Doa Imam Tuni Mujarab, Awal Mula Pukul Sapu Lahir di Mamala
- 17 Apr 2024 20:23 WIB
- Ambon
KBRN, Ambon: Masyarakat Negeri Mamala, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah (Malteng), baru saja melangsungkan atraksi budaya Baku Pukul Manyapu atau Pukul Sapu, Rabu (17/4/2024) sore.
Atraksi budaya yang dilaksanakan setiap lebaran 7 Syawal atau 7 hari setelah lebaran Idul Fitri itu digelar tepat di depan Masjid Al-Muhibbin negeri setempat.
Dalam atraksi ini, puluhan orang saling melukai badan menggunakan sapu lidi yang diambil dari serat pohon enau.
Caranya, dua orang saling berhadapan lalu berbalas mencambuk badan menggunakan lidi tersebut. Warga Mamala menyebutnya Ukuwala Mahiate atau pukul sapu lidi.

Tidak ada mantra dalam atraksi ini. Setiap peserta akan merasakan sakit yang perih ketika sayatan lidi mengena dan merobek kulit badan mereka.
Lantas, darimana tradisi ini ada dan sampai sekarang masih terus dilestarikan warga Mamala? salah satu tokoh agama Negeri Mamala, Saidi Idris Mony mengatakan, atraksi pukul sapu di Mamala sudah dilakukan sekitar tahun 1600-an.
Kala itu, penduduk Mamala yang awalnya tinggal di gunung memilih turun dan membuat perkampungan di pesisir.
Agar bisa beribadah, warga memutuskan untuk membuat masjid di tengah-tengah perkampungan. Mereka lalu masuk hutan mengambil tiang kayu untuk pembuatan masjid.
Dari empat tiang kayu utama yang diambil, satu diantaranya patah karena proses diturunkan ke kampung dengan cara ditarik.
Kayu yang patah dibiarkan tetap berada ditengah hutan. Warga hanya turun sambil menarik kayu lainnya.
Sesampainya di kampung, pemuka agama Imam Tuni kemudian bermunajat dan meminta petunjuk Allah SWT.
Suatu malam, Imam Tuni bermimpi diperintahkan membacakan salah satu doa dalam ayat Al-quran ke minyak kelapa masak. Setelah didoakan, minyak kepala lalu dioleskan ke bagian letak kayu yang patah dan dibungkus dengan kain putih.
Mimpi tersebut kemudian diceritakan ke Upu Latu Liu (Raja) Mamala dan Patti Tiang Besi (Tukang Besar).
Mereka akhirnya bersepakat untuk mengikuti apa yang tergambar dalam mimpi Imam Tuni. Ternyata, doa Imam Tuni mujarab. Kayu yang awalnya patah, tersambung seperti semula.
Dari kejadian ini, Raja Mamala memerintahkan untuk satu dua pasangan lelaki agar saling pukul menggunakan sapu lidi.

Tujuannya, untuk melihat khasiat dari minyak doa Imam Tuni, apakah mampu mengobati jika dioleskan pada luka sabetan sapu lidi di badan manusia atau tidak.
"Dan itu mujarab. Badan yang robek dicambuk lidi, sembuh tanpa bekas satu dua hari setelah dioles minyak yang didoakan imam Tuni. Nah, dari sini lahir atraksi Ukuwala Mahiate di Mamala," kata Idris Moni kepada RRI
Idris Moni yang juga bergelar Imam Tuni itu menyatakan, yang bisa membuat minyak mamala atau Nyuelain Matehu hanyalah keturunan dari Imam Tuni yang bermarga Mony.
"Minyak ini tidak bisa diperjualbelikan. Kalo ada yang menjual, khasiatnya akan hilang," tandasnya
Sekadar tahu, atraksi budaya pukul sapu di Mamala hari ini berjalan aman, lancar dan sukses.
Hadir dalam kegiatan tersebut diantaranya Gubernur Maluku, Murad Ismail bersama istrinya Widya Pratiwi, Sekda Maluku Sadali Lee, Bupati Kabupaten Malteng Rakib Sahubawa serta Forkopimda Provinsi Maluku.

Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....