Revitalisasi Teluk Ambon Menuju Asta Cita Pangan Biru
- 09 Nov 2025 15:31 WIB
- Ambon
KBRN, Ambon: Pantai Wainitu, awal Oktober 2025, ketika terik matahari menyengat, dan perahu nelayan pulang melaut. Di kejauhan, Tanjung Benteng tampak berkilau. Keramba ikan milik salah satu perwira TNI berayun pelan diantara riak ombak. Kapal-kapal berlabuh tenang, dan perahu layar road race membuang sauh tak jauh dari bibir pantai.
Saat itu, air laut sedang pasang, sampah kiriman bertebaran di pesisir. Limbah minyak kapal membentuk lapisan hitam seperti noda, turut bergerak mengikuti arus. Di antara bau solar dan amis laut, Maku, nelayan lokal, bersama anaknya menepi setelah menjaring ikan. Perahu kecil mereka hanya berisi jaring basah dan jerigen air minum.
“Dulu banyak ikan di sini, tapi sejak pantai ini dijadikan objek wisata, ikan menjauh dari pesisir,” ujar Maku sambil mengurai jaring. “Beta (saya) tiap hari melaut, jadi tahu kondisi air. Kalau pasang, pantai penuh sampah kiriman, termasuk limbah kapal,” katanya.

Sampah dan limbah oil kiriman (foto: AL)
Ia menatap laut sebentar, lalu menurunkan suaranya, seolah berbisik. “Dulu ikan karang banyak. Sekarang sudah tidak ada. Sering dibore (diracun). Sekarang paling banyak ikan Lema dan Kawalinya saja".
Di Batumerah, tak jauh dari Wainitu, sekira 1,5 kilometer, cerita serupa datang dari Nasir, nelayan yang sudah berbulan-bulan tak lagi melaut. Perahu tempelnya menjadi penunggu muara, nyaris menjadi besi tua. Dia telah beralih profesi jadi tukang ojek.
“Dulu, mengail di pesisir dapat banyak ikan. Sekarang paling sering malah dapat sampah,” katanya lirih. “Ikan-ikan itu sudah bergeser ke teluk bagian luar. Katong (kita) harus berperahu ke sana, syukur-syukur dapat ikan. Kalau pulang kosong, rugi dobol-dobol karena BBM mahal," katanya enteng.
Kisah Maku dan Nasir adalah potret luka yang belum sembuh. Laut yang dulu memberi, kini mulai menagih. Dinas Lingkungan Hidup dan Persampahan Kota Ambon mencatat, sedikitnya 6 ton sampah per hari mengalir ke Teluk Ambon, sebagian besar berasal dari limbah rumah tangga dan pasar pesisir.
/h96uf7nvrfp9cx5.jpeg)
Keramba Ikan di sekitar Jembatan Merah Putih (foto: AL)
LIPI, kini BRIN, mencatat, penurunan kualitas air di teluk bagian dalam telah melewati ambang baku mutu pada parameter fosfat, amonia, dan bahan organik sejak 2017. Peneliti kelautan menyebut, kandungan oksigen terlarut di Teluk Ambon bagian dalam turun hingga di bawah 3 mg/L, menandakan kondisi perairan yang mulai kritis.
Pegiat lingkungan di Ambon, Said, bahkan berceloteh, “Teluk ini ibarat manusia yang sedang sakit, tapi masih hidup. Kalau dijaga dan dirawat, ia bisa pulih,". Dia berceloteh sambil menscroll layar ponselnya, seolah putus asa.
Krisis Ekologis yang Tak Terelakkan
Siang itu, 15 Oktober 2025, langit Ambon cerah berawan. Di atas perahu kecil yang mengayun pelan di Teluk Ambon, Wali Kota Bodewin Wattimena duduk diam. Matanya menyapu permukaan laut yang dulu jernih, kini dipenuhi tumpukan plastik, styrofoam, dan sisa-sisa kehidupan kota yang dibuang sembarangan.
