Energi dari Timur, Jejak Pertamina Nyalakan Sapta Cipta
- 31 Okt 2025 18:10 WIB
- Ambon
KBRN, Ambon: Pagi merekah di pesisir Morella awal Oktober 2025. Suara ombak memantul lembut di antara batu karang. Aroma pala yang disangrai memenuhi udara. Di halaman rumah kecil, beberapa perempuan desa, mama Aklimah Malawat dkk, sibuk menata botol jus pala di atas meja kayu.
Di antara mereka, tampak kilau logam di atap, panel surya sederhana yang sejak beberapa bulan lalu menjadi sumber energi utama mereka. “Dulu kami sering berhenti kerja karena listrik padam,” kata mama Malawat, sambil memutar blender. “Sekarang, meski PLN mati, kami masih bisa lanjut. Listriknya dari matahari.”
Program CSR Pertamina menghadirkan panel surya itu untuk kelompok perempuan pengolah pala di Morella sejak 2024. Sederhana, tapi dampaknya terasa, produksi naik, pengeluaran listrik turun, dan waktu kerja tak lagi bergantung pada pasokan PLN yang kerap tak menentu.
Di sisi lain desa, di pesisir pantai yang sama menghadap Laut Seram, para nelayan menunggu di pinggir jalan, jerigen-jerigen kosong menumpuk di kaki. “Kadang jam lima pagi sudah harus ke Pom Bensin, syukur-syukur kalau bensin masih ada,” keluh Mat, salah satu dari mereka. “Kalau tidak dapat, kami tak bisa melaut.”
Ketua Bumdes Morella, Fahmi Malawat, ikut prihatin, sambil menatap laut dengan dahi berkerut. “Kami ingin air pegunungan didistribusi menggunakan panel surya supaya menekan biaya operasional,” ujarnya. “Nelayan-nelayan juga butuh panel surya di rumpon maupun bagan mereka. Sekarang semua masih pakai bensin, mahal dan susah.”
Masalah BBM, bukan cerita baru di pesisir Maluku. BPS 2023 mencatat, provinsi ini memiliki lebih dari 117 ribu nelayan yang sebagian besar bergantung pada BBM bersubsidi. Tapi stoknya kerap langka, dan harga eceran bisa mencapai Rp 11 ribu per liter.
Di Leihitu, pesisir pulau Ambon yang menjadi bagian dari Kabupaten Maluku Tengah, antrean panjang di SPBU jadi pemandangan biasa. Pertamina sendiri, baru memiliki beberapa SPBU Nelayan di wilayah lain seperti kota dan Malra, dimana Morella belum termasuk didalamnya.

Panel Surya CSR Pertamina kepada kelompok ibu-ibu pengolah juz pala di Negeri Morella, Leihitu, Maluku Tengah
Porling Wayame, Air Bersih Ramah Lingkungan
Pada awal September 2025 lalu, kami melakukan perjalanan ke Dusun Karanjang, Desa Wayame, Kecamatan Teluk Ambon. Dusun kecil ini berada di lereng perbukitan, sedikit tersembunyi di balik kebun-kebun sayur.
Untuk mencapainya, kendaraan harus menanjak di jalan sempit berliku, melewati rumah-rumah yang berjejer di tepian bukit. Dari atas sana, Laut Ambon tampak seperti hamparan kaca biru di kejauhan.
Meski udara terasa panas, lahan-lahan di sekitarnya terlihat subur. Hawanya juga cukup segar, karena banyak pepohonan. Tak ada lagi jerigen air di pundak para petani seperti beberapa tahun silam.
“Kami sekarang tidak lagi bolak-balik kebun dengan pikul (memanggul) air,” kata Ode, petani tomat, sambil menatap selang plastik yang kini mengalirkan air ke lahan. Kini, air mengalir sepanjang hari, menyusuri pipa-pipa yang dipompa menggunakan tenaga matahari.
