Suka Duka Penyanyi Phaet Selanno Bangun Karier hingga Pemanfaatan AI

  • 28 Sep 2026 17:54 WIB
  •  Ambon

RRI.CO.ID, Ambon - Penyanyi asal Ambon yang kini berkarier di Jakarta, Phaet, menilai perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam industri musik memiliki sisi positif dan negatif. Menurut Phaet, AI dapat dimanfaatkan sebagai referensi dalam proses kreatif, terutama saat membuat lirik maupun konsep musik, namun tetap mengandalkan kemampuan dan kreativitas sendiri dalam menghasilkan karya.

Phaet mengatakan, dirinya tidak ingin sepenuhnya bergantung pada AI dalam menciptakan musik. Baginya, AI cukup digunakan untuk mencari referensi, sementara proses produksi dan pengembangan karya tetap dilakukan secara organik.

“Kalau beta, dari sisi positifnya, kita gampang mencari referensi. Misalkan kita bikin lirik, kita masukkan ke AI untuk menjadi referensi saja. Musiknya seperti apa, nanti beta produksi secara organik,” ujar Phaet.

Ia mengaku memahami kekhawatiran bahwa perkembangan AI dapat membuat sebagian orang lebih memilih karya yang dihasilkan melalui teknologi tersebut. Meski demikian, Phaetmemilih untuk tetap optimistis dan konsisten dalam berkarya.

Menurutnya, setiap orang telah memiliki rezeki dan kesempatan masing-masing. Karena itu, ia percaya konsistensi menjadi salah satu kunci untuk terus bertahan dan mendapatkan peluang di industri musik. “Selagi beta masih mampu dan otak masih mampu, beta bikin sendiri saja. AI jadikan sebagai referensi saja. Jadi harus yakin dan optimis,” katanya.

Phaetjuga menceritakan perjalanan kariernya dari Ambon hingga akhirnya memutuskan merantau ke Jakarta. Keputusan tersebut diambil ketika dirinya masih berstatus mahasiswa. Setelah kedua orang tuanya meninggal dunia, ia memutuskan mencoba peruntungan di Jakarta dengan modal keberanian dan bantuan teman.

Setibanya di Jakarta, Phaet sempat tinggal hampir satu tahun di tempat temannya. Ia mengaku menjalani berbagai pekerjaan dan aktivitas sebelum akhirnya serius menekuni dunia musik. Kesempatan mulai terbuka ketika ia bertemu seorang pemain keyboard yang tinggal di dekat tempat kosnya. Phaet kemudian meminta izin untuk ikut dan melihat aktivitas musisi tersebut tampil di berbagai tempat.

Dari pengalaman itu, Phaet mulai mengenal suasana pertunjukan musik di Jakarta. Ia mengamati bagaimana para musisi tampil di berbagai kafe dan tempat hiburan, sekaligus membangun keinginan untuk suatu saat dapat tampil di tempat yang sama.

Perjalanan tersebut akhirnya membawanya bergabung dengan sebuah band yang dibentuk oleh sejumlah musisi asal Ambon di Jakarta. Saat itu, Phaet masih berada di Ambon dan mendapat tawaran untuk bergabung.

Ia bahkan menjual sepeda motornya untuk mendapatkan biaya kembali ke Jakarta dan mengikuti proses latihan bersama band tersebut.

“Beta jual motor sampai Jakarta. Latihan langsung dapat job,” ungkapnya.

Job pertamanya bersama band diperoleh setelah menjalani latihan. Mereka tampil di sebuah kafe bernama Glass di kawasan Senopati, Jakarta, yang saat itu dikenal sebagai salah satu tempat hiburan bergengsi.

Sejak saat itu, Phaet mulai mendapatkan lebih banyak kesempatan tampil bersama band dan mengisi berbagai panggung musik di Jakarta.

Kemampuan bernyanyi yang dimilikinya sebenarnya telah diasah sejak masih berada di Ambon. Ia mengaku sudah terbiasa bermain keyboard sekaligus bernyanyi ketika mengikuti kegiatan di gereja maupun sekolah Minggu.

Pengalaman tersebut kemudian menjadi bekal ketika dirinya tidak hanya memainkan keyboard, tetapi juga dipercaya sebagai vokalis dalam perjalanan bermusiknya di Jakarta.

Hingga kini, Phaet masih aktif tampil bersama band maupun menjalankan proyek musik secara mandiri. Ia menyebut perjalanan bermusiknya di Jakarta telah berlangsung hampir satu dekade.

Selain tampil di berbagai tempat, Phaet juga mulai mendapat kesempatan untuk terlibat dalam proyek bersama musisi nasional. Salah satunya adalah kolaborasi yang direncanakan bersama Anang Hermansyah.

Pertemuan tersebut terjadi ketika Phaet dan band-nya tampil di sebuah kafe di kawasan Sudirman, Jakarta. Saat itu, Anang Hermansyah dan Ashanty datang dan menyaksikan penampilan mereka.

Anang kemudian disebut tertarik dengan penampilan Phaet dan rekan-rekannya serta meminta nomor kontak untuk membicarakan kemungkinan kerja sama.

Dari komunikasi tersebut, Phaet dan Anang kemudian mengerjakan proyek musik yang direncanakan terdiri dari tiga lagu. Ketiga lagu tersebut bahkan telah melalui proses rekaman, meski hingga kini proyek tersebut belum dirilis.

Phaet berharap perjalanan yang telah dilaluinya dari Ambon hingga Jakarta dapat menjadi motivasi untuk terus berkarya dan membuka lebih banyak peluang di industri musik. Ia juga memilih untuk tetap konsisten mengembangkan kemampuan bermusik dengan memanfaatkan teknologi, termasuk AI, secara bijak.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....