Ia tak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Hanya suara dayung yang menyentuh air dan desau angin yang menyelinap. Lalu, dalam sebuah video yang kemudian viral di media sosial, suara Bodewin pecah, pelan tapi tegas.
“Basudara samua, saat ini katong seng bisa saling berharap dan saling menyalahkan. Yang bisa katong lakukan adalah membangun kesadaran bersama untuk jang lai buang sampah sembarangan, apalai di sungai dan laut. Katong malu, wisatawan datang mau diving, tapi di permukaan laut cuma lihat sampah. Mari sadar jua untuk buang sampah pada tempatnya.”

Pemandanga sampah Teluk Ambon yang membuat Wali Kota Bodewin Wattimena merinding (foto: sumber)
Dua minggu setelahnya (1/11/2025), Bodewin kembali ke laut. Kali ini, ia tidak sendiri. Dua puluh speedboat meluncur dari dermaga, membawa pasukan yang tak biasa: Kepala Balai, TNI-Polri, pemuda-pemudi, dan warga biasa. Mereka bukan hendak berwisata, tapi berperang—melawan sampah.
Di tengah aksi bersih-bersih itu, sang wali kota tak hanya berdiri memberi instruksi. Ia turun langsung, menjaring sampah dengan tangannya sendiri. Plastik demi plastik, botol demi botol, ia angkat dari air yang keruh. Di wajahnya, tak ada senyum kemenangan. Yang ada hanya keprihatinan yang dalam.
“Sungguh memprihatinkan kondisi teluk kita yang dipenuhi sampah,” ucapnya dengan nada getir. “Teluk yang indah, menawan, dan menjadi kebanggaan kita semakin kotor. Sampah yang kita buang melukai teluk, merusaknya. Mari jaga Teluk Ambon untuk generasi mendatang. Beta par Ambon, Ambon par samua.”
Pengamat ekonomi, Fuad Assagaff, menyebut kata-kata Bodewin bukan sekadar retorika, tetapi ajakan untuk bertobat bersama, untuk berhenti menyakiti laut yang selama ini memberi makan, memberi keindahan, dan menjadi wajah kota di mata dunia.

Wali Kota Ambon Bodewin Wattimena turun langsung menjaring sampah (foto: sumber)
Teluk Ambon tengah menghadapi krisis ekologis yang kian nyata. Kajian akademik menyebut kadar padatan tersuspensi di perairan teluk telah mencapai 220 mg/l, melampaui ambang batas aman untuk laut dangkal, sementara produksi ikan kembung turun hingga 42% dalam tiga tahun terakhir, menandakan dampak langsung terhadap sumber penghidupan nelayan.
Memang, kata Said, pegiat lingkungan, Teluk Ambon dulunya dikenal sebagai salah satu teluk terdalam dan terindah di timur Indonesia. Tapi kini sering kusam kecokelatan akibat sedimentasi dari Daerah Aliran Sungai (DAS) Wai Batu Merah dan Wai Ruhu.
Ketua Moluccas Coastal Care (MCC), Teria Salhuteru menilai penanganan sampah selama ini belum maksimal karena keterbatasan personel. “Petugas DLH di lapangan hanya sedikit, sementara luas teluk besar sekali. Kalau masyarakat tidak terlibat langsung memilah dan membuang sampah pada tempatnya, persoalan ini tidak akan selesai,” katanya.
Sanksi denda bagi pembuang sampah yang rencananya akan diterapkan pada 2026, kata Teria, hanya bisa efektif jika diiringi regulasi yang tegas dan monitoring berkelanjutan. “Gerakan bersih-bersih tiap Jumat itu bagus, tapi kalau hanya seminggu sekali, sampai anak cucu pun sampah tidak akan habis, karena enam hari lainnya orang masih buang sampah sembarangan.”
Ia juga menilai pengolahan sampah di TPA Toisapu masih belum ideal, karena hanya ditimbun tanpa pemrosesan, dan berpotensi mengancam warga sekitar.