Porling, Pompa Ramah Lingkungan, menjadi pengubah wajah Wayame. Program CSR Pertamina ini menghidupi 11 hektare lahan pertanian, menyediakan akses air bersih bagi lebih dari 1.000 jiwa, dan menekan biaya operasional hingga Rp 1,3 miliar per tahun.
Lebih dari sekadar infrastruktur, Porling membawa kelegaan dan kemandirian bagi warga karena tidak lagi bergantung pada bensin untuk mengairi kebun, tak lagi cemas menunggu air hujan.
Tingkat kesejahteraan masyarakat pun meningkat. Rumah-rumah yang dulu berdinding papan kini banyak yang sudah berdiri kokoh dari beton, tanda bahwa ekonomi warga mulai tumbuh. Anak-anak bermain di halaman, sementara para ibu menjemur cabai dan daun bawang di bawah terik matahari, sumber energi yang sama yang kini menghidupkan pompa air mereka.
Dosen Lingkungan Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon, Doktor Okky Latuamury, melihat transformasi itu sebagai bukti perubahan nyata di akar rumput.
“Energi surya itu gratis,” ujarnya. "Teknologinya bisa diadopsi oleh nelayan maupun petani. Kita hanya butuh kemauan untuk mulai.”
Keberhasilan ini, rupanya tak hanya berhenti di lereng Wayame. Inovasi Porling dan program Wayame Hydro Bae membuat unit Integrated Terminal Wayame Pertamina Patra Niaga meraih Gold Award kategori Economic Empowerment pada ajang Indonesia Social Responsibility Award (ISRA) 2025.
Penghargaan ini menjadi pengakuan bahwa semangat energi bersih dari pesisir Maluku telah mendapat tempat di tingkat nasional, bukan sekadar cerita lokal, tapi contoh nyata kemandirian energi yang bisa direplikasi di daerah lain.
Sebagaimana diberitakan RRI sebelumnya, Pertamina Patra Niaga Regional Papua Maluku, melalui Integrated Terminal (IT) Wayame, telah meluncurkan sebuah terobosan baru bernama Porling. Teknologi inovatif ini kini telah dipasang dan beroperasi di Dusun Keranjang, Desa Wayame.
Porling merupakan pompa air pertama di Provinsi Maluku yang mampu bekerja hanya dengan memanfaatkan energi kinetik aliran air, sehingga tidak memerlukan sumber energi listrik atau bahan bakar sama sekali. Selain itu, pompa ini juga dibuat semakin efisien dan ramah lingkungan karena memanfaatkan pipa pelontar dari sisa material peningkatan fasilitas IT Wayame.
Inovasi Porling ini mendapat apresiasi sebagai langkah nyata dalam pemberdayaan masyarakat. "Ya, ini merupakan terobosan baru yang kami ciptakan bersama-sama masyarakat Dusun Keranjang," ujar Novi Prasetyo, Integrated Terminal Manager IT Wayame, mengonfirmasi.
Ia juga menjelaskan bahwa faktor utama dari kegiatan ini adalah fokus pada upaya melestarikan sumber daya alam, di mana pompa air ini dirancang untuk lebih efisien dalam penggunaan air. Program Corporate Social Responsibility (CSR) ini menjadi bukti kontribusi Pertamina untuk masyarakat melalui penggunaan energi terbarukan.
Dampak inovasi Porling terhadap masyarakat sangat signifikan, baik dalam pemenuhan kebutuhan dasar maupun dalam mendukung sektor pertanian.
"Dari inovasi yang diciptakan tidak hanya membantu untuk mencukupi kebutuhan air bersih masyarakat sekitar, namun untuk kebutuhan yang lebih besar seperti mendorong pertanian berkelanjutan di Dusun Keranjang Desa Wayame ini," kata Edi Mangun, Area Manager Comm, Rel & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Papua Maluku.
Kemampuan Porling dalam mendistribusikan air bersih mencapai hingga 302.950 liter per tahun, yang dimanfaatkan oleh 1.143 jiwa dan mengairi 11 hektar lahan pertanian.
