Dari Dapur Pala ke Pompa Surya, Cahaya Morella

  • 23 Okt 2025 17:47 WIB
  •  Ambon

KBRN, Ambon: Di bawah langit pesisir Leihitu, Maluku Tengah, aroma pala segar menyeruak dari dapur kecil Negeri Morella. Mama Iklimah Latukau dkk, sibuk memarut buah pala yang baru dipetik. Mesin parut berdengung pelan, bukan karena listrik PLN, tapi karena panel surya yang menyerap cahaya sejak fajar.

Sangat menyenangkan! Sinar matahari yang dulu hanya menghangatkan tanah, kini menjadi tenaga penggerak dapur produksi. Di atas meja kayu, botol-botol jus pala berjejer rapi, hasil dari energi yang tak dibeli, tapi ditangkap langsung dari langit.

Panel ini telah menghidupkan dapur pala, dan menghidupkan harapan ibu-ibu rumah tangga. Sebelum inovasi energi terbarukan hadir, biaya operasional sering membengkak. Ketergantungan pada listrik PLN membuat produksi rentan, apalagi saat pemadaman tiba di tengah proses pengolahan.

"Ibu-ibu di dapur pala sering mengeluh saat mati lampu, apalagi kalau sedang produksi besar-besaran. Biayanya jadi makin tinggi," kata Fahmi Latukau, Ketua BUMDes Air Morella.

Mesin parut dan press yang mereka gunakan membutuhkan daya besar. Ketika panel surya mulai digunakan, produktivitas meningkat, biaya menurun, dan semangat kembali menyala.

"Inovasi ini membuktikan bahwa transisi energi bisa dimulai dari dapur desa," ujar Fahmi.

Menurut Dr. Bokiraiya Latuamury, M.Sc, dari Tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Universitas Pattimura (Unpatti), kisah ini berawal dari kelompok perempuan pengolah jus pala. Mereka menggunakan panel surya untuk menggerakkan mesin produksi. Hasilnya efisien dan ramah lingkungan.

"Di dapur pala itu, mama-mama Morella membuktikan bahwa transisi energi bisa dimulai dari buah yang dipetik dengan tangan, dan mesin yang menyala karena matahari." ujar Dr. Okky, sapaan akrabnya.

Kisah sukses ini menginspirasi BUMDes Morella untuk melangkah lebih jauh, mengadopsi panel surya untuk sistem pompa air. Dengan sinar matahari melimpah sepanjang tahun, energi surya menjadi solusi logis dan berkelanjutan.

Panel Surya milik ibu-ibu pengolah juz Pala

Dari Air Gunung ke Panel Surya

Keberhasilan di dapur pala membuka jalan bagi layanan publik vital, air bersih. Pengolahan air di bawah BUMDes menghadapi tantangan biaya listrik yang tinggi dan infrastruktur yang rapuh, sehingga perlu inovasi.

"Biaya listrik bisa mencapai Rp500 ribu hingga Rp700 ribu per bulan, terutama saat musim hujan. Pipa swadaya dari tahun 90-an sudah banyak yang keropos, distribusi air ke rumah-rumah tidak maksimal, sehingga harus beralih ke pompa," kata Fahmi.

BUMDes berharap dapat mengalihkan tenaga pompa dari listrik PLN ke panel surya agar lebih efisien dan hemat biaya. Bumdes Morella juga melihat banyak problem yang dihadapi nelayan bagan dan rumpon, sehingga penggunaan panel surya akan berdampak positif bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat.

"Rumpon dan bagan nelayan sangat membutuhkan panel surya. Selama ini mereka pakai mesin diesel dengan kebutuhan solar yang tinggi, itu pun sulit didapat, dan mereka juga harus antre dengan sopir angkot di Pom Bensin," ucapnya.

Loket pembayaran Bumdes Air Morella

Tim PKM Unpatti mencatat tantangan klasik di Morella, mulai dari jaringan pipa uzur, biaya listrik tinggi, hingga minimnya dukungan fiskal. Untungnya, masyarakat setempat menunjukkan ketangguhan kelembagaan.

