Tiga Bahasa Maluku Punah, Balai Bahasa Konsisten Revitalisasi

  • 28 Nov 2025 19:21 WIB
  •  Ambon

KBRN, Ambon: Provinsi Maluku, yang dijuluki Negeri Raja-Raja, kini menghadapi krisis budaya yang mendalam. Kepala Balai Bahasa Provinsi Maluku, Kity Karenisa, S.S., M.M., mengonfirmasi kabar memilukan bahwa tiga bahasa daerah di Maluku telah resmi dinyatakan punah.

Kehilangan ini merupakan sepertiga dari total lima bahasa daerah di seluruh Indonesia yang telah hilang selamanya. Tiga identitas budaya yang kini tinggal sejarah dan memicu keprihatinan serius itu adalah Bahasa Kayeli (Kabupaten Buru), Bahasa Hoti (Kabupaten Maluku Tengah), dan Bahasa Piru (Kabupaten Seram Bagian Barat)

“Dari 113 bahasa daerah di Indonesia ada 5 Bahasa Daerah yang dinyatakan punah. Dan, 3 diantaranya bahasa daerah di Maluku,” kata Kity Karenisa kepada awak media di Kantor Balai Bahasa Provinsi Maluku, Nania, Jumat, 28 November 2025.

Keresahan Balai Bahasa tidak berhenti pada tiga bahasa yang sudah hilang. Balai Bahasa sangat khawatir ancaman serupa akan menghantui bahasa daerah lainnya, yang banyak di antaranya berada dalam status mengalami kemunduran, terancam punah, atau kritis. Balai Bahasa menilai perluasan survei vitalitas sangat penting dilakukan untuk memetakan risiko.

"Kami sebenarnya punya ketakutan, kalau bagian vitalitas ini lebih luas lagi. Apakah, baru tiga bahasa daerah yang sudah dinyatakan punah. Tapi bagian vitalitasnya, baru terbatas di tiga bahasa daerah ini (yang sudah punah)," katanya, menekankan bahwa kondisi di lapangan mungkin lebih genting dari data yang ada.

Kepala Balai Bahasa Provinsi Maluku, Kity Karenisa, S.S., M.M., dan staf menyampaikan keterangan pers kepada perwakilan media cetak, online dan elektronik (foto: AL)

Tanggung Jawab Kolektif

Menyikapi krisis ini, Balai Bahasa Provinsi Maluku telah mengambil langkah proaktif dengan menyampaikan keprihatinan ini kepada Pemerintah Daerah (Pemda). Kerja sama konkret sudah terjalin dengan Pemkab Maluku Tengah, sementara dorongan terus dilakukan agar Pemkab Seram Bagian Barat (SBB) turut berpartisipasi aktif.

Kity Karenisa menegaskan bahwa solusi utamanya ada pada pewarisan antargenerasi. "Kalau opa oma tidak cepat menurunkan bahasa daerah kepada kepada anaknya dan kepada cucunya, bahasa daerah itu dipastikan akan hilang," katanya.

Balai Bahasa menyatakan kesiapan mereka untuk bertindak sebagai konsultan ilmiah. Mereka memiliki metode dan cara untuk membantu meningkatkan kemampuan berbahasa daerah. Namun, ia kembali menekankan bahwa upaya penyelamatan ini harus menjadi gerakan masif dari semua elemen masyarakat.

"Tidak bisa hanya dilakukan oleh Balai Bahasa saja. Semua punya keinginan kuat harus berbahasa daerah," katanya. Ia berharap media cetak dan elektronik turut menyuarakan dan menyadarkan Pemda, keluarga, dan komunitas untuk giat kembali berbahasa daerah.

Pintu gerbang menuju arena Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) Provinsi Maluku Tahun 2025 di Nania didekor lebih menarik dan menarik perhatian warga yang melintas

FTBI 2025, dari Rumah Menuju Panggung Nasional

Di tengah kemunduran bahasa daerah Maluku, Balai Bahasa Provinsi Maluku menyelenggarakan Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) Provinsi Maluku Tahun 2025 yang menjadi puncak dari Program Revitalisasi Bahasa Daerah (RBD) tahun ini.

FTBI yang digelar dari 23 hingga 30 November 2025, dengan acara puncak pada Sabtu malam, 29 November 2025, di Gedung Pertunjukan Balai Bahasa Provinsi Maluku, mengusung tema yang kuat: “Dari Bibir Ibu ke Hati Anak, Bahasa Daerah Tumbuh di Rumah, Bersemi di Nusantara.”

