Jangan Salah Kaprah antara Staycation dan Healing

  • 24 Mei 2026 13:29 WIB
  •  Ambon

RRI.CO.ID, Ambon - Fenomena Staycation dan Healing semakin populer di kalangan masyarakat, terutama di perkotaan yang padat aktivitas. Namun, para ahli menilai bahwa konsep healing tidak bisa disamakan dengan sekadar liburan singkat atau menginap di hotel, melainkan harus disesuaikan dengan kebutuhan psikologis dan kondisi emosional masing-masing individu.

Psikolog klinis menjelaskan bahwa healing pada dasarnya adalah proses pemulihan diri dari tekanan mental, stres, atau kelelahan emosional. Proses ini tidak selalu harus dilakukan dengan bepergian, tetapi bisa juga melalui istirahat yang cukup, refleksi diri, hingga aktivitas sederhana yang memberi ketenangan.

Sementara itu, tren staycation yang berkembang di masyarakat sering kali lebih berfokus pada hiburan sesaat. Banyak orang memilih menginap di hotel atau penginapan untuk melepas penat tanpa benar-benar memahami kebutuhan emosional yang sedang mereka alami. Hal ini membuat sebagian orang merasa “tidak benar-benar pulih” setelah liburan singkat.

Menurut para praktisi kesehatan mental, penting bagi individu untuk mengenali tanda-tanda kelelahan mental sebelum memutuskan bentuk healing yang tepat. Misalnya, ada yang membutuhkan ketenangan total tanpa interaksi sosial, sementara yang lain justru lebih terbantu dengan aktivitas rekreatif bersama orang terdekat.

Di tengah tren tersebut, sejumlah TikTok dan media sosial lainnya juga ikut memengaruhi cara pandang masyarakat tentang healing. Konten-konten viral sering menggambarkan healing sebagai aktivitas jalan-jalan, kuliner, atau staycation mewah, yang kemudian diikuti banyak orang tanpa mempertimbangkan kebutuhan pribadi mereka.

Ahli kesehatan mental menegaskan bahwa healing yang efektif harus bersifat personal dan tidak bisa disamakan antarindividu. Pendekatan seperti mindfulness, journaling, olahraga ringan, hingga konseling profesional dapat menjadi alternatif yang lebih tepat sesuai kondisi masing-masing orang.

Pada akhirnya, para pakar mengingatkan bahwa Healing bukan sekadar tren gaya hidup, melainkan bagian dari upaya menjaga kesehatan mental secara berkelanjutan. Dengan memahami kebutuhan diri sendiri, seseorang dapat memilih cara pemulihan yang lebih tepat, sehingga tidak hanya merasa “liburan”, tetapi benar-benar pulih secara emosional.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....