Melalui BUMDes Air Morella, sistem air bersih dikelola secara mandiri. Pembayaran dilakukan langsung atau via barcode digital, memperluas jangkauan, dan menumbuhkan rasa tanggung jawab kolektif.

Selain air gunung, masyarakat masih memanfaatkan parigi atau sumur tradisional warisan leluhur. Air pegunungan digunakan untuk konsumsi, sementara parigi untuk mandi dan mencuci. Beberapa sumur bor memiliki kadar kapur rendah, menandakan kualitas baik. Namun, pengoperasiannya masih bergantung pada listrik berbiaya tinggi.

Negeri Morella dilihat dari udara

PLTS Hibrida, Energi yang Berkelanjutan

Proyeksi Morella dari dapur pala ke pompa surya memerlukan sistem yang handal. Konsep PLTS Hibrida menjadi relevan. Dr. Okky menyebutnya sebagai "kombinasi cerdas antara jaringan PLN dan panel surya."

Panel surya menyuplai energi di siang hari, sementara kelebihan daya disimpan dalam baterai atau jaringan cadangan. Sistem ini menjamin kontinuitas pasokan, bahkan saat cuaca tak bersahabat.

Namun, keberlanjutan sistem ini mensyaratkan kolaborasi lintas sektor. Dr. Okky menyebut pendekatan Hexa-Helix: sinergi antara pemerintah, swasta, akademisi, masyarakat, media, dan NGO.

"PLN atau swasta dengan CSR-nya perlu terlibat. Finansial adalah agen untuk merangsang potensi lokal agar berkembang," ujarnya, sembari menambahkan, akademisi seperti Unpatti, bertugas memberikan solusi melalui riset multidisiplin.

Sayangnya, energi terbarukan yang melimpah ini, belum masuk dalam perencanaan daerah, sehingga harapan kini tertuju pada PLN, Pertamina, dan pemerintah untuk berkolaborasi, memastikan rempah masa lalu benar-benar menjadi energi masa depan bagi Morella.

Tim PKM Unpatti bersama warga setempat

PLTS Hibrida Pulau Tiga vs Panel Surya Morella

Di Pulau Tiga, juga Kabupaten Maluku Tengah, nelayan seperti Puang (53) tak lagi harus membeli es batu di kampung sebelah untuk menjaga kesegaran ikan tangkapan. Sejak Mei 2024, listrik menyala 24 jam penuh. Siaran televisi di siang hari, aktivitas rumah tangga, dan penyimpanan hasil laut kini berjalan tanpa hambatan. Bagi 56 rumah tangga di Negeri Ureng, ini ini seperti revolusi.

Seperti diberitakan rri.co.id pada Senin, 13 Mei 2024, sumber listrik di Pulau Tiga kini mengandalkan PLTS Mikrogrid 75 kWp, dilengkapi 190 modul PV, 3 inverter, baterai Li-Ion 211,2 kWh, dan genset diesel 30 kVA. Produksi energi terbarukan mencapai 95 persen.

Meski sempat mati suri selama enam tahun, revitalisasi oleh NZMATES, Kementerian ESDM, dan PLN berhasil menghidupkannya kembali. Teknologi solar PV–battery–diesel genset ini, menjadi satu-satunya sistem hibrida di Maluku, lengkap dengan pemantauan jarak jauh via Sunny Portal dan SCADA.

PLTS hibrida Pulau Tiga, Ureng, Maluku Tengah

Sekitar 300 warga kini menikmati listrik stabil, mendorong peningkatan layanan dasar seperti ekonomi, pendidikan, dan air bersih. Penasihat Pembangunan Kedutaan Besar Selandia Baru, Kirk Yates, menyebut PLTS ini sebagai hasil positif kerja sama dua negara.

Direktur EBT Kementerian ESDM, Adhi Praptono, bahkan menyebut Maluku sebagai “laboratorium mini Indonesia” untuk energi terbarukan. General Manager PLN UIW MMU, Awat Tuhulaula, menegaskan bahwa kolaborasi ini adalah langkah strategis menuju Net Zero Emission 2060.

