangkan badan pengering memanfaatkan tripleks, seng, maupun kain bekas yang dicat hitam. Material yang perlu dibeli hanyalah plastik UV sehingga masyarakat dapat membuatnya sendiri menggunakan bahan yang tersedia di lingkungan sekitar.
Selain menyerahkan alat pengering, tim pengabdian juga memberikan alat pengukur kadar air untuk membantu petani memastikan kadar air cengkeh telah mencapai standar ideal sebelum dipasarkan. Dalam kegiatan sosialisasi, peserta juga memperoleh pelatihan mengenai diversifikasi produk, teknik pengemasan, hingga pemanfaatan sistem Resi Gudang sebagai alternatif penyimpanan hasil panen agar tidak bergantung pada tengkulak.
Kegiatan sosialisasi diikuti sekitar 30 peserta yang terdiri atas kepala desa, sekretaris desa, kepala dusun, dan para petani cengkeh. Melalui pelatihan tersebut diharapkan masyarakat mampu meningkatkan kualitas produk sekaligus memperluas peluang pemasaran hasil panen.
Ketua tim pengabdian, Prof. Ari Widyanti, mengatakan teknologi pengering berbasis energi matahari memberikan sejumlah manfaat bagi petani. Menurutnya, panas yang dihasilkan lebih merata sehingga kualitas cengkeh menjadi lebih baik, kadar air lebih seragam, dan produk terhindar dari kontaminasi debu selama proses pengeringan.
Ia menambahkan, penggunaan energi surya juga membuat proses pengeringan tidak lagi sepenuhnya bergantung pada cuaca serta mampu mengurangi biaya operasional karena tidak memerlukan bahan bakar maupun listrik konvensional. Dengan kualitas cengkeh yang lebih terjaga, nilai jual hasil panen diharapkan meningkat sehingga berdampak langsung pada pendapatan petani.
Selain manfaat ekonomi, kegiatan ini juga memberikan transfer pengetahuan mengenai teknologi tepat guna yang ramah lingkungan. Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat, inovasi tersebut diharapkan dapat menjadi model pengembangan teknologi sederhana yang mendukung peningkatan produktivitas dan kesejahteraan petani rempah di Maluku.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....