Efisiensi teknologi Porling ini tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga pada aspek ekonomi. Dengan kemampuan distribusi air yang luar biasa tersebut, PORLING berkontribusi terhadap penghematan biaya operasional air bersih sebesar Rp 1,39 miliar per tahun.

Lahan perkebunan warga di Dusun Keranjang Desa Waiyame Kota Ambon tak lagi kekurangan air sehingga tumbuh subur dan memberi dampak bagi peningkatan kesejahteraan petani
Pengelolaan sistem Porling dipercayakan kepada komunitas lokal bernama Wayame Water Ranger, sebuah kelompok masyarakat yang telah dilatih secara khusus untuk memantau dan menjaga sistem distribusi air di desa mereka.
Keberhasilan implementasi Porling telah menjadikan teknologi ini sebagai model percontohan. Pemerintah Desa Wayame bahkan mulai mengadopsi Porling untuk memenuhi kebutuhan air bersih di wilayah lain.
Langkah proaktif IT Wayame dalam memperkenalkan Porling ini menegaskan komitmen Pertamina dalam menumbuhkan budaya inovasi perusahaan untuk menciptakan nilai tambah, tidak hanya sebatas lingkup operasional, melainkan juga bagi masyarakat dan lingkungan sekitar, menandai langkah maju dalam upaya keberlanjutan dan pemberdayaan masyarakat lokal di Maluku.
Energi dan Sapta Cita
Apa yang terjadi di Morella dan Wayame sejatinya menggambarkan arah baru Indonesia di bawah Sapta Cita Presiden 2024–2029. Tiga pilar utamanya, yakni pemerataan pembangunan wilayah, transisi energi bersih, dan penguatan ekonomi maritim, menemukan bentuk konkretnya di pesisir Maluku.
Kisah mama-mama pala, nelayan, dan petani ini bukan sekadar cerita lokal. Mereka adalah potret dari bagaimana kebijakan energi nasional menyentuh titik-titik terluar negeri, di desa yang listriknya belum stabil, di bagan yang masih bergantung pada genset, di ladang yang mulai mengenal panel surya.
Pertamina memang telah menyalakan banyak lentera di pesisir Maluku, dari panel surya mama-mama pala di Morella, pompa Porling di Wayame, hingga penanaman ratusan fragmen karang di pantai Letan. Namun angka-angka di balik cahaya itu masih menyimpan tantangan besar.

Bagan ikan di pesisir Teluk Ambon yang butuh penerangan energi surya untuk meningkatkan produktivitas hasil perikanan
Data Kementerian ESDM 2024 menunjukkan, rasio elektrifikasi di Indonesia Timur baru mencapai 95,23 persen, tertinggal dibanding Jawa dan Sumatra yang telah menembus 99,9 persen. Di sisi lain, hasil studi Bappenas dan UNDP memperkirakan potensi energi surya di kawasan timur Indonesia bisa mencapai lebih dari 2.000 GWp, setara 60 kali kapasitas listrik nasional saat ini.
Sebagai perusahaan energi nasional, Pertamina memiliki peran strategis untuk menjembatani ketimpangan itu. Program CSR seperti Porling dan SPBU Nelayan sejatinya dapat menjadi pilot project menuju kemandirian energi lokal yang selaras dengan Sapta Cita Presiden, terutama butir ketiga dan keempat: mewujudkan kemandirian energi bersih dan pemerataan pembangunan wilayah.
Di balik kisah sukses itu, masih banyak pekerjaan rumah yang menanti, terutama dalam hal memperluas akses energi bersih bagi nelayan dan petani di pulau-pulau kecil, memperkuat infrastruktur BBM bersubsidi di daerah terpencil, serta memastikan bahwa setiap inovasi tidak berhenti di proyek percontohan, tapi tumbuh menjadi gerakan berkelanjutan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....