Keberhasilan revitalisasi PLTS Hibrida di Pulau Tiga membuktikan bahwa solusi energi bersih sangat efektif untuk diterapkan di wilayah kepulauan Maluku. Model integrasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan baterai dan genset diesel di Pulau Tiga telah mengatasi kendala listrik 24 jam dan meningkatkan kesejahteraan nelayan.

Dimata Dr. Okky, keberhasilan ini, sangat mungkin untuk direplikasi dan diproyeksikan ke wilayah lain di Maluku Tengah, salah satunya Negeri Morella. Alasannya, dengan intensitas sinar matahari yang sama tingginya, Morella memiliki potensi energi surya yang kuat untuk mendukung sistem hibrida, menggabungkan energi fotovoltaik (PV) di siang hari dan jaringan PLN atau penyimpanan energi di malam hari atau saat beban puncak.

Proyeksi keberhasilan ini semakin diperkuat oleh karakteristik beban listrik dan kesiapan komunitas di Negeri Morella. Kebutuhan listrik utama di Morella, seperti untuk menggerakkan pompa air dan dapur produksi jus pala, memiliki beban yang relatif stabil dan terfokus, menjadikannya sangat cocok untuk diatur oleh sistem hybrid skala mikro.

Bahkan, infrastruktur komunitas sudah siap, di mana kelompok ibu-ibu setempat sudah lebih dulu berhasil menggunakan panel surya skala kecil untuk memproduksi jus pala. Dengan adanya BUMDes yang aktif dan sistem pembayaran digital yang sudah berjalan, transisi menuju sistem PLTS Hibrida yang lebih besar akan berjalan mulus, jauh berbeda dengan tantangan yang dihadapi Pulau Tiga sebelumnya.

Oleh karena itu, pemanfaatan PLTS Hibrida di Negeri Morella, kata Dr. Okky, bukan hanya layak, tetapi juga didukung oleh ekosistem yang matang. Adanya dukungan akademik dan advokasi dari Universitas Pattimura melalui pendekatan hexa-helix (sinergi antara berbagai pihak) menunjukkan bahwa studi kelayakan dan rekomendasi untuk proyek percontohan PV–PLN hybrid sudah tersedia.

Dengan mengadopsi pelajaran dan teknologi yang sukses dari Pulau Tiga, Dr. Okky yakin, Morella dapat mempercepat layanan dasar, seperti penyediaan air bersih yang selama ini bergantung pada listrik berbiaya tinggi, sekaligus mewujudkan komitmen Maluku sebagai "laboratorium mini" energi terbarukan di Indonesia.

Peresmian proyek revitalisasi PLTS Pulau Tiga pada Senin, 13 Mei 2024

PLN dan Energi Berdaulat, Peluang Kolaborasi

PLN, lewat semangat Energi Berdaulat untuk Indonesia Kuat, punya peluang emas untuk mendukung pilot project pompa air bertenaga surya di Morella. Kolaborasi antara PLN dan komunitas lokal bisa melahirkan sistem hibrida PLN–PV yang menekan biaya operasional dan memperkuat distribusi air.

Menurut Dr. Okky program PKM Universitas Pattimura telah merekomendasikan tiga langkah penting bagi Morella dan desa-desa pesisir sekitarnya, yakni:

• Modernisasi jaringan pipa dan pembangunan bak antara untuk memperkuat distribusi air.

• Pilot project pompa air bertenaga surya hibrida (PLN–PV) guna menekan biaya listrik dan memanfaatkan potensi energi matahari.

• Forum kolaboratif lintas-aktor agar riset dan kebijakan dapat berjalan seiring.

Dengan kombinasi teknologi tepat guna, kebijakan adaptif, dan nilai gotong royong, Morella tengah menulis babak baru kemandirian air dan energi di Indonesia Timur.

"Cerita Morella membuktikan bahwa inovasi tidak selalu lahir dari laboratorium canggih, melainkan bisa tumbuh dari dapur desa, dari warga yang berani bereksperimen, dan dari ilmuwan yang mau mendengar," ucap Dr. Okky.