“Bank sampah memang ada, tapi mereka perlu modal dan dukungan investor agar bisa berkembang. Harusnya, data penelitian BRIN dan Fakultas Perikanan Unpatti dibuka ke publik supaya masyarakat sadar, kalau mau makan ikan segar, lautnya harus dijaga,” ujarnya.
Krisis ekologis Teluk Ambon, kata Ridwan Makatitta,, alumni Fakultas Perikanan Unpatti, bukan sekadar isu lingkungan, melainkan persoalan sosial dan ekonomi. Laut yang kian keruh telah mengaburkan masa depan nelayan dan mengancam rantai pangan biru yang menjadi tumpuan hidup ribuan keluarga di pesisir Ambon.
Potensi yang Terancam
Hiruk pikuk 403 pemancing dari berbagai penjuru Indonesia, bahkan dari Amerika, Selandia Baru, dan Australia, memenuhi pesisir Pantai Negeri Ery pada 25 Oktober 2025. Mereka tak hanya datang untuk memancing, tapi juga berlomba, memperebutkan hadiah puluhan juta rupiah dan satu unit mesin tempel yang jadi incaran utama.
Garis pantai yang biasanya tenang berubah menjadi arena penuh semangat. Ratusan perahu berjajar, dan sorak-sorai menggema di antara deru mesin dan suara peluit pembukaan. Lawamena Fishing Tournament 2025 resmi dimulai.

Sekda Maluku Sadali Ie membuka Lawamena Fishing Tournament di Pantai Ery, Nusaniwe, Kota Ambon (foto: AL)
Di antara riuh sorak peserta dan semangat kompetisi, terselip harapan bahwa laut bukan hanya tempat berlomba, tapi ruang hidup yang harus dijaga. Lawamena bukan sekadar turnamen. Ia adalah panggilan untuk kembali mencintai laut dengan cara yang lebih bijak dan berkelanjutan.
Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, menegaskan bahwa lomba mancing ini bukan sekadar ajang kompetisi, melainkan momentum strategis untuk memperkuat komitmen Pemerintah Provinsi Maluku dalam menjadikan daerah ini sebagai lumbung ikan nasional dan destinasi wisata bahari unggulan. Turnamen ini menjadi wadah untuk memperkenalkan potensi kelautan Maluku kepada dunia, sekaligus menunjukkan keseriusan pemerintah dalam membangun sektor perikanan yang maju dan berkelanjutan.
Lawamena Fishing Tournament ingin membuktikan bahwa Maluku adalah surga bagi para pemancing dan wisatawan bahari. Dengan hasil tangkapan yang melimpah dan antusiasme peserta dari berbagai negara, Ketua Panitia Benny Selanno menyebut ajang ini akan terus mempertegas citra Maluku sebagai pusat kekayaan laut Indonesia dan branding “Lumbung Ikan Nasional”.
"Hasil tangkapan lomba ini membuktikan bahwa Teluk Ambon masih menyimpan sumber daya ikan bernilai ekonomi tinggi, meski dalam keadaan sakit," katanya sambil menunjuk seekor marlin sepanjang lebih dari satu meter bersama beberapa ikan pelagis seperti tongkol dan kerapu.

Proses penyiangan ikan Marlin sepanjang lebih dari 1 meter yang tertangkap di perairan Teluk Ambon (foto: AL)
Teluk Ambon memang menyimpan kekayaan ekosistem pesisir yang luar biasa, mulai dari padang lamun, terumbu karang, hingga perairan tangkap dan budidaya. Namun, menurut kajian akademik dan lembaga konservasi, luas padang lamun di kawasan ini telah menyusut drastis dalam satu dekade terakhir, sementara tutupan terumbu karang sehat tinggal sekitar 27%. Padahal, kedua ekosistem ini berperan penting sebagai penyerap karbon biru dan tempat pemijahan ikan-ikan bernilai ekonomi tinggi.
