Dari Daun Menjadi Harapan, Kisah Inspirasi Mahina Eco Print bagi Perempuan Pesisir

  • 27 Mei 2026 08:11 WIB
  •  Ambon

RRI.CO.ID, Ambon - Siapa sangka daun-daun yang selama ini dianggap biasa bahkan sering dianggap sampah, kini menjadi sumber penghasilan bagi perempuan pesisir di Negeri Laha, Kota Ambon. Melalui UMKM Mahina Eco Print, para ibu rumah tangga yang sebagian besar berasal dari keluarga nelayan berhasil mengubah bahan-bahan alami menjadi produk kerajinan bernilai ekonomi tinggi. Semua itu berkat pembetukan dan pembinaan dari Global Enviroment Facility (GFF6) Project CFI Indonesia (Coastal Fisheries Initiative). Ini merupakan program kerjasama kementerian Kelautan Perikanan (KKP) dan WWF.

Dalam obrolan budaya bersama Pro 4 RRI Ambon, yang dipandu presenter Liza Siahaan tersebut, para anggota Mahina Eco Print, Maliha The dan Sintawati menceritakan perjalanan mereka mengembangkan usaha berbasis teknik eco print yang kini semakin dikenal masyarakat.

Saat ini, kelompok tersebut menggunakan kain katun sebagai bahan utama produksi karena mudah diperoleh di Ambon dan cocok untuk proses pewarnaan alami. Dari hasil kreativitas mereka, berbagai produk telah berhasil dihasilkan, mulai dari kain motif eco print, tas jinjing (tote bag), topi, hingga berbagai produk fesyen lainnya.

"Selama tahun 2024 hingga 2025, kami sudah memproduksi sekitar 928 pieces berbagai produk eco print," ungkap Sintawati.

Pencapaian tersebut menunjukkan perkembangan yang cukup signifikan bagi kelompok usaha yang berawal dari pemberdayaan perempuan pesisir. Selain meningkatkan keterampilan, kegiatan ini juga memberikan tambahan pendapatan bagi keluarga para anggota.

Mengenal Teknik Eco Print

Masih banyak masyarakat yang belum mengenal apa itu eco print. Menurut para pelaku Mahina Eco Print, eco print merupakan teknik mencetak motif dan warna pada kain menggunakan bahan-bahan alami yang berasal dari lingkungan sekitar.

"Eco print adalah teknik mencetak motif dan warna menggunakan daun, batang, akar, dan berbagai bahan alami lainnya. Kain yang digunakan juga harus berbahan serat alam 100 persen," jelas mereka.

Berbeda dengan proses pencetakan biasa, eco print membutuhkan waktu dan ketelitian. Setelah motif daun ditempelkan pada kain, proses pewarnaan dan penguncian warna harus dilakukan secara bertahap. Kain kemudian didiamkan selama beberapa hari hingga warna dan motif benar-benar menyatu dengan serat kain.

"Prosesnya tidak bisa langsung jadi. Setelah dibuat, kain harus didiamkan dan difiksasi lagi. Kurang lebih sekitar seminggu baru hasilnya bisa digunakan," tambahnya.

Dari Pesisir untuk Dunia

Mahina Eco Print tidak hanya menghadirkan produk ramah lingkungan, tetapi juga menjadi simbol kebangkitan ekonomi perempuan pesisir. Melalui tangan-tangan kreatif para ibu nelayan, bahan alam yang melimpah di sekitar mereka kini memiliki nilai tambah yang tinggi.

Lebih dari sekadar kerajinan, eco print menjadi bukti bahwa kreativitas dapat tumbuh dari lingkungan sederhana dan membawa manfaat besar bagi masyarakat. Semangat inilah yang terus mendorong Mahina Eco Print untuk berkembang, memperkenalkan kekayaan alam Maluku, sekaligus membuka peluang ekonomi bagi perempuan pesisir.

Dengan memanfaatkan alam secara bijak dan berkelanjutan, Mahina Eco Print menunjukkan bahwa karya lokal mampu bersaing dan memiliki daya tarik tersendiri di pasar yang lebih luas. Sebuah kisah inspiratif tentang bagaimana daun-daun dari pesisir Maluku dapat berubah menjadi karya yang bernilai dan membawa harapan bagi banyak keluarga. Bahkan, karya-karya Mahina Eco Print telah beberapa kali dipromosikan dalam berbagai pameran, termasuk di tingkat internasional. Hal ini menjadi bukti bahwa produk berbasis kearifan lokal Maluku mampu bersaing dan mendapat apresiasi di pasar global.

Kehadiran Mahina Eco Print sekaligus menunjukkan bahwa pemberdayaan perempuan dapat dimulai dari hal-hal sederhana yang ada di sekitar. Dengan kreativitas, ketekunan, dan semangat kebersamaan, perempuan-perempuan pesisir Maluku berhasil membawa karya mereka melampaui batas wilayah dan memperkenalkan kekayaan alam daerah kepada dunia.

Bagi para anggota Mahina Eco Print, setiap lembar kain yang dihasilkan bukan sekadar produk kerajinan, melainkan simbol perjuangan, kemandirian, dan harapan bahwa perempuan pesisir juga mampu menjadi bagian dari penggerak ekonomi kreatif Indonesia.

"Dari pesisir ke mancanegara, kami ingin menunjukkan bahwa karya perempuan Maluku mampu berbicara kepada dunia," ujarnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....