Akademisi Soroti Dampak Kenaikan Harga Plastik Global
- 20 Apr 2026 20:56 WIB
- Ambon
RRI.CO.ID, Ambon - Kenaikan harga plastik dalam beberapa waktu terakhir menjadi perhatian serius di kalangan akademisi dan pelaku usaha. Dr. R.A. Aisah Asnawi, Dosen Program Studi Kewirausahaan Universitas Pattimura, menyebut faktor paling dominan berasal dari kenaikan harga energi global. Plastik sebagai produk turunan petrokimia sangat bergantung pada minyak dan gas, sehingga fluktuasi harga energi berdampak langsung pada biaya produksi. Selain itu, gangguan rantai pasok global serta struktur industri yang terkonsentrasi turut memperkuat tekanan harga di pasar.
Menurutnya, kenaikan harga plastik tidak semata bersifat sementara. Dalam perspektif akademik, terdapat kecenderungan tren jangka panjang yang dipengaruhi oleh transisi energi dan meningkatnya perhatian terhadap isu lingkungan. Kebijakan global yang mulai memasukkan biaya eksternal seperti pencemaran membuat harga plastik berpotensi tetap tinggi dalam beberapa tahun ke depan.
Di sisi lain, kondisi ini membuka peluang untuk menekan pencemaran lingkungan, khususnya di wilayah pesisir seperti Ambon. Harga yang lebih mahal dapat mendorong pengurangan penggunaan plastik sekali pakai serta memicu inovasi alternatif kemasan yang lebih ramah lingkungan. Namun demikian, efektivitasnya tetap bergantung pada dukungan kebijakan pemerintah daerah dan kesadaran masyarakat.
Ia juga mengingatkan bahwa beralih dari plastik tidak otomatis lebih ramah lingkungan. Berdasarkan pendekatan Life Cycle Assessment, beberapa bahan alternatif seperti kertas atau bioplastik dapat memiliki jejak lingkungan yang besar jika dilihat dari seluruh siklus hidupnya. Hal ini menegaskan pentingnya kehati-hatian agar tidak terjebak pada solusi semu.
Dalam konteks pelaku usaha, khususnya UMKM, tantangan adaptasi menjadi isu penting. Kenaikan harga plastik mendorong pelaku usaha mencari alternatif yang tetap efisien secara biaya. Ia menilai bahan lokal seperti daun serta penggunaan kemasan guna ulang bisa menjadi solusi realistis, meskipun masih membutuhkan dukungan distribusi dan kebijakan agar dapat diterapkan secara luas.
Selain itu, faktor perilaku konsumen dinilai sangat menentukan keberhasilan pengurangan plastik. Tanpa perubahan kebiasaan masyarakat, seperti membawa tas belanja sendiri atau menerima kemasan non-plastik, upaya pengurangan plastik akan sulit mencapai hasil maksimal. Edukasi publik menjadi kunci utama dalam mendorong perubahan tersebut.
Hal ini disampaikan dalam acara Mozaik Indonesia PRO1 RRI Ambon. Ia menegaskan bahwa dunia belum sepenuhnya menuju “post-plastic economy”, namun akan bergerak ke arah penggunaan plastik yang lebih bijak. Peran kampus dan lembaga riset menjadi krusial dalam menghadirkan inovasi material yang berkelanjutan, sekaligus mendorong kolaborasi lintas sektor demi masa depan lingkungan yang lebih baik.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....