Nilai ekonomi Teluk Ambon diperkirakan mencapai lebih dari Rp 350 miliar per tahun, mencakup sektor perikanan tangkap, budidaya rumput laut, dan wisata bahari. Namun, potensi ini kini terancam oleh limbah rumah tangga, sedimentasi, dan eksploitasi berlebihan. Sekitar 1.200 nelayan aktif, mayoritas nelayan kecil dengan perahu tempel, menggantungkan hidupnya pada keberlanjutan ekosistem teluk yang semakin tertekan.
Selain perikanan tangkap, Teluk Ambon juga memiliki potensi besar dalam budidaya rumput laut, kekerangan, dan bioekonomi laut. Namun, tanpa langkah nyata untuk merevitalisasi ekosistem, seluruh potensi itu bisa hanyut bersama arus pasang. Seperti ditegaskan oleh Kepala Balai Perikanan Maluku, ekonomi biru tak bisa dibangun tanpa laut yang sehat, karena kehilangan ekosistem berarti kehilangan masa depan kota ini.
Perempuan Penjaga Pesisir
Hujan mengguyur kawasan Lateri, Kecamatan Baguala, Kota Ambon, ketika karyawan dan karyawati LPP RRI Ambon bersama komunitas Green Moluccas menanam anakan mangrove di bibir pantai yang nyaris terkikis abrasi. Aksi itu dibuka oleh Wakil Wali Kota Ambon, Elly Toisutta, sekaligus mempertegas pentingnya keterlibatan perempuan dalam menjaga ekosistem pesisir.
Di antara mereka, berdiri dengan sepatu bot berlumpur dan tangan penuh tanah basah, Divisi Kampanye Komunitas Green Molluccas, Venska "Kita berharap tidak hanya menanam mangrove, tetapi juga bisa mengelola dan merawatnya dengan cara tidak membuang sampah secara sembarangan," katanya.

Karyawan dan karyawati LPP RRI Ambon dan komunitas Green Moluccas foto bersama usai aksi penanaman mangrove (foto: dok/rri)
Green Moluccas adalah komunitas lingkungan hidup yang aktif di Ambon, berfokus pada edukasi, advokasi, dan aksi nyata untuk mengurangi sampah dan menjaga ekosistem pesisir. Mereka dikenal karena pendekatan kolaboratif dan program berbasis masyarakat.
Green Moluccas lahir dari semangat keterpanggilan untuk menjaga bumi, dimulai dari hal kecil dan dari diri sendiri. Komunitas ini aktif menyuarakan isu perubahan lingkungan melalui divisi Kampanye dan Advokasi, serta rutin menggelar kegiatan di hari-hari besar lingkungan.
Salah satu program unggulan mereka adalah Desa Mandiri Sampah, yang telah dijalankan di Negeri Passo, Ambon, dengan melibatkan puluhan kepala keluarga dalam pengelolaan sampah rumah tangga berbasis komunitas.
Mereka juga terlibat dalam kolaborasi lintas sektor, termasuk dengan Pemerintah Kota Ambon dan generasi muda, untuk mendukung pencapaian SDGs No. 14 tentang pengurangan sampah plastik di Teluk Ambon. Aksi mereka mencakup edukasi publik, pelatihan daur ulang, dan kampanye digital yang menyasar perilaku masyarakat dalam membuang sampah.
Dengan semangat “Kalau bukan kita, siapa lagi?”, Green Moluccas terus menjadi motor perubahan lingkungan di Maluku. Mereka percaya bahwa menjaga laut dan pesisir bukan hanya tugas pemerintah, tapi tanggung jawab bersama, dimulai dari rumah, komunitas, dan hati yang peduli.
