Kisah Inspirasi dari Banda: Datang sebagai Orang Asing, Pulang Bawa Saudara

  • 17 Agt 2026 11:44 WIB
  •  Ambon

RRI.CO.ID, Banda Neira — Ada perjalanan yang berakhir ketika seseorang pulang. Namun, bagi Wanda Syahputra, Co-Founder Kawan Alam Indonesia, perjalanan ke Banda Neira justru menjadi awal dari sebuah persaudaraan. Datang membawa agenda, tanggung jawab, kamera, dan misi membuat film dokumenter, Wanda dkk justru pulang dengan sesuatu yang lebih besar dari sekadar hasil pekerjaan: persahabatan.

Ungkapan Maluku, “Ale Rasa, Beta Rasa”, alias Engkau Rasa, Saya Juga Rasa, ia rasakan melalui keramahan masyarakat Banda yang memperlakukannya seperti keluarga. Wanda bersama Aurelia Arianti Vinton , Wakil Direktur Pengabdian Masyarakat Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Dunia kawasan Amerika - Eropa, hadir di Banda Naira dalam program pengabdian mereka.

Kolaborasi Pemuda untuk Banda Naira yang digagas PPI Dunia Kawasan Amerika–Eropa bersama Kawan Alam Indonesia. Mereka berbagi dengan masyarakat dan anak muda, menyusuri alam, mendaki Gunung Api Banda, melakukan aksi konservasi, serta memproduksi film dokumenter “Merawat Masa Depan di Ujung Jalur Rempah”.

Selama berada di Banda, Wanda menyadari keberhasilan perjalanan tidak hanya diukur dari selesainya program. Ada persahabatan yang tumbuh, salah satunya dengan IPTU Muslim Noh Renuf, Kapolsek Banda. Pertemuan yang awalnya sebatas koordinasi berkembang menjadi hubungan yang dibangun melalui kebersamaan, percakapan, perhatian, dan rasa saling percaya.

Bagi Wanda, pengalaman menyusuri jalan kecil dan gang sempit Banda, melihat Gunung Api, menyusuri laut, hingga bertemu masyarakat, pemuda, penjaga alam, dan aparat, meninggalkan kesan mendalam. Semua bermuara pada satu hal yang paling ia syukuri: mendapatkan saudara baru.

Di mata Wanda, Kepulauan Banda yang menjadi bagian dari wilayah pemerintahan Kabupaten Maluku Tengah, bukan hanya tentang rempah, sejarah, gunung, laut, dan jejak kolonial. Banda adalah tentang manusia. Pulau kecil yang mampu membuat orang-orang dari tempat berbeda merasa menjadi bagian dari keluarga.

Baginya, konservasi bukan sekadar menjaga gunung, laut, hutan, dan satwa, tetapi juga merawat kepedulian, persahabatan, kepercayaan, dan persaudaraan. Sebab, menjaga alam membutuhkan rasa kebersamaan.

Wanda datang membawa misi untuk bekerja, mengabdi, dan membuat film. Namun, ia pulang membawa cerita yang jauh lebih besar: saudara. Ia menyampaikan terima kasih kepada masyarakat Banda, Aurelia Arianti Vinton sebagai teman seperjalanan, serta IPTU Muslim Noh Renuf, yang menjadi bagian penting dari perjalanan tersebut.

Dari Banda, Wanda membawa satu pelajaran sederhana: orang boleh datang dari tempat yang berbeda, tetapi ketika hati telah dipertemukan, tidak ada lagi orang asing. “Ale rasa, beta rasa.”

Hari ini, Wanda mungkin telah meninggalkan Banda. Namun, sebagian hatinya akan selalu tertinggal di sana, bersama orang-orang yang membuatnya merasa pulang.

Catatan perjalanan Wanda Syahputra ,dari Banda Naira untuk Indonesia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....