Lika Liku Perjalanan Pendamping Koperasi Merah Putih di Elpaputih SBB

  • 24 Mar 2026 18:15 WIB
  •  Ambon

RRI.CO.ID, Ambon - Tak seperti kunjungan kerja pada umumnya yang ditempuh dengan kendaraan roda empat, perjalanan pendampingan Koperasi Merah Putih di Kecamatan Elpaputih, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), Maluku, justru harus ditempuh dengan berjalan kaki selama satu jam melewati jalan tanah, tanjakan, dan lintasan licin saat hujan. Bahkan, pada kunjungan perdana ke Desa Ahiolo, tim sempat tersesat karena minimnya penunjuk arah.

Namun, bagi Halila Patty, Asisten Bisnis (BA) Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Kecamatan Elpaputih dan Kecamatan Inamosol, perjalanan ekstrem ini bukan sekadar aktivitas fisik. Ia menilai itu adalah bentuk komitmen nyata untuk memastikan pemberdayaan ekonomi menjangkau desa-desa yang paling membutuhkan.

“Desa seperti Ahiolo justru paling membutuhkan pendampingan. Keterbatasan akses membuat mereka sering tertinggal dalam informasi, ekonomi, dan peluang. Kehadiran langsung ke desa adalah bentuk membangun kepercayaan, sesuatu yang tidak bisa digantikan oleh komunikasi jarak jauh,” ujar Halila saat ditemui di lokasi kunjungan, baru-baru ini.

Menurutnya, meski melelahkan, perjalanan tersebut memberikan ruang untuk melihat langsung kehidupan warga, merasakan realitas alam sekitar, dan akhirnya terbayar saat disambut hangat oleh masyarakat setempat.

Rapat Agenda Tahunan (RAT) Koperasi Desa Merah Putih Desa Ahiolo, Kecamatan Elpaputih, Kabupaten SBB.

Semangat Warga Modal Utama

Di Desa Ahiolo, Koperasi Merah Putih saat ini masih berada dalam tahap awal pembentukan. Fokus utama saat ini adalah pembentukan anggota KDKMP (Kelompok Desa Koperasi Merah Putih) serta pengukuran lahan untuk pembangunan gerai koperasi desa.

Halila mengakui, dari sisi dampak ekonomi, masyarakat belum merasakan hasil signifikan karena prosesnya masih sebatas perintisan. Namun, ia menyoroti semangat luar biasa yang justru menjadi fondasi utama.

“Belum ada dampak ekonomi yang besar karena masih dalam tahap awal pembentukan anggota. Tapi yang membuat saya optimis adalah semangat, kebersamaan, serta partisipasi masyarakat sangat luar biasa. Mereka antusias membangun koperasi desa merah putih. Ada harapan di wajah mereka untuk meningkatkan ekonomi secara kolektif,” jelasnya.

Ia menambahkan, meskipun belum terlihat dalam bentuk uang, perubahan pola pikir mulai terjadi. Warga mulai memahami konsep koperasi sebagai alat untuk mendorong pertumbuhan perekonomian desa, bukan sekadar tempat menabung atau meminjam uang.

Jalan Rusak Hambat Distribusi

Tantangan terbesar dalam pendampingan koperasi di wilayah ini bukan hanya terletak pada manajemen internal, melainkan pada infrastruktur. Tanpa akses jalan aspal, distribusi barang menjadi mahal dan tidak stabil. Akses pasar juga sangat terbatas, sehingga potensi hasil kebun sulit bersaing.

Halila memaparkan bahwa warga Desa Ahiolo biasanya mengangkut hasil hutan dan perkebunan seperti kopra, pisang, dan singkong menggunakan rakit untuk dipasarkan ke pasar di ibu kota kabupaten.

“Ini yang membuat pengembangan koperasi berjalan lebih lambat dibanding daerah pesisir yang aksesnya lebih baik. Sulit menghadirkan pelatihan rutin karena keterbatasan jaringan komunikasi dan transportasi. Tantangan ini saling berkaitan,” katanya.

Harapan & Peran Pemerintah Daerah

Untuk mengakselerasi perkembangan koperasi, Halila berharap pemerintah daerah mengambil peran lebih besar. Menurutnya, dukungan pemerintah sangat dibutuhkan dalam membangun infrastruktur dasar, baik jalan maupun komunikasi, memberikan bantuan modal, membuka akses pasar, serta mengintegrasikan program desa dengan kebijakan daerah.

“Tanpa dukungan pemerintah, upaya masyarakat dan pendamping akan berjalan lambat. Potensi desa sulit berkembang maksimal kalau akses saja belum memadai,” tegasnya.

Ia mencontohkan, jika akses jalan layak tersedia, biaya distribusi hasil tani bisa ditekan, pelatihan rutin dapat dilaksanakan, dan koperasi bisa beroperasi lebih stabil. Saat ini, koperasi masih butuh penguatan manajemen dan konsistensi operasional.

Meski dihadapkan pada tantangan infrastruktur, respons warga terhadap pendampingan koperasi sangat positif. Halila mengamati bahwa kehadiran tim pendamping disambut antusias karena masyarakat merasa diperhatikan. Partisipasi terlihat dari kehadiran warga dalam pertemuan, keterlibatan aktif dalam diskusi, hingga kesediaan mencoba sistem koperasi meskipun sebagian kecil masih ragu karena belum terbiasa.

“Semoga Koperasi Desa Ahiolo makin berkembang. Kita ingin semua bersinergi memajukan koperasi desa merah putih, bukan hanya di desa ini, tapi di seluruh Indonesia. Untuk kemajuan pertumbuhan perekonomian masyarakat,” ungkap Halila menutup perbincangan.

Ke depan, ia berharap kolaborasi antara pendamping, masyarakat, dan pemerintah daerah dapat berjalan seiring, sehingga koperasi benar-benar menjadi solusi nyata bagi perekonomian masyarakat pedalaman yang selama ini terbatas akses.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....