Selain Green Moluccas, ada lagi Moluccas Coastal Care (MCC). Ketua MCC, Teria Salhuteru, kepada RRI bercerita, sejak 2017, MCC telah menjadi garda terdepan dalam memerangi krisis ekologis Teluk Ambon. Mereka memulai dari aksi sederhana: membersihkan pantai, mengedukasi warga, lalu menanam mangrove di Lateri, Ery, dan Galala. Hingga 2025, mereka sudah menanam lebih dari 12.000 bibit.
“Kami pernah minta agar pemerintah membangun penyaring sampah di lima sungai besar supaya plastik tidak langsung masuk ke teluk,” ujar Teria, “Tapi sampai sekarang belum juga terlaksana.”
Data DLH Kota Ambon menunjukkan sekitar 68% sampah plastik di Teluk Ambon berasal dari permukiman dan pasar pesisir. MCC menaksir setiap tahun ada 14–17 ton plastik yang hanyut masuk ke laut. Namun di tengah situasi muram itu, ada energi baru yang tumbuh, semangat generasi muda, terutama perempuan.
Sekitar 63% relawan MCC adalah perempuan Gen Z, yang tak hanya turun langsung ke lapangan, tapi juga menghidupkan gerakan digital seperti #AmbonTanpaSampah, kampanye yang viral di TikTok tahun 2024 dengan lebih dari 300 ribu penonton. Mereka membuktikan bahwa menjaga laut tidak melulu soal fisik, tapi juga tentang menggerakkan kesadaran publik melalui dunia maya.
“Di MCC, kami bekerja dengan keahlian masing-masing, laki-laki dan perempuan sama pentingnya,” kata Teria. “Namun perempuan punya kekuatan lain, kemampuan merawat, mendidik, dan memberi teladan kepada anak-anak. Kalau mau makan ikan segar dan sehat, lautnya juga harus dijaga.”

Aktivis MCC dan relawan foto bersama usai membersihkan sampah di pesisir sekitar Jembatan Merah Putih (foto: dok/rri)
Keterlibatan perempuan di bidang konservasi laut di Maluku, menurut laporan BRIN 2023, meningkat 46% dalam lima tahun terakhir. Banyak di antara mereka aktif di komunitas lain seperti Latu Sehat, Ambon Muda Peduli Lingkungan (AMPL), dan Gerakan Sadar Laut Perempuan Maluku (GESALAM). Mereka melatih ibu-ibu pesisir mengubah limbah plastik jadi kerajinan dan memperkenalkan konsep “ekonomi biru rumah tangga”—bahwa laut bisa memberi penghasilan tanpa harus dirusak.
Teria mengaku, awalnya sering kecewa melihat masyarakat yang masih membuang sampah ke laut. “Sakit hati itu sekarang berubah jadi tantangan,” katanya. “Kami tahu, edukasi lingkungan itu maraton, bukan sprint. Yang penting regenerasi tidak berhenti.”
Kini, bagi para perempuan penjaga pesisir Ambon, setiap aksi tanam mangrove bukan sekadar ritual tahunan, tapi bentuk cinta yang diwariskan. Mereka percaya laut bukan hanya sumber pangan, melainkan ruang spiritual yang menyatukan manusia dengan alam. Di garis pantai yang dulu sepi, kini tumbuh harapan baru, berwujud mangrove kecil yang perlahan memeluk Teluk Ambon kembali.
Revitalisasi, Wisata Teluk dan Ekonomi Bahari
Lebih dari seabad lalu, naturalis Inggris Alfred Russel Wallace menulis kesannya tentang Teluk Ambon dalam bukunya tahun 1869. Ia menggambarkan perairan ini sebagai surga yang tak tertandingi.
“Dasar air diselimuti rangkaian koral, spons, dan anemon berwarna cemerlang. Mungkin tak ada tempat lain di dunia di mana kehidupan laut, karang, kerang, dan ikan, lebih kaya dari pelabuhan Ambon.”
Kini, kalimat indah itu tinggal kenangan yang menyakitkan. Menurut Moluccas Coastal Care (MCC), data LIPI-BRIN 2023 menunjukkan lebih dari 70% ekosistem mangrove dan lamun di Teluk Ambon telah beralih fungsi menjadi kawasan pemukiman dan pelabuhan.
