Toy Story 5, ketika Mainan Melawan Era Digital
- 18 Jun 2026 20:13 WIB
- Ambon
RRI.CO.ID, Ambon - Film animasi Toy Story 5 menjadi salah satu film keluarga yang paling dinantikan tahun 2026. Film produksi Disney dan Pixar ini kembali membawa karakter ikonik seperti Woody, Buzz Lightyear, Jessie, dan para penghuni kamar Bonnie ke layar lebar. Disutradarai oleh Andrew Stanton dan Kenna Harris, film ini dijadwalkan tayang di bioskop pada 19 Juni 2026. Tom Hanks kembali mengisi suara Woody, Tim Allen sebagai Buzz Lightyear, dan Joan Cusack sebagai Jessie. dilansir dari Pixar Animation Studios
Kali ini, cerita Toy Story 5 menghadirkan konflik yang berbeda. Setelah Woody meninggalkan Bonnie untuk membantu mainan-mainan lain menemukan rumah baru, Jessie mengambil peran sebagai pemimpin mainan di kamar Bonnie. Masalah muncul ketika Bonnie mulai tertarik dengan perangkat teknologi baru bernama Lilypad, sebuah tablet pintar yang perlahan menggantikan peran mainan tradisional dalam dunia bermainnya.
Menariknya, film ini tidak hanya membahas pertarungan antara mainan dan teknologi, tetapi juga menghadirkan sudut pandang yang jarang dibahas: rasa takut kehilangan fungsi dan makna. Jika film-film sebelumnya banyak membahas tentang rasa takut ditinggalkan oleh pemiliknya, Toy Story 5 membawa pertanyaan baru: bagaimana jika sesuatu yang kita cintai tidak lagi dibutuhkan karena zaman berubah? Konflik para mainan terasa seperti gambaran banyak orang yang harus beradaptasi ketika dunia bergerak semakin cepat.
Karakter Jessie menjadi pusat emosi dalam film ini. Ia bukan hanya berjuang mempertahankan posisi mainan di hati Bonnie, tetapi juga menghadapi keraguan sebagai pemimpin baru setelah kepergian Woody. Hal ini membuat Toy Story 5 terasa lebih dewasa karena berbicara tentang tanggung jawab, perubahan peran, dan proses menerima bahwa tidak semua hal bisa tetap sama selamanya.
Dari sisi visual, Pixar tetap mempertahankan kualitas animasi yang detail dengan dunia mainan yang terasa hidup. Namun, daya tarik terbesar film ini bukan hanya pada teknologi animasinya, melainkan bagaimana benda sederhana seperti mainan bisa menjadi simbol hubungan, kenangan, dan masa kecil yang perlahan berubah.
Fadilla Atamimi, penonton yang menyaksikan Toy Story 5 memberikan respons beragam. Sebagian merasa film ini berhasil membawa nostalgia: “Karakter lama tetap punya chemistry yang kuat. Rasanya seperti kembali bertemu teman masa kecil, tapi dengan cerita yang lebih sesuai zaman sekarang.” Ujar Fadilla Atamimi. Ada juga penonton yang menyukai tema teknologi karena dianggap dekat dengan kehidupan anak-anak saat ini.
Namun, beberapa penonton dewasa menilai emosinya tidak sekuat film sebelumnya. “Visualnya bagus dan lucu, tapi beberapa bagian terasa lebih seperti pesan tentang teknologi dibanding cerita yang sangat menyentuh seperti Toy Story 3,” ujar Vally Tanikwele penonton Toy Story 5. Ada juga yang merasa film ini lebih mudah dinikmati anak-anak karena konflik utamanya berkaitan dengan dunia bermain.
Secara keseluruhan, Toy Story 5 hadir bukan hanya sebagai nostalgia, tetapi sebagai refleksi tentang perubahan zaman. Film ini mengajak penonton melihat bahwa sesuatu yang lama tidak selalu harus hilang ketika sesuatu yang baru datang. Kadang, yang berubah bukan nilai sebuah benda, melainkan cara manusia melihat dan menghargainya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....