Ambon Rayakan Kebinekaan, Warisan Victoria di Festival Benteng

  • 19 Okt 2025 11:09 WIB
  •  Ambon

KBRN, Ambon: Hiruk pikuk riang pecah di jantung Kota Ambon. Udara Jumat sore, 17 Oktober 2025, tak hanya dipenuhi aroma laut Maluku, tapi juga gegap gempita musik dan warna.

Di depan Monumen Gong Perdamaian Dunia, parade busana dan tarian etnik menyulap jalanan menjadi panggung kebangsaan. Inilah permulaan Festival Benteng Victoria 2025, sebuah perayaan sejarah dan denyut nadi kebinekaan Indonesia.

Festival ini dibuka dengan Karnaval Kebudayaan yang memukau. Sebanyak 13 paguyuban dari Sabang hingga Merauke, mulai dari Batak, Minang, Jawa, hingga Maluku sendiri, berbaur dalam barisan.

Mereka tampil eksotis, membawa serta rumah adat, musik, dan tarian legendaris. Reog, Topeng Ireng, Cakalele, semua bertemu dalam satu irama, menyajikan mozaik Indonesia yang hidup di negeri raja-raja.

Warga Ambon tumpah ruah di sepanjang jalur karnaval—Jalan Pattimura, Ahmad Yani, Diponegoro, AM Sangadji, hingga AJ Patty. Smartphone di tangan, mereka mengabadikan momen langka ketika kekayaan Nusantara berparade, disambut sorak sorai persaudaraan.

Di tengah kemeriahan, momen paling menggetarkan datang dari Negeri Hila. Tujuh pemuda memperagakan atraksi Bambu Gila, tarian tradisi yang menguji adrenalin dan kekompakan, setelah bambunya diisi roh oleh pawang dan bergerak liar tak terkendali.

Tujuh pasang tangan berjuang keras menahan gempuran bambu yang seolah hidup, simbolisasi perjuangan kolektif masyarakat Maluku dalam menghadapi tantangan. Getaran energi bambu itu seakan menjalar, menggetarkan semangat semua yang hadir.

Atraksi Bambu Gila Hila

Sementara karnaval membius jalanan, Lapangan Merdeka Ambon telah bersolek. Lebih dari 33 UMKM lokal mengisi stan, membagi ruang menjadi surganya kuliner Maluku di sisi kiri, dan etalase fashion serta kerajinan di sisi kanan.

Panggung utama berdiri anggun, siap menjadi rumah bagi pagelaran budaya, talk show, dan musik. Tak ketinggalan, arena permainan tradisional seperti gici-gici, benteng, dan asen, mengajak warga kembali merayakan kegembiraan masa kecil.

WNA juga ikut menikmati permainan tradisional Maluku

Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri), Bima Arya Sugiarto, secara resmi membuka festival. Dalam sambutannya, ia menegaskan pentingnya acara ini sebagai penguat identitas budaya dan pendorong kebangkitan pariwisata.

Pujian khusus diberikan Bima Arya atas rencana revitalisasi Benteng Victoria. "Penataan ulang benteng bersejarah ini bukan sekadar proyek fisik, melainkan langkah strategis untuk menghidupkan kembali ingatan tentang peradaban dan warisan sejarah Maluku," ujarnya.

Ia menyebut, Maluku dan Ambon memiliki modal berupa sejarah panjang dan kebudayaan yang beraneka ragam. "Setiap kota punya identitas, tapi tidak setiap kota itu punya karakter," kata Bima Arya.

"Maluku dan Ambon bukan hanya sekadar nama, tapi menyangkut karakter dan budaya yang luar biasa. Tidak ada kota yang maju di dunia ini tanpa peradaban dan kebudayaan yang kokoh dan kuat," ucapnya.

Semarak malam pembukaan Festival Benteng Victoria bersama Wamendagri dan Forkopimda Maluku

Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa menilai festival ini menjadi simbol identitas dan wujud nyata pembangunan budaya yang berkelanjutan. Benteng Victoria memiliki makna penting bukan hanya sebagai bangunan bersejarah, tetapi juga pusat peradaban di Kota Ambon.

