Novel Baru Lommie Ephing Angkat Tragedi 1998
- 14 Jan 2026 08:08 WIB
- Ambon
KBRN, Ambon: Penulis asal Maluku, Lommie Ephing resmi merilis novel terbarunya berjudul Namia Belum Pulang pada 5 Januari 2026 melalui PenerbitKita. Novel ini mengangkat tragedi kelam 1998 dengan pendekatan berbeda, yakni melalui sudut pandang anak-anak.
Dalam wawancara pada Selasa (13/1/2026), Lommie menjelaskan bahwa Namia Belum Pulangmerupakan novel slice of life yang berlatar sejarah kerusuhan Mei 1998. Berbeda dengan kebanyakan novel fiksi sejarah yang menampilkan tokoh dewasa dan narasi berat, novel ini justru memilih sudut pandang anak kecil.
“Jika kebanyakan novel fiksi sejarah di Indonesia mengangkat tema berat tragedi 98 dengan tokoh utama orang dewasa, di novel Namia Belum Pulang ini justru memilih fokus penceritanya dari sudut pandang berbeda. Yakni, melalui sudut pandang tokoh anak kecil,” kata Lommie.
Novel ini menuturkan kisah dua anak kelas 3 SD, Rano dan Namia, yang bertetangga dan menjalani dinamika pertemanan khas anak-anak. Cerita disampaikan secara bergantian melalui sudut pandang keduanya. Rano digambarkan sebagai anak laki-laki yang lamban dan kerap menjadi korban perundungan, sementara Namia adalah anak berkebutuhan khusus dari etnis Tionghoa.
Cerita dibuka dari sudut pandang Rano yang berdoa agar ayahnya tidak pernah pulang ke rumah. Latar sosial-ekonomi Indonesia yang memburuk akibat krisis moneter 1997–1998 kemudian menjadi titik balik cerita. Ketidakpuasan publik terhadap rezim Orde Baru, sentimen anti-Tionghoa, demonstrasi mahasiswa, hingga kerusuhan massal digambarkan secara ringan melalui kacamata anak-anak.
“Semua gambaran kekacauan ini dipotret secara ringan lewat kacamata anak kecil. Termasuk perburuan serta penangkapan sejumlah aktivis di masa itu,” ujar Lommie.
Menurutnya, inspirasi cerita ini muncul dari proses riset yang dilakukan dengan mengumpulkan berbagai artikel dan berita tentang tragedi 1998. Ia menemukan fakta bahwa anak-anak juga turut terdampak dan bahkan terlibat dalam situasi kerusuhan.
“Dari situlah kemudian ide menggunakan sudut pandang tokoh anak-anak ini terus berkembang di kepala saya,” tuturnya.
Lommie mengakui proses kreatif penulisan novel ini tidak mudah. Awalnya, naskah direncanakan untuk mengikuti lomba menulis bertema 1998, namun sempat terhenti karena tidak memiliki kerangka cerita yang jelas. Pengalamannya mengikuti bimbingan teknis penulisan cerita anak yang diadakan Balai Bahasa Provinsi Maluku menjadi bekal penting dalam menyelesaikan novel ini.
“Buat saya, menulis novel menggunakan sudut pandang anak kecil itu tergolong berat. Karena saya dituntut untuk memilah dan memilih diksi yang dirasa familiar untuk anak kecil saja,” katanya.
Proses penyuntingan di penerbit juga memerlukan penyesuaian, terutama pada bagian-bagian yang dinilai sensitif. Meski demikian, Lommie bersyukur novel ini akhirnya dapat terbit dan menjangkau pembaca yang lebih luas.
Ia berharap Namia Belum Pulang dapat menjadi medium edukasi sejarah bagi generasi muda yang lahir setelah 1998.
“Harapan saya, semoga lewat novel ini, anak muda yang kebetulan lahir setelah tahun 1998 bisa tahu soal tragedi 98. Usaha untuk menolak lupa, serta menumbuhkan rasa empati kepada orang-orang yang terdampak oleh situasi kerusuhan di masa itu,” pungkasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....