China Bersiap Luncurkan Internet 10G, Negara Lain Masih 5G dan 6G

  • 25 Apr 2025 13:15 WIB
  •  Ambon

KBRN, Ambon: Ketika sebagian besar negara di dunia, termasuk Indonesia, masih dalam tahap pengembangan dan perluasan jaringan 5G, China kembali membuat gebrakan dengan mengumumkan kesiapan mereka meluncurkan teknologi internet 10G.

Sebuah langkah yang sekali lagi menegaskan posisi Negeri Tirai Bambu sebagai salah satu pionir dalam inovasi dan infrastruktur digital global.

Menurut laporan yang dilansir dari South China Morning Post dan Global Times, China melalui perusahaan telekomunikasi raksasa seperti China Mobile dan Huawei telah sukses menguji coba jaringan 10G (10 Gigabit-per-second) dan berencana meluncurkannya secara komersial dalam waktu dekat.

Teknologi ini menjanjikan kecepatan akses data yang mencapai 10 kali lipat dari kecepatan maksimal 5G saat ini, dan dapat mengunduh film berukuran besar hanya dalam hitungan detik.

“Dengan kecepatan 10G, pengalaman internet akan mengalami lompatan besar. Ini membuka peluang untuk aplikasi real-time berbasis AI, augmented reality, metaverse, dan smart city level tinggi,” ujar Dr. Liang Hua, Ketua Huawei Technologies, dalam konferensi teknologi di Shenzhen.

Kontras dengan langkah China, banyak negara maju seperti Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa masih berada di tahap penyebaran 5G yang belum merata, terutama di wilayah pedesaan.

Bahkan teknologi 6G, yang digadang-gadang sebagai generasi berikutnya, masih dalam tahap awal riset dan pengembangan, dan diperkirakan baru akan benar-benar hadir secara komersial pada tahun 2030.

Indonesia pun tak ketinggalan dalam mengembangkan 5G, namun prosesnya masih berjalan lambat.

Saat ini, layanan 5G hanya tersedia di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Bandung, dan itupun belum tersebar luas. Kota-kota di wilayah Indonesia timur, seperti Ambon, bahkan belum mencicipi sama sekali kehadiran jaringan 5G.

Di kota Ambon, realita kecepatan internet masih jauh dari kata ideal. Jaringan 4G memang sudah menjangkau sebagian besar wilayah kota, namun kualitas sinyal yang naik-turun, kecepatan internet yang fluktuatif, dan harga paket data yang relatif tinggi menjadi keluhan utama masyarakat.

“Seringkali sinyal naik turun. Bahkan untuk sekadar upload video ke media sosial atau buka aplikasi meeting seperti Zoom, koneksi sering terputus,” ujar Daniel, pekerja lepas digital asal kawasan Karang Panjang.

Pemerintah daerah dan penyedia layanan telekomunikasi memang telah berupaya meningkatkan kualitas jaringan, namun belum ada kabar konkret tentang pengembangan 5G di Ambon dalam waktu dekat.

Sementara itu, jurang digital antara kota-kota besar dan wilayah timur Indonesia semakin tampak mencolok.

Teknologi internet 10G bukan hanya soal kecepatan, tapi juga tentang masa depan. Dari kendaraan tanpa pengemudi, rumah pintar, hingga dunia virtual yang sepenuhnya terkoneksi—semua bergantung pada infrastruktur jaringan super cepat dan stabil.

Negara yang terlebih dahulu menguasai teknologi ini akan mendapatkan keuntungan besar dalam hal ekonomi digital, keamanan siber, dan kekuatan geopolitik.

Bagi Indonesia, termasuk Ambon, perkembangan seperti ini seharusnya menjadi alarm sekaligus motivasi untuk mempercepat pembangunan infrastruktur digital.

Tanpa itu, ketimpangan digital bukan hanya akan menciptakan kesenjangan teknologi, tetapi juga memperlebar jurang ekonomi dan sosial antar wilayah.

Meski saat ini Ambon belum tersentuh 5G, harapan tetap ada. Pemerintah pusat telah menggulirkan berbagai program transformasi digital, termasuk pembangunan jaringan fiber optik dan satelit internet.

Yang dibutuhkan kini adalah percepatan implementasi, pemerataan kebijakan, dan keterlibatan aktif pemerintah daerah serta sektor swasta.

Di saat dunia menatap masa depan dengan internet 10G, pertanyaan bagi Indonesia, dan khususnya Ambon, adalah: akankah kita sekadar jadi penonton, atau turut bersiap jadi bagian dari revolusi digital berikutnya?

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....