Harga Cabai Anjlok jelang Ramadan, Petani Tercekik Pasokan Luar
- 13 Feb 2026 20:53 WIB
- Ambon
RRI.CO.ID, Ambon - Ironi menimpa petani holtikultura di Kabupaten Maluku Tengah. Di saat masyarakat bersiap menyambut bulan suci Ramadan yang identik dengan peningkatan konsumsi, para petani justru harus merelakan hasil panennya dijual dengan harga murah. Penyebabnya bukan karena panen raya, melainkan gempuran produk cabai dan tomat impor dari luar daerah seperti Makassar.
Di Desa Waimusi, Kecamatan Seram Utara Timur Kobi, seorang petani bernama Ali Mustofa hanya bisa pasrah melihat harga cabai keriting di lahannya tak kunjung membaik. Jumat, 13 Februari 2026, ia mengungkapkan keprihatinannya kepada media. Menurutnya, kondisi ini sudah berlangsung beberapa pekan terakhir. Alih-alih naik mengikuti pola tahun-tahun sebelumnya menjelang Ramadan, harga cabai justru stagnan di level rendah.
"Harga cili (cabai) sekarang masih murah, petani belum bisa untung. Kalau tomat masih agak bagus, tapi cabai memang jatuh, biasanya malah murah, petani yang rugi," ujar Ali dengan nada lesu.
Ali menuding masuknya pasokan cabai dan tomat dari Makassar sebagai biang kerok ambruknya harga di tingkat petani lokal. Produk dari luar dijual dengan harga lebih murah, sehingga tengkulak dan pedagang lebih memilih membeli dari luar ketimbang mengambil hasil panen petani setempat. Dampaknya, petani lokal kehilangan pasar. Bahkan, kekhawatiran ini membuat Ali dan petani lain di desanya enggan menambah luas lahan tanam. Mereka trauma rugi besar jika panen raya bertepatan dengan membanjirnya produk impor.
"Kehadiran barang dari luar sangat mencemaskan karena merusak harga. Saya sangat kuwatir, Produksi sekarang standar saja. Kalau mau tanam banyak, takut nanti barang dari luar masuk lagi," jelasnya.
Selain harga jual rendah, petani juga masih harus berhadapan dengan biaya produksi yang terus membengkak. Mulai dari harga pupuk yang mahal, upah tenaga kerja, hingga biaya transportasi yang menguras kantong. Akibatnya, permintaan terhadap produk petani lokal nyaris mati.
Menghadapi situasi ini, Ali berharap pemerintah daerah segera turun tangan. Ia tak meminta harga melambung tinggi, melainkan adanya standardisasi harga yang adil agar petani tidak terus-menerus merugi.
"Kalau bisa harga distandarkan saja supaya petani tidak dirugikan. Sebenarnya kalau tidak ada barang masuk dari luar, pertanian holtikultura di sini bisa berkembang pesat," pungkasnya.
Pemerintah perlu memperkuat perlindungan terhadap petani lokal, terutama menjelang hari-hari besar keagamaan yang rawan fluktuasi harga, dengan memperketat regulasi masuknya produk dari luar daerah tanpa mengganggu mekanisme pasar yang sehat.