"Festival ini sangat bersejarah karena mendukung perayaan Hari Kebudayaan Nasional yang baru pertama kali dilaksanakan sejak Kementerian Kebudayaan berdiri secara terpisah dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi," ujarnya.

Gubernur berharap, festival ini tidak hanya menjadi tontonan semata, tetapi juga menjadi momen untuk menemukan makna sesungguhnya dari kebudayaan.

"Maju Berbudaya, mengandung pesan bahwa kebudayaan yang kita miliki sekarang adalah pedoman dan identitas orang Maluku yang harus dijunjung tinggi serta dilestarikan," katanya.

Seremony pembukaan berlangsung semarak, dihadiri antara lain Wakil Gubernur Abdullah Vanath, Pangdam XV/Pattimura Mayjen TNI Putranto Gatot Sri Handoyo, Kapolda Maluku Irjen Pol. Dadang Hartanto, serta Wali Kota Ambon Bodewin Wattimena.

Kepala Badan Pembinaan Idiologi Pancasila (BPIP), Yudian Wahyudi, turut menyampaikan apresiasi yang mendalam di malam penutupan. Ia melihat festival ini sebagai upaya nyata melestarikan nilai-nilai luhur bangsa yang mencerminkan Pancasila.

"Di Ambon, sangat terasa semangat Pela Gandong, tradisi budaya Maluku yang menciptakan ikatan persaudaraan dan kekeluargaan yang kuat antar negeri, yang melintasi batas agama maupun perbedaan asal usul," ujar Yudian.

Ia menilai tradisi inilah yang melahirkan kebersamaan dan saling menghormati, terwujud melalui musik dan tarian. "Jejak sejarah di sini tidak disembunyikan, tapi dirawat untuk dijadikan pelajaran," ujarnya.

Kepala Badan Pembinaan Idiologi Pancasila Yudian Wahyudi dan Wali Kota Ambon Bodewin Wattimena

Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XX Maluku, Doddy Wiranto, selaku penyelenggara utama, menegaskan bahwa Festival Benteng Victoria adalah wujud nyata implementasi undang-undang cagar budaya dan pemajuan kebudayaan.

“Festival ini bukan sekadar perayaan, tetapi gerakan kebangsaan untuk menghidupkan kembali nilai-nilai luhur dan semangat kebinekaan dari Ambon untuk Indonesia,” kata Doddy.

Ia menjelaskan, dengan mengusung tema “Toma Berbudaya” (Maju), kegiatan ini memiliki tiga tujuan strategis, salah satunya adalah memperkuat posisi Ambon sebagai UNESCO City of Music dan Waterfront City.

“Benteng Victoria adalah simbol kebangkitan Kota Ambon. Dari sini peradaban baru tumbuh dengan semangat kohesi sosial dan konsep Ambon untuk Semua, kota yang menjadi rumah bagi siapa pun,” ujar Doddy, seraya berharap festival ini akan terus berkelanjutan.

Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XX Maluku Doddy Wairanto

Walikota Ambon, Bodewin Wattimena, tak menyembunyikan kebanggaannya. "Orang Ambon, orang Maluku, harus bangga karena warisan budaya yang ditinggalkan oleh leluhur banyak. Satu yang membanggakan adalah Benteng Victoria yang menceritakan perkembangan kota Ambon," katanya.

Walikota berkomitmen festival ini akan menjadi agenda tahunan memadukan sejarah benteng dengan identitas kota kreatif berbasis UNESCO City of Music.

Puncak acara pada Sabtu, 18 Oktober 2025, ditutup dengan gemerlap fashion show busana etnik koleksi B'gaya by Efie, pagelaran budaya, dan pertunjukan musik yang meriah.

Gemerlap Panggung Festival Benteng Victoria Ambon 2025

Dihadiri ribuan warga dan tokoh penting, Festival Benteng Victoria 2025 resmi ditutup Walikota Ambon, didampingi Kepala BPIP dan Kepala BPK Maluku. Jejak kemeriahan dan semangat kebangsaan yang ditinggalkan akan terus berdetak, menjadikan Ambon sebagai rumah bagi kebinekaan sejati.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....