Suara dari Inamosol: antara Janji dan Harapan

  • 25 Mar 2026 16:43 WIB
  •  Ambon

RRI.CO.ID, Ambon - Dari balik kabut pegunungan dan jalanan terjal yang selama puluhan tahun menjadi saksi keterisolasian, masyarakat Kecamatan Inamosol Kabupaten Seram Bagian Barat akhirnya menyampaikan suara yang lama terpendam. Bukan dalam bentuk tuntutan keras, melainkan melalui ungkapan terima kasih yang sarat makna, harapan, dan sekaligus pengingat kepada Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa.

Kunjungan Gubernur Hendrik Lewerissa ke wilayah yang selama ini dikenal sulit dijangkau itu menjadi momen langka, bahkan bersejarah bagi warga. Bukan sekadar kunjungan seremonial, melainkan perjalanan penuh risiko yang benar-benar dirasakan langsung oleh pemimpin daerah tersebut.

Perjalanan menuju Inamosol bukanlah perjalanan biasa. Jalan berlumpur, berbatu, sempit, dan berada di sisi jurang menjadi tantangan nyata. Namun justru di situlah letak makna kunjungan ini bagi warga. Bagi masyarakat, kehadiran gubernur bukan soal jabatan atau rombongan besar yang menyertai, melainkan keberanian untuk menempuh jalur yang sama dengan mereka setiap hari.

Warga juga menaruh perhatian pada sosok Istri Gubernur yang turut mendampingi perjalanan tersebut. Ketegangan yang dihadapi dalam diam dinilai sebagai bentuk keberanian yang tulus, sesuatu yang sangat dipahami oleh masyarakat yang telah puluhan tahun hidup dengan kondisi terisolir.

Setelah peresmian gereja yang telah berdiri selama 29 tahun dengan penuh perjuangan, agenda tak berhenti pada seremoni. Di ruang sederhana Pastori Gereja Rumberu, dialog yang sesungguhnya terjadi. Tokoh-tokoh masyarakat seperti Raja Rumberu, Musa Tibalya, bersama para penjabat desa dan kepala desa lainnya menyampaikan kondisi riil yang dihadapi masyarakat. Proposal yang selama ini menjadi simbol harapan akhirnya diserahkan langsung.

Yang membuat momen ini berbeda adalah sikap gubernur yang memilih untuk mendengar—tanpa interupsi, tanpa tergesa, tanpa jawaban normatif. Di tengah realitas birokrasi yang sering kali lebih banyak berbicara dari pada mendengar, sikap ini menjadi sesuatu yang langka. Bagi warga, didengar saja sudah menjadi kemenangan kecil di tengah perjuangan panjang.

Namun kunjungan itu tidak berhenti pada empati. Titik balik justru terjadi ketika Gubernur Maluku mengambil langkah yang jarang terjadi yakni keputusan langsung di lokasi. Setelah berdiskusi dengan dinas teknis dan pemerintah daerah setempat, disampaikan bahwa pembangunan jalan Inamosol akan direalisasikan melalui skema dana Instruksi Presiden (Inpres).

Keputusan tersebut sempat disambut dengan rasa tak percaya oleh warga. Namun cara penyampaian yang tegas, cepat, dan langsung membuat warga mulai yakin bahwa kali ini ada sesuatu yang berbeda.

Jalur Waimital, Kawatu, Rumberu, Rambatu, Manusa bukan sekadar jalan. Ia adalah simbol ketertinggalan yang telah berlangsung hampir 80 tahun. Kondisi jalan yang memprihatinkan berdampak langsung pada kehidupan masyarakat. Ibu hamil harus ditandu karena kendaraan tidak mampu melintas. Anak-anak berjalan kaki berjam-jam untuk bersekolah. Hasil pertanian yang melimpah kerap terbuang sia-sia karena biaya distribusi lebih mahal daripada nilai jual.

Selama ini, masyarakat merasa seperti “anak tiri” di wilayahnya sendiri. Namun kunjungan dan keputusan tersebut mulai mengubah cara pandang itu. Meski ucapan terima kasih telah disampaikan, warga tidak menutupi harapan yang kini mereka titipkan. Mereka berharap janji tersebut tidak berakhir sebagai formalitas, melainkan menjadi awal perubahan nyata.

Dengan gaya bahasa yang santai namun penuh makna, masyarakat menyampaikan satu pesan sederhana: jangan lupakan Inamosol. Bagi mereka, pembangunan tidak harus instan. Yang dibutuhkan adalah keberlanjutan dan keseriusan. Bagi masyarakat, momen ini akan menjadi cerita yang diwariskan kepada generasi berikutnya tentang seorang gubernur yang datang ketika jalan masih rusak, yang mendengar, dan yang berani mengambil keputusan.

Warga menantikan hari ketika jalan tersebut benar-benar terbangun, ketika perjalanan tidak lagi dipenuhi rasa takut, dan ketika akses menuju dunia luar menjadi lebih terbuka. Dan pada hari itu, nama Hendrik Lewerissa akan kembali diingat—bukan hanya sebagai pemimpin yang datang, tetapi sebagai pemimpin yang menepati janji.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....