Tarian Cakalele-Sawat Warnai HUT ke-450 Kota Ambon
- 08 Sep 2025 13:44 WIB
- Ambon
KBRN, Ambon: Dalam perayaan HUT ke-450 Kota Ambon, Bandera Kabasaran Kota Ambon dikawal ke dalam lapangan Merdeka yang merupakan lokasi pelaksanaan upacara bendera oleh Pemuda dan Pemudi (Jujaro dan Mungare) dengan formasi Tuju orang yang memegang Kain Gandong, dan 9 orang yang berada di dalam Kain Gandong yang melambangkan tanggal dan bulan lahir kota Ambon yakni 7 September. Para petugas pembawa Bendera Kabasaran kota Ambon dikawal oleh pasukan Cakalele.
Ketua Majelis Latupati, Reza Maspaitella menjelaskan, dalam tradisi adat Ambon–Maluku, kain Gandong memiliki makna yang sangat dalam karena terkait dengan nilai persaudaraan pela gandong yang menjadi dasar kehidupan orang Maluku.
Menurutnya, terdapat empat makna dari kain Gandong, yakni:
1. Simbol Persaudaraan dan Kesatuan
Kain Gandong melambangkan ikatan gandong (saudara kandung) antar negeri atau marga. Ikatan ini bukan sekadar hubungan sosial, tetapi dianggap sebagai hubungan darah yang tidak dapat diputuskan. Dalam setiap kegiatan adat, kain Gandong dikenakan atau dibentangkan untuk menegaskan kembali ikatan tersebut.
2. Penanda Sakralitas Acara Adat
Kain Gandong biasanya hadir dalam acara penting seperti pengukuhan raja, pernikahan adat, rekonsiliasi konflik, maupun upacara pela. Kehadirannya menandai bahwa acara itu tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga sakral—menghadirkan leluhur dan mengikat sumpah adat.
3. Media Rekonsiliasi dan Perdamaian
Dalam sejarah Ambon–Maluku, kain Gandong sering digunakan sebagai tanda perdamaian ketika terjadi perselisihan antar-negeri. Dengan membentangkan atau melilitkan kain Gandong, pihak-pihak yang berselisih dipersatukan kembali dalam semangat hidop orang basudara.
4. Warisan Budaya dan Identitas Kolektif
Selain sebagai simbol adat, kain Gandong juga mencerminkan kekayaan budaya Maluku. Motif, warna, dan cara penggunaannya memiliki filosofi masing-masing yang diwariskan turun-temurun. Dengan demikian, kain ini menjadi identitas kolektif masyarakat adat Maluku.

Sementara untuk tari Tarian Cakalele merupakan tarian perang tradisional masyarakat Maluku. Gerakan yang gagah, hentakan kaki yang kuat, serta sorakan khas melambangkan keberanian, kegigihan, dan semangat juang para leluhur Maluku. Tarian ini dulu dipentaskan untuk menyambut perang atau menunjukkan kesiapan mempertahankan negeri.
Upacara HUT ke-450 kota Ambon juga diwarnai dengan tarian sawat, dimana saat didepan pintu Utama Lapangan Upacara, Upulatu dan Rombongan disambut dengan Tarian Sawat dari sanggar Al-Muzafar.
Tari sawat dan musik sawat adalah tarian dan musik tradisional umat muslim yang ada sejak nenek moyang Maluku yang kemudian dikembangkan sampai saat ini, untuk menyambut para tamu dalam resepsi pernikahan, acara keagamaan dan juga adat istiadat di provisni Maluku.
Upacara HUT ke-450 kota Ambon secara keseluruhan dilaksanakan menggunakan bahasa melayu Ambon, mengenakan baju Cele dan Baniang (pakaian khas kota Ambon), sebagai wujud pelestarian nilai-nilai budaya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....