Padahal dulu, mangrove membentuk green barrier alami yang menahan abrasi dan menyaring sedimen. “Zonasinya sekarang terputus,” ujar Teria Salhuteru. “Kalau tidak direstorasi, mangrove bisa punah dalam 10 tahun ke depan.”
/3f44ekhrsobw0x0.jpeg)
Pesisir Teluk Ambon dengan latar belakang RSUP Leimena (foto: AL)
Kondisi serupa ditemukan dalam riset Pusat Kajian dan Penelitian Kelautan Universitas Pattimura. Direktur pusat kajian, Dr. Gino V. Limmon, menggambarkan perubahan itu dengan nada getir.
“Dulu Teluk Ambon itu taman laut. Sekarang dasar lautnya berselimut lumpur,” katanya. Dari empat lokasi penelitian yang ia pantau sejak 1993, di Lateri, Pandan Kasturi, Galala, dan Wae Ame, tiga di antaranya kehilangan 90% tutupan karang. “Surga itu sudah hilang,” katanya.
Namun revitalisasi, kini mulai dirintis kembali. Pemerintah Kota Ambon bersama Bappenas menyiapkan proyek Ambon Waterfront City, bagian dari rencana besar Maluku Maritime Axis 2030. Proyek ini mengusung konsep “pesisir tangguh dan produktif” yang menggabungkan konservasi, pariwisata, dan ekonomi bahari. Di sepanjang garis Teluk Ambon bagian dalam, kawasan akan ditata menjadi sentra wisata bahari, kuliner laut, serta pusat hilirisasi hasil tangkapan nelayan.
Menurut kajian Bappenas, sektor bahari Ambon berpotensi tumbuh 8–10% per tahun jika revitalisasi ekologis berjalan beriringan dengan pembangunan wisata pesisir. Konsepnya sederhana namun strategis, membangun zona tangkap, olah, jual, meminimalkan limbah, dan memaksimalkan nilai tambah hasil laut.
Di beberapa pilot project, seperti di Negeri Ema dan Passo, nelayan mulai dilatih menggunakan teknologi pengolahan pasca tangkap, dari cold storage mini hingga pengemasan produk olahan berbasis ikan kembung dan cakalang.
/rm7kclqwgv6l26h.jpeg)
Romantisme senja di Teluk Ambon di atas Jembatan Merah Putih (foto: AL)
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) 2024 mencatat, nilai ekspor produk perikanan Maluku naik 23% dalam dua tahun terakhir, didorong oleh meningkatnya kualitas rantai dingin dan digitalisasi hasil tangkapan. Jika Teluk Ambon pulih dan proyek waterfront berjalan konsisten, kota ini bisa menjadi contoh sukses ekonomi biru Indonesia Timur: memadukan kesejahteraan nelayan, konservasi laut, dan daya tarik wisata alam.
Revitalisasi Teluk Ambon bukan hanya tentang kebersihan air, tapi tentang mengembalikan rasa bangga. Suatu saat, mungkin anak-anak Ambon akan kembali menyelam di perairan yang jernih, seperti yang dulu disaksikan Wallace, dan kesaksian para penyelam.
"Teluk Ambon punya 48 spot diving, wisatawan mancanegara dari luar sana, rela membuang ribuan dollar datang ke sini, untuk menikmati keindahan surga bawah laut. Nah, kalau rusak, kotor, dan tercemar, siapa yang mau datang," kata Hertadi, diaminkan Dude, penyelam profesional, tiga tahun silam.
Nafas Asta Cita dan Kedaulatan Pangan
Revitalisasi Teluk Ambon faktanya bukan proyek sesaat, tapi gema dari cita-cita besar bangsa. Ia berdenyut seirama dengan Asta Cita Presiden Republik Indonesia, terutama Cita ke-4: “Mewujudkan ekonomi yang berkelanjutan dan berdaulat melalui transformasi biru dan hijau.” Di sinilah Teluk Ambon menjadi laboratorium kecil dari ambisi besar: bagaimana laut bisa memberi makan, bukan sekadar menjadi halaman belakang.
