OJK :Sektor Jasa Keuangan Tetap Stabil meski Hadapi Tekanan Ekonomi Global

  • 07 Agt 2026 12:55 WIB
  •  Ambon

RRI.CO.ID,Ambon- Kepala Departemen Surveillance dan Kebijakan Sektor Jasa Keuangan Terintegrasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Agus Firmansyah, mengatakan, sektor jasa keuangan Indonesia tetap berada dalam kondisi stabil dan didukung oleh bauran kebijakan fiskal serta moneter yang memadai.

"Dinamika ekonomi global masih diwarnai meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah setelah gagalnya gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran pada awal Juli 2026,"ungkap Agus, Rabu 5 Agustus 2026.

Kondisi tersebut kembali mendorong kenaikan harga minyak dunia dan meningkatkan ketidakpastian di pasar keuangan global.

Selain faktor geopolitik, Dana Moneter Internasional (IMF) juga merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi global tahun 2026 menjadi 3 persen dari sebelumnya 3,1 persen pada April 2026. Revisi tersebut dilakukan akibat dampak perang yang berkepanjangan, meskipun perkembangan investasi di bidang kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dinilai masih menjadi faktor yang berpotensi menopang pertumbuhan ekonomi dunia.

Di sisi lain, Amerika Serikat juga menerapkan kebijakan tarif baru terhadap 60 negara mitra dagang sebagai pengganti tarif sementara yang berakhir pada 24 Juli. Kebijakan tersebut, menurut Agus, berpotensi mempertahankan tingginya premi risiko global dan memicu volatilitas harga komoditas, terutama di sektor energi.

Ia menjelaskan perkembangan ekonomi global menunjukkan perbedaan antarnegara. Aktivitas manufaktur di negara-negara maju mengalami perbaikan yang lebih kuat, sedangkan di negara berkembang pertumbuhannya masih relatif terbatas.

Di Amerika Serikat, inflasi terus mengalami moderasi dengan aktivitas ekonomi yang tetap stabil. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Tiongkok pada kuartal II 2026 tercatat menjadi yang terendah sejak akhir 2022 karena konsumsi domestik dan investasi swasta masih lemah, sedangkan ekspor tetap menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi negara tersebut. Adapun di kawasan Eropa dan Inggris, inflasi juga menunjukkan tren penurunan.

Agus menambahkan, pasar keuangan global bergerak bervariasi di tengah kembali meningkatnya konflik di Timur Tengah. Arus keluar dana investor asing dari pasar keuangan global masih terjadi, namun intensitasnya mulai menunjukkan moderasi dibandingkan periode sebelumnya.

Sementara itu, kondisi perekonomian domestik dinilai tetap terjaga. Inflasi Indonesia pada Juli 2026 tercatat sebesar 2,88 persen secara tahunan (year on year/yoy), mencerminkan tekanan harga yang semakin mereda. Selain itu, aktivitas sektor manufaktur kembali memasuki zona ekspansi dengan Purchasing Managers' Index (PMI) sebesar 50,2 pada Juli 2026.

"Stabilitas sektor keuangan tetap terjaga didukung oleh bauran kebijakan fiskal dan moneter yang memadai," tambah Agus.

OJK menilai berbagai indikator tersebut menunjukkan fondasi perekonomian nasional masih cukup kuat dalam menghadapi tantangan global. Dengan stabilitas sektor jasa keuangan yang tetap terpelihara, OJK akan terus memperkuat pengawasan dan menjaga ketahanan sistem keuangan agar tetap mampu mendukung pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....