Sumpah Batu: Musik, Mitos, dan Magis Aboru

  • 27 Agt 2025 19:42 WIB
  •  Ambon

KBRN, Ambon: Sebuah pertunjukan musik lintas media bertajuk Sumpah Batu mengguncang Taman Budaya Provinsi Maluku hari ini, Rabu, 27 Agustus 2025, menyatukan mitos, seni, dan sejarah dalam satu panggung yang memukau.

Terinspirasi dari legenda Sumpah Batu di Negeri Aboru, Pulau Haruku, Maluku Tengah, konser ini bukan sekadar hiburan—ia adalah ritual budaya yang membangkitkan memori kolektif masyarakat Maluku.

Pentas musik ini diinisiasi oleh akademisi Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Ambon, Nelsano A. Latupeirissa, melibatkan kolaborasi kreatif bersama Rolando B. Alfons sebagai Asisten Art Director dan Victor Alfa Saapang sebagai Koreografer.

Inisiator sekaligus Art Director Nelsano Latupeirissa dengan latar belakang perangkat musik dari batu-batu yang mengeluarkan nada

Latupeirissa, yang juga bertindak sebagai Art Director, menyebut pertunjukan ini sebagai eksplorasi musik lintas media yang menyentuh berbagai dimensi seni.

“Musik bisa berbaur dengan media apapun. Kalau hanya musik, kadang abstrak. Tapi ketika dipadukan dengan teatrikal dan seni rupa, pesan budaya jadi lebih mudah dipahami,” ujar Latupeirissa.

Konsep Sumpah Batu menggali fenomena budaya batu di Maluku—dari batu sebagai alat mencuci, berburu, membangun rumah, hingga menjadi medium ekspresi seni.

Latupeirissa mengangkat kisah leluhur yang menyembah dewa matahari, membuat pakaian dari kulit kayu yang ditumbuk batu, dan bernyanyi dengan iringan batu sepulang berburu.

Lebih dalam lagi, konser ini menarasikan ritus perdamaian empat negeri bersaudara: Aboru, Hualoy, Boy, dan Kariu. Dalam sejarah, mereka bersatu kembali saat perang Amaika dan mengikat persekutuan melalui sumpah batu—sebuah simbol janji yang tak tergoyahkan.

Musisi Ambon Nicko Tulalessy mengaku terharu. “Batu yang dulu identik dengan kekerasan, kini menjadi alat yang membawa suka cita. Ini seni yang mengangkat harkat orang Maluku,” katanya.

Latupeirissa bersama sebagian kru pendukung pentas musik Sumpah Batu dan seninam Ambon

Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama, IAKN Ambon, Branckly Egbert Picanussa menambahkan bahwa batu sebagai nada pentatonik pernah dikembangkan oleh almarhum Chris Tamaela, dan kini dilanjutkan oleh Latupeirissa dengan batu khas Pulau Seram.

Ia menyebut konsep ini sebagai bentuk baru di Maluku, meski dalam musik dunia dikenal sebagai litofon—alat musik dari batu yang juga ditemukan di Vietnam dan Thailand, juga di satu daerah Amerika, tetapi ukuran batunya lebih besar.

"Kami berharap, kita juga bisa kembangkan dengan hasil-hasil alam yang lain, dan menjadi pertunjukan musik yang khas di Maluku," ucap Picanussa.

Ketua MPh Sinode GPM Pendeta Elifas Maspaitella ikut mengamati perangkat musik batu

Ketua MPH Sinode GPM Pendeta Elifas T. Maspaitella menegaskan makna sakral batu dalam budaya Maluku.

“Sumpah pela, sumpah gandong, semua diikat dengan batu. Itu adalah sumpah-sumpah yang mengingatkan bahwa batu memiliki nilai yang sangat sakral," kata Ketua Sinode mengingatkan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....