Teluk Ambon adalah miniatur tantangan nasional. Di satu sisi, lautnya merekam luka ekologi: mangrove yang tergerus, karang yang lenyap, pesisir yang disesaki limbah domestik. Namun di sisi lain, justru dari situ lahir energi perubahan, karena laut yang terluka memanggil manusia untuk bertanggung jawab.
Kepala Dinas Perikanan Kota Ambon, Ester Latumeten, menegaskan bahwa revitalisasi laut bukan sekadar soal kebersihan visual, melainkan tentang menjamin keberlanjutan pangan bagi generasi mendatang. “Revitalisasi bukan hanya soal kebersihan,” ujarnya. “Ini tentang memastikan laut tetap memberi makan generasi selanjutnya.” Pernyataan ini mencerminkan komitmen pemerintah kota dalam mengelola sumber daya laut secara berkelanjutan.
/vzjs8kva4fmzv0x.jpeg)
Keindahan Teluk Ambon yang terpotret dari salah satu hotel berbintang di Ambon (foto: AL)
Program revitalisasi yang digagas Pemkot Ambon menitikberatkan pada tiga aspek utama, keberlanjutan jangka panjang, ketahanan pangan, dan pengelolaan sumber daya. Pemerintah tidak hanya fokus pada estetika pantai, tetapi juga pada ekosistem laut yang sehat dan produktif. Tujuannya adalah menjaga agar laut tetap menjadi sumber kehidupan dan mata pencaharian bagi masyarakat pesisir, terutama nelayan kecil yang menggantungkan hidupnya pada hasil tangkapan harian.
Salah satu langkah konkret adalah penetapan zona perikanan tangkap dan budidaya yang berkelanjutan, untuk mencegah eksploitasi berlebihan dan menjaga potensi lestari sumber daya ikan. Dengan pendekatan berbasis MSY (Maximum Sustainable Yield), Pemkot Ambon berupaya memastikan bahwa laut tetap menjadi dapur hidup kota ini, bukan hanya hari ini, tapi juga untuk anak cucu yang akan datang.
Program revitalisasi yang kini berjalan tak lagi berdiri sendiri. Ia dijahit dalam kerangka Ekonomi Biru Nasional yang diluncurkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), dengan fokus pada tiga sumbu, yakni konservasi ekosistem pesisir, peningkatan nilai tambah hasil tangkapan, dan digitalisasi rantai pasok perikanan. KKP menempatkan Ambon sebagai salah satu dari 12 lokasi percontohan Blue Economy Hub Indonesia Timur, bersama Bitung dan Sorong.
Langkah ini sejalan dengan upaya menuju kedaulatan pangan berbasis laut. Dalam konsep Asta Cita, kedaulatan pangan tidak hanya berarti cukup beras atau jagung, tetapi juga kemampuan bangsa menjaga dan mengelola protein biru secara mandiri. Maluku, dengan lebih dari 600 jenis ikan pelagis dan demersal, menjadi tulang punggung baru ketahanan pangan nasional. Menurut data BRIN dan KKP (2024), potensi lestari perikanan Teluk Ambon mencapai 7.000 ton per tahun, dengan produktivitas nelayan meningkat 18% setelah penerapan teknologi e-logbook dan smart cold chain di pelabuhan perikanan Tantui.
“Ekonomi biru adalah jantung kedaulatan pangan kita,” ujar Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono dalam sambutannya di Ambon Maritime Expo 2024. “Revitalisasi Teluk Ambon membuktikan bahwa konservasi bisa berjalan beriringan dengan kesejahteraan.”