Menurut Koordinator FTBI Maluku 2025, David Rici Ricardo, S.S., tema ini dipilih untuk menanamkan kembali gagasan bahwa kelestarian bahasa daerah berakar dari interaksi di rumah.

“Dari tutur lembut para ibu, benih kecintaan anak terhadap bahasa daerah mulai tumbuh, berkembang dan bersemi. Setiap kata yang diucapkan di rumah menjadi fondasi yang memperkaya identitas dan jati diri anak, sekaligus meneguhkan keterikatan mereka dengan akar budaya Nusantara,” kata David.

FTBI 2025 menjadi wadah bagi siswa SD dan SMP untuk menunjukkan capaian belajar mereka dalam Revitalisasi Bahasa Daerah melalui enam mata lomba: menulis cerita pendek, menyanyi nyanyian rakyat, lawakan tunggal (stand up comedy), berpidato, menulis dan membaca puisi, serta mendongeng.

FTBI Provinsi Maluku tahun ini berfokus pada penguatan enam bahasa daerah di empat kabupaten pelaksana, yakni Bahasa Hitu di Kabupaten Maluku Tengah, Bahasa Seran (Seram) dan Bahasa Elnama di Kabupaten Seram Bagian Timur, Bahasa Tarangan Barat dan Bahasa Manombai (Ganabai) di Kepulauan Aru, serta Bahasa Moa di Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD).

Konsep FTBI 2025 dibuat lebih menarik dan kolaboratif. Berbeda dari tahun sebelumnya, para pemenang tingkat kabupaten dikolaborasikan dalam satu pertunjukan drama epik berjudul “Negeri Bahasa”.

Pertunjukan ini memadukan tuturan enam bahasa daerah yang direvitalisasi, Bahasa Melayu Ambon, serta Bahasa Indonesia sebagai narasi pemersatu. Juga tidak hanya menyajikan seni, tetapi menjadi perayaan atas kekayaan dan keberagaman bahasa daerah di Negeri Raja-Raja.

Acara puncak FTBI turut dihadiri tokoh-tokoh penting, termasuk Drs. Imam Budi Utomo, M.Hum., Kepala Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra, serta perwakilan dari DPD RI, Ibu Ana Latuconsina. Kehadiran mereka menegaskan pengakuan dan dukungan pemerintah pusat terhadap upaya konservasi bahasa di Maluku.

Balai Bahasa Provinsi Maluku menyampaikan apresiasi tinggi kepada seluruh pihak, mulai dari kepala daerah, OPD, TP PKK, kepala sekolah, guru utama, dan siswa, atas kontribusi nyata dalam melestarikan bahasa daerah melalui program RBD ini.

Koleksi ribuan buku dan literatur yang dapat dibaca oleh publik di Perpustakaan Balai Bahasa Provinsi Maluku (foto: AL)

Konsistensi dan Data RBD

Program Revitalisasi Bahasa Daerah di Maluku telah dilaksanakan secara konsisten selama empat tahun. Pada tahun 2022, direvitalisasi tiga bahasa; tahun 2023 diperluas menjadi lima bahasa; dan pada tahun 2025 fokus pada enam bahasa baru dan berkelanjutan yang diimplementasikan melalui RBD Model C yang berbasis sekolah.

Program ini menargetkan total 113 sekolah (96 SD dan 17 SMP) pada tahun 2025. Implementasi RBD ini berjalan melalui serangkaian tahapan sistematis, yang dimulai sejak Juni 2025 dengan Rapat Koordinasi dan Diskusi Kelompok Terpumpun (DKT), dilanjutkan dengan Bimbingan Teknis Pengajar Utama pada Juli–Agustus, Pembelajaran Ekstrakurikuler di sekolah dari Agustus–Oktober, Pemantauan dan Evaluasi, hingga puncaknya Festival Tunas Bahasa Ibu di tingkat kabupaten dan provinsi.

Berdasarkan data Balai Bahasa Provinsi Maluku, dampak program ini sangat luas, yakni melibatkan 262 orang Pengajar Utama dan 954 Guru Terimbas. Secara keseluruhan, terdapat 5.112 siswa SD dan SMP sebagai sasaran utama pembelajaran, dengan perkiraan pengimbasan kepada 8.770 orang lainnya di lingkungan sosial siswa.

Momentum FTBI ini tidak hanya merayakan prestasi peserta, tetapi juga menegaskan pentingnya menjaga dan menghidupkan bahasa daerah sebagai bagian fundamental dari identitas budaya Maluku. Keberhasilan pelaksanaan Revitalisasi Bahasa Daerah di Maluku adalah hasil sinergi dan kolaborasi yang solid dari semua pihak yang terlibat.

Rekomendasi Berita