■ Tonton Dialog Aspirasi Maluku dengan topik: "Dari Dapur Pala ke Panel Surya" https://www.youtube.com/live/LaZeiPnpw7E?si=OayqUEDspQGsfMN6

Mengapa PLTS Hybrid harus hadir di Morella? "Di pesisir Maluku Tengah, sinar matahari bukan hanya berkah alam, tapi potensi energi yang belum sepenuhnya dimanfaatkan. Morella, negeri kecil yang sudah memulai langkah-langkah inovatif, menunjukkan kesiapan teknis dan sosial untuk beralih ke sistem energi surya hybrid," kata Dr. Okky.

Menurutnya, intensitas cahaya matahari yang stabil sepanjang tahun menjadikan panel surya sebagai pilihan logis, terutama untuk kebutuhan listrik yang terfokus seperti pompa air dan dapur produksi jus pala.

"Mama-mama pengolah pala bahkan sudah membuktikan efektivitas panel surya dalam skala kecil—mereka tidak menunggu, mereka sudah bergerak. Namun, kesiapan teknis saja tidak cukup. Di balik mesin parut dan pipa air, ada kelembagaan komunitas yang tangguh," ujarnya.

BUMDes Morella, tambahnya, telah mengelola sistem air bersih secara mandiri, bahkan menerapkan sistem pembayaran digital berbasis barcode. Ini bukan sekadar modernisasi, tapi bukti bahwa masyarakat siap mengelola aset energi secara kolektif.

Tantangan seperti biaya listrik pompa yang tinggi dan keterbatasan Dana Desa, kata Dr. Okky, justru memperkuat urgensi sistem hybrid. Dengan dukungan awal dari CSR PLN atau mitra swasta, desa bisa mengurangi beban operasional dan mengalokasikan anggaran untuk pemeliharaan dan ekspansi," ucapnya.

"Energi hybrid bukan beban baru, tapi solusi jangka panjang yang berakar pada realitas desa. Di sinilah peran Universitas Pattimura menjadi kunci. Sebagai mitra akademik, mereka tidak hanya melakukan riset, tapi juga mendorong pendekatan hexa-helix sinergi antara akademisi, pemerintah, PLN, media, masyarakat, dan NGO," katanya.

Dr. Bokiraiya bersama Tim PKM Unpatti

Tim Unpatti telah menyusun rekomendasi teknis, mendampingi kelembagaan lokal, dan membuka ruang advokasi agar Morella masuk radar program energi berdaulat PLN. Dengan blueprint PLTS hybrid yang sudah diterapkan PLN di Maluku Utara, Morella punya semua syarat untuk menjadi lokasi pilot berikutnya. Di sini, energi bukan sekadar listrik, tapi martabat, kemandirian, dan masa depan desa yang menyala dari dalam.

"Morella adalah cermin masa depan Indonesia Timur, di mana energi tidak hanya datang dari kabel, tapi dari sinar matahari, solidaritas sosial, dan keberanian untuk berinovasi. Dari dapur pala hingga pompa air, dari barcode digital hingga panel surya, masyarakat telah membuktikan bahwa transisi energi bisa dimulai dari akar komunitas," kata Dr. Okky.

"PLN tidak memulai dari nol. Mereka melanjutkan cerita yang sudah ditulis oleh mama-mama desa, akademisi yang turun ke lapangan, dan BUMDes yang berani mandiri. Dengan blueprint PLTS hybrid yang sudah berhasil di pulau-pulau lain, dan kesiapan teknis serta kelembagaan di Morella, langkah berikutnya bukan lagi pertanyaan, tapi keputusan. Dan keputusan itu, sudah ada di tangan PLN," ujar Dr. Okky.

"Kini, saatnya energi berdaulat benar-benar menyala. Bukan hanya di dokumen RUPTL, tapi di mesin parut pala, di pompa air desa, dan di hati masyarakat yang ingin hidup lebih terang. Morella sudah siap. PLN sudah mampu. Indonesia sudah menunggu," ucap Dr Okky mengunci dialog Aspirasi Maluku di Pro 1 RRI Ambon pada Rabu, 22 Oktober 2025.


Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....