Pasar Apung Hatukau, Solusi Mengembalikan Keindahan Teluk Ambon yang Tercemar
- 11 Apr 2026 20:54 WIB
- Ambon
RRI.CO.ID, Ambon - Pesisir Teluk Ambon di kawasan Batu Merah selama ini identik dengan pemandangan yang kontradiktif. Di satu sisi, ia adalah urat nadi ekonomi yang tak pernah tidur, namun di sisi lain, tumpukan lapak liar dan kemacetan panjang menjadi potret kusam yang sulit diurai.
Menjawab tantangan keterbatasan lahan daratan, Pemerintah Negeri Batu Merah, didukung Pemerintah Kota Ambon, akhirnya mulai mengalihkan pandangan ke arah laut dengan mencanangkan pembangunan Pasar Apung Hatukau sebagai bagian dari konsep Ambon Water Front City.

Langkah berani ini ditandai dengan dentuman tiang pancang pertama yang dilakukan oleh Wali Kota Ambon, Bodewin Wattimena, di pesisir pantai Ruko Batu Merah pada Rabu, 8 April 2026. Proyek strategis ini bukan sekadar membangun gedung, melainkan upaya visioner untuk menata ulang wajah pesisir kota yang selama ini terkesan semrawut.
Dengan mengusung konsep Water Front City, Pemerintah Negeri Batu Merah ingin menjadikan laut bukan lagi sebagai halaman belakang yang diabaikan, melainkan beranda depan yang estetik dan bernilai ekonomi tinggi. Kondisi Teluk Ambon memang tengah berada dalam titik yang memprihatinkan akibat perilaku membuang sampah ke laut yang telah berlangsung bertahun-tahun.

Selama ini, aktivitas pasar yang tumpah hingga ke trotoar dan lapak-lapak liar di atas air sering kali menjadikan perairan pesisir sebagai "kuburan sampah" raksasa. Wali Kota Bodewin optimis dengan adanya pasar apung yang terintegrasi dan modern, kebiasaan buruk tersebut dapat diputus lewat sistem pengelolaan limbah yang lebih tertata dan ramah lingkungan.
Pasar yang akan berdiri di atas perairan ini nantinya diproyeksikan mampu menampung sedikitnya 700 pedagang yang selama ini berdesakan di lorong-lorong sempit dan badan jalan. Keterbatasan lahan di daratan memang menjadi musuh utama penataan Pasar Batu Merah maupun Pasar Mardika selama bertahun-tahun.
Dengan memindahkan aktivitas ke atas air secara resmi dan teratur, kemacetan yang menjadi momok di kawasan tersebut diharapkan dapat terurai dan memberikan ruang napas baru bagi mobilitas warga kota.

"Pasar Batu Merah ini adalah salah satu pusat ekonomi masyarakat yang sangat vital. Karena itu, pemerintah berinisiatif melakukan penataan agar lebih representatif, tertib, dan mampu memberikan kenyamanan bagi pedagang maupun masyarakat,” ujar Bodewin di sela-sela ground breaking.
Ia menekankan pembangunan dengan konsep Water Front City tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga memperhatikan aspek keberlanjutan dan kesejahteraan masyarakat, khususnya pedagang kecil.
“Yang kita bangun bukan hanya pasar, tetapi juga sistem ekonomi yang lebih baik. Kita ingin para pedagang memiliki tempat yang layak, aman, dan bisa meningkatkan pendapatan mereka,” katanya, sembari memastikan pemerintah akan mengedepankan pendekatan humanis dalam proses pembangunan, termasuk dalam penataan pedagang agar tidak menimbulkan dampak sosial yang merugikan.

Raja Negeri Batu Merah, Ali Hatala, memaknai kehadiran pasar apung sebagai jawaban atas doa para pedagang. Baginya, wajah pusat pertokoan Batu Merah yang selama ini "lusuh" akibat kekumuhan akan kembali berseri setelah pedagang ditata.
Kios-kios yang representatif di atas laut diharapkan mampu menaikkan kelas para pedagang kecil tanpa harus kehilangan identitas mereka sebagai penggerak ekonomi kerakyatan di kota Manise.
Namun, pembangunan ini bukan tanpa tantangan sosial, mengingat banyaknya pedagang yang sudah bertahun-tahun menggantungkan hidup di lapak lama mereka.
Wali Kota Bodewin menegaskan Pemerintah berkomitmen memastikan transisi dari lapak liar menuju pasar apung modern ini berjalan lancar, sehingga denyut ekonomi masyarakat tetap hidup bahkan tumbuh lebih pesat dari sebelumnya. Endingnya, Pasar Apung Hatukau diharapkan menjadi ikon baru yang membanggakan bagi masyarakat Ambon.
Jika proyek ini rampung sesuai target tahun depan, pesisir Batu Merah tidak lagi hanya akan dikenang sebagai titik kemacetan, melainkan sebagai ruang publik yang cantik di mana ekonomi tumbuh berdampingan dengan kelestarian Teluk Ambon. Sebuah transformasi besar sedang dimulai, mengubah riuh rendah pasar menjadi harmoni pembangunan yang tertib, modern, dan berkelanjutan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....