Esok tanpa Ibu, ketika AI Sentuh Keluarga

  • 16 Feb 2026 08:58 WIB
  •  Ambon

RRI.CO.ID, Ambon - Industri perfilman Indonesia terus menunjukkan tajinya di awal tahun 2026. Sejumlah film berkualitas masih menghiasi layar bioskop Tanah Air, termasuk di Kota Ambon. Salah satu yang masih bertahan di jaringan ACC Passo adalah film fiksi ilmiah berbalut drama keluarga, Esok Tanpa Ibu.

Tayang perdana sejak 22 Januari 2026, film ini menghadirkan kisah yang tak biasa. Ia memadukan duka mendalam sebuah keluarga dengan perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI) yang kini semakin dekat dengan kehidupan manusia.

Esok Tanpa Ibu mencoba menjawab pertanyaan yang terasa relevan di era digital: apa yang terjadi ketika kehilangan bertemu dengan teknologi yang berusaha menggantikan peran orang terkasih?

Dalam film ini, sosok Ibu bernama Laras—dan versi AI-nya—diperankan oleh Dian Sastrowardoyo. Penampilannya menjadi daya tarik tersendiri karena ia tidak hanya tampil sebagai aktris utama, tetapi juga duduk di kursi produser.

Perannya menghadirkan dua dimensi emosional: sosok ibu yang hangat dan representasi teknologi yang mencoba meniru kehangatan tersebut.

Cerita berpusat pada keluarga kecil yang diperankan oleh Ali Fikry sebagai Rama, Ringgo Agus Rahman sebagai Hendri (ayah), serta Aisha Nurra Datau sebagai Zyla. Melalui sudut pandang generasi muda, film ini membedah relasi keluarga di tengah kemajuan teknologi yang kian pesat.

AI yang selama ini dikenal sebagai asisten pekerjaan, dalam film ini dihadirkan sebagai “pengganti” peran emosional—sesuatu yang memicu konflik batin dan pertanyaan moral.

Berbeda dari film drama keluarga pada umumnya,

Esok Tanpa Ibu merepresentasikan fenomena AI yang kini marak digunakan, namun tetap menempatkan sisi kemanusiaan sebagai pusat cerita. Sentuhan fiksi ilmiah tidak terasa berat, justru menjadi medium refleksi tentang batas antara teknologi dan perasaan.

Andi, salah satu penonton yang ditemui usai pemutaran film pada Minggu, 15 Februari 2026, mengaku tersentuh dengan pesan yang disampaikan.

“Filmnya ringan namun sarat makna. Kita jadi sadar bahwa AI memang membantu, tapi tidak bisa menggantikan peran manusia yang bekerja dengan hati,” ujarnya.

Esok Tanpa Ibu bukan sekadar tontonan, melainkan ruang perenungan tentang masa depan relasi manusia dan teknologi. Di tengah dunia yang semakin canggih, film ini mengingatkan bahwa secanggih apa pun kecerdasan buatan, kehangatan seorang ibu tetap tak tergantikan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....