Munajat Imam Tuni, Mujarab yang Terlestari
- 29 Apr 2023 07:13 WIB
- Ambon
KBRN, Ambon: Jumat (28/4/2023) malam, cuaca bersahabat. Langit yang sebelumnya ditutup awan gelap, perlahan menghilang. Bintang mulai menunjukan rupanya, menghiasi semesta di malam yang indah.
Beberapa personil polisi dan TNI terlihat berdiri di sejumlah titik pada area Masjid Al-Muhibbin dan pelataran rumah raja (Lumbatu) Negeri Mamala, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah (Malteng).
Tak hanya personil dari dua institusi abdi negara itu, warga pun demikan, jumlahnya hampir ratusan orang. Suasana malam itu sangat ramai.
Jam menunjukan pukul 21:10 WIT. Dari arah Masjid Al-Muhibbin, berjalan rapi 10 orang tua, mengenakan baju koko berwarna putih, sarung, kopiah dengan sorban menggantung di pundak.
Mereka menuju rumah raja Mamala. Jaraknya tak jauh, hanya sekira 15 meter. Seketika, suasana menjadi lengang. Yang awalnya sedikit berisik, tetiba diam.
Dari barisan para orang tua, ada Patti Tiang Besi (tukang besar), Imam Tuni (pemuka agama/adat), dan sejumlah tukang masjid Al-Muhibbin Mamala lainnya.
Sementara Raja (Upu Latu Liu) Negeri Mamala, Ramli Malawat, hanya menunggu di dalam rumah raja. Raja mengenakan gamis putih dengan jubah berwarna hijau sebagai pelapisnya. Ia duduk di kursi yang sudah disediakan.
Di ruang utama rumah raja, sudah diletakkan sebuah kendi dibungkus kain putih lengkap dengan gayung tuanya. Tinggi kendi sekira lutut orang dewasa. Di dalamnya, berisi minyak kelapa yang baru dimasak.
Saidi idris Mony, yang bergelar sebagai Imam Tuni, yang duduk tepat di depan kendi. Dia (Imam Tuni) kemudian memasukan gayung ke dalam kendi, menggerakan tangan beberapa kali sambil membacakan doa atau ayat-ayat Alquran lalu ditiupkan ke dalam kendi.
Ternyata, itulah prosesi adat dalam pembuatan minyak tasala (Nyuelain Matehu). Prosesi ini yang selalu ditunggu-tunggu warga Mamala. Sebab, minyak inilah yang kemudian menjadi awal mula lahirnya tradisi pukul sapu (Ukuwala Mahiate) di Mamala.
Kepada RRI Ambon, Saidi Idris Mony (Imam Tuni) menjelaskan, doa yang dibacakan untuk pembuatan minyak tasala Mamala, merupakan jawaban Allah SWT atas munajat yang dimintakan Imam Tuni pendahulu mereka.
Dia mengisahkan, sekira tahun 1600-an, penduduk Mamala yang awalnya tinggal di gunung memilih turun dan membuat perkampungan di pesisir.
Agar bisa beribadah, warga memutuskan untuk membuat masjid di tengah-tengah perkampungan. Sepakatlah warga untuk mengambil tiang kayu di tengah hutan. Hanya saja, dari beberapa kayu yang diambil, satu diantaranya patah karena proses diturunkan ke kampung dengan cara ditarik.
Warga bingung untuk mencari pengganti tiang tersebut. Kayu yang patah diletakkan begitu saja dan warga melanjutkan perjalanan pulang. Sesampainya di kampung, Imam Tuni kemudian bermunajat dan meminta petunjuk Allah SWT.
Suatu malam, Imam Tuni bermimpi diperintahkan membacakan salah satu doa dalam ayat Alquran ke minyak kelapa masak. Setelah itu minyak yang sudah didoakan dioleskan ke bagian letak kayu yang patah dan dibungkus dengan kain putih.
Mimpi tersebut kemudian diceritakan ke Upu Latu Liu (Raja) dan Patti Tiang Besi (Tukang Besar). Mereka akhirnya bersepakat untuk mengikuti apa yang tergambar dalam mimpi Imam Tuni.
Ternyata, doa Imam Tuni mujarab. Kayu yang awalnya patah, tersambung seperti semula. Dari kejadian ini, Raja memerintahkan untuk satu dua pasangan lelaki saling pukul menggunakan sapu lidi.
Tujuannya, untuk melihat khasiat dari minyak doa imam Tuni, apakah mampu mengobati jika dioleskan pada luka sayatan lidi enau di badan manusia atau tidak.
"Dan itu berhasil. Luka sayatan lidi membaik dalam waktu cepat setelah dioles Nyuelain Matehu atau minyak tasala," sebutnya
Idris Mony mengaku, yang bisa membuat minyak tasala hanyalah dari keturunan Imam Tuni bermarga Mony. Minyak ini tidak bisa diperjualbelikan. Hanya dipakai untuk kepentingan luka, patah dan luka ringan lainnya.
"Kalau ada yang jual, khasiatnya bakal hilang. Dan ini yang kita jaga," ucapnya
Tokoh adat lainnya, Abdulah Malawat mengaku, tradisi pukul sapu lidi di Mamala merupakan bentuk repleksi masyarakat Mamala mengenang leluhur mereka dalam pembuatan Masjid Al-Muhibbin.
"Dari tiang yang patah, doa imam tuni dan akhirnya berlanjut untuk menyembuhkan patah dan luka di tubuh manusia. Ini tradisi yang sudah terlestari sejak dulu," tandas Mantan raja Mamala itu
Dikatakan, tradisi ini digelar setiap 7 Syawal atau 7 hari setelah lebaran Idul Fitri dikarenakan masyarakat Mamala pada umumnya setelah 1 syawal, melanjutkan puasa sunnah dua sampai enam syawal.
Puasa ini merujuk pada salah satu hadist riwayat Muslim yang mengatakan bahwa "Barang siapa yang berpuasa Ramadan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka baginya (pahala) puasa selama setahun penuh".
"Jadi leluhur kita melanjutkan dengan puasa enam hari di bulan syawal yang pahala puasanya ibarat setahun penuh. Makanya mereka bersuka ria di hari kemenangan, ungkapkan syukur kepada Allah SWT dengan menggelar tontonan pukul sapu lidi. Dan itu dilakukan sampai hari ini," pungkasnya
Sekedar tahu, acara pukul sapu lidi di Negeri Mamala, Kecamatan Leihitu, Malteng, akan digelar pada Sabtu (29/4/2023). Tradisi ini juga telah masuk agenda Pariwisata Provinsi Maluku.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....