Sepenggal Cerita Tentang JMP Ambon

  • 05 Apr 2025 06:09 WIB
  •  Ambon

KBRN, Ambon: Jembatan Merah Putih (JMP) di Kota Ambon, sudah pasti tidak asing. Jembatan yang digagas oleh Gubernur Maluku Karel Albert Ralahalu untuk menyingkat waktu ke Bandara Pattimura, merupakan salah satu ikon kota, disamping Ambon City of Music.

Namun, masih banyak yang belum tahu cerita dibalik mega proyek pembangunan jembatan tersebut, meski sudah sembilan tahun diresmikan Presiden ke-7 Indonesia Joko Widodo pada 4 April 2016.

Dari berbagai literatur diketahui, jembatan penghubung antara Desa Galala dan Desa Poka ini, dikerjakan selama kurang lebih 5 tahun, mulai dari 17 Juli 2011.

Sebagai salah satu jembatan terpanjang di Indonesia, JMP membentang sepanjang 1,140 kilometer dengan lebar 22,5 meter dan terbagi menjadi 3 bagian, yakni jembatan pendekat di Desa Poka 520 meter, sisi Desa Galala 320 meter dan jembatan utama 300 meter.

Hadirnya JMP memang membawa dampak dan perubahan besar bagi masyarakat di Kota Ambon, terutama dalam mempercepat waktu tempuh dari Bandara Pattimura menuju pusat Kota Ambon menjadi 20 menit.

Sebelum kehadiran JMP, masyarakat dari pusat Kota Ambon harus menempuh waktu 60 menit untuk sampai ke Bandara Pattimura. Namun setelah difungsikan, perjalanan ke bandara bisa 20 menit.

Selain itu, mahasiswa Universitas Pattimura (Unpatti) dan Politeknik Negeri Ambon yang hendak berkuliah, juga lebih menghemat waktu ke kampus, setidaknya tidak perlu lagi berperahu menyeberangi Teluk Ambon, atau memutar kendaraan melewati Passo dan sekitarnya.

Awalnya, jembatan ini dinamai Jembatan Galala Poka, karena menghubungkan dua desa tersebut. Namun warga Desa Rumah Tiga yang wilayahnya juga dilewati JMP, merasa keberatan dengan nama tersebut karena nama desa mereka tidak tersebut.

Menjawab penolakan tersebut, Kementerian PUPR lalu mengadakan rapat bersama Gubernur Maluku, Bappenas, DPRD dan masyarakat ketiga desa bersangkutan untuk mencari solusi penamaan jembatan.

Hasil rapat diputuskan, jembatan yang membelah Teluk Ambon tersebut dinamai JMP, lebih-lebih karena Maluku merupakan salah satu dari 8 provinsi pertama yang sudah ada sejak Indonesia merdeka.

Kini, JMP kokoh berdiri di atas Teluk Ambon, melewati hari-hari yang tak berujung. Kala senja merona, kawula muda datang berselfi dan melewati saat-saat indah hingga matahari terbenam di kaki cakrawala.

Banyak juga yang menjadikan JMP sebagai arena olahraga, khususnya lari pagi dan sore melintasi jembatan yang tingginya puluhan meter, bolak-balik dari ujung ke ujung sambil menikmati keindahan teluk, meski terpapar sinar matahari.


Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....