Dalam konteks ini, laut tidak lagi sekadar lanskap ekonomi, tetapi juga sumber nilai budaya. Revitalisasi menjadikan masyarakat pesisir sebagai subjek, bukan objek: nelayan, ibu-ibu pengolah hasil laut, mahasiswa kelautan, semua bersatu dalam rantai nilai biru yang menjaga laut sekaligus hidup darinya.
Teluk Ambon yang dulu digambarkan Wallace sebagai surga bawah laut, kini mencoba menulis ulang takdirnya: bukan lagi kisah kehilangan, melainkan kisah kebangkitan. Revitalisasi ini menjadi bukti bahwa Asta Cita bukan slogan di atas kertas, melainkan nafas baru yang menghidupkan ekonomi, ekologi, dan harapan manusia di pesisir timur Nusantara.
Belajar Menyembuhkan Teluk dari Dunia
Revitalisasi Teluk Ambon bukan hanya perjuangan lokal, melainkan bagian dari arus besar dunia untuk memulihkan pesisir yang terluka. Banyak negara sudah menempuh jalan panjang dalam menjahit luka ekologis lautnya. Pengalaman mereka menunjukkan satu hal pasti: laut yang sehat adalah fondasi bagi ekonomi yang tangguh.
/cd52hfyi6lvg4oq.jpeg)
Senja di Teluk Ambon (foto: AL)
Di Amerika Serikat, kisah pemulihan Teluk Chesapeake jadi contoh klasik. Setelah puluhan tahun tercemar limbah industri dan pertanian, pemerintah federal bersama 6 negara bagian meluncurkan Chesapeake Bay Program (1983). Mereka membangun sistem pemantauan satelit dan teknologi filtrasi alami lewat sabuk rawa dan wetland buffer di muara sungai. Hasilnya, dalam dua dekade, populasi kepiting biru dan tiram liar meningkat 35%. Kini Chesapeake jadi ikon eco-revival Amerika, dengan nilai ekonomi pesisir mencapai $33 miliar per tahun.
Sementara di Australia, program Great Barrier Reef Marine Park Authority menerapkan pendekatan “satu peta untuk semua kebijakan.” Pemerintah menata ulang zonasi pesisir—mana wilayah tangkap, wisata, dan konservasi—berdasarkan data ilmiah dan konsultasi masyarakat adat (Indigenous Sea Country Planning). Pendekatan ini menginspirasi proyek serupa di Asia-Pasifik, termasuk Coral Triangle Initiative yang turut diikuti Indonesia.
Dari Jepang, pelajaran berharga datang dari revitalisasi Teluk Tokyo. Setelah sempat menjadi salah satu teluk paling tercemar di Asia pada 1970-an, Jepang membangun artificial tidal flats dan seaweed beds untuk memulihkan rantai ekologi dasar. Pemerintahnya melibatkan ribuan warga dalam program Umi-no-Mori (Hutan Laut), menjadikan laut sebagai laboratorium pendidikan dan kebanggaan publik. Kini, kualitas air di Teluk Tokyo meningkat hingga kategori “Good Water Standard,” dan ikan-ikan kembali muncul di area yang dulu mati.
Ketiga kisah itu punya satu benang merah: kolaborasi lintas sektor, berbasis ilmu pengetahuan, dan berakar pada partisipasi publik. Tidak ada revitalisasi tanpa keterlibatan warga. Teluk Ambon bisa mengambil inspirasi dari sana. Pemerintah Kota Ambon dan KKP bisa mengadopsi model peta interaktif kualitas perairan, sistem pemantauan berbasis satelit BRIN, dan community-based reef restoration seperti di Jepang.
Revitalisasi bukan sekadar proyek fisik, tapi proses membangun kembali hubungan manusia dengan lautnya. Dengan menerapkan pembelajaran global itu, Teluk Ambon bisa menjadi contoh sukses Indonesia Timur, dari teluk tercemar menjadi Teluk Harapan, tempat laut, ekonomi, dan manusia hidup kembali dalam harmoni.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....