“Bololeng”, Lagu Hip Hop yang Hidupkan Dialek Ambon dan Cerita Budaya Lokal
- 21 Apr 2026 19:11 WIB
- Ambon
RRI.CO.ID, Ambon - Lagu “Bololeng” karya musisi hip hop Ambon Grizzly Cluive, menjadi sorotan karena tidak hanya menghadirkan musik. Lagu tersebut juga mengangkat dialek Ambon dan memperkenalkan jajanan tradisional khas Maluku.
Dalam program Siniar Keker RRI Ambon bersama host Tio Nugroho, Grizzly menjelaskan bahwa lagu tersebut lahir pada tahun 2020 saat pandemi COVID-19, ketika aktivitas masyarakat terbatas dan banyak waktu dihabiskan di rumah.
Ia terinspirasi dari kebiasaan masyarakat Ambon yang rutin menikmati waktu sore dengan minum kopi atau teh bersama aneka kue tradisional.
“Ini semacam catatan digital, karena ke depan belum tentu jajanan-jajanan ini masih ada,” ujarnya.
Melalui lagu “Bololeng”, Grizzly menyebut berbagai makanan khas seperti pulut srikaya, nagasari, campada, sukun goreng, hingga pisang goreng. Ia juga menjelaskan bahwa istilah “bololeng” merupakan sebutan lama untuk roti goreng berisi kentang yang kini lebih dikenal masyarakat.
Menariknya, lagu ini menggunakan dialek Ambon secara penuh. Beberapa istilah lokal juga muncul dalam lirik, seperti “kancing tiga” yang berarti mengambil atau “menyikat” tiga buah sekaligus.
Menurutnya, pemilihan nama “bololeng” juga sengaja dibuat unik agar memancing rasa penasaran pendengar.
Saat pertama dirilis, lagu ini mendapat respons beragam dari masyarakat. Sebagian menganggap lagu tersebut unik karena hanya menyebutkan nama-nama makanan, namun tidak sedikit pula yang menilai karya ini sebagai bentuk dokumentasi budaya.
“Memang tujuannya untuk mencatat, supaya nanti kalau sudah jarang ditemukan, masih bisa dilihat,” katanya.
Selain mengangkat kuliner, Grizzly juga menyinggung bahwa sebagian besar jajanan dalam lagu tersebut masih bisa ditemukan di sejumlah lokasi di Ambon, seperti Batu Merah, Urmeseng, hingga kawasan sekitar Masjid Al-Fatah, terutama saat bulan Ramadan.
Dalam kesempatan itu, ia juga membagikan perjalanan kariernya di dunia musik hip hop yang dimulai sejak tahun 2010. Saat itu, musik hip hop mulai berkembang di Ambon, dipengaruhi tren global dan fenomena diss track antar komunitas yang menarik perhatian anak muda.
“Hampir setiap sekolah atau kompleks punya grup hip hop waktu itu,” ujarnya.
Ia kemudian aktif dalam berbagai grup sebelum akhirnya membentuk kolektif Getoside pada tahun 2018 bersama beberapa komunitas hip hop lainnya. Meski telah lama berkarya, Grizly baru mulai serius menjadikan musik sebagai profesi pada tahun 2022.
Hingga kini, ia telah menghasilkan puluhan karya dan mulai mengembangkan warna musik baru seperti disco rap dan alternative rap, terinspirasi dari musisi internasional.
Grizzly menilai, hip hop tidak hanya menjadi media ekspresi, tetapi juga membuka berbagai peluang bagi anak muda, mulai dari menjadi musisi, audio engineer, hingga videografer.
“Hip hop mungkin tidak langsung kasih uang, tapi hip hop kasih jalan,” katanya.
Namun demikian, ia juga menyoroti minimnya regenerasi musisi hip hop di Ambon saat ini. Menurutnya, tantangan terbesar bukan lagi akses informasi, melainkan kemauan untuk memulai.
Melalui karya seperti “Bololeng”, ia berharap generasi muda dapat terus berkarya sekaligus melestarikan budaya lokal, baik melalui musik maupun kreativitas lainnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....