Dermaga Penyeberangan Leti tak Beroperasi, Warga Kesulitan Transportasi Laut

  • 19 Sep 2026 14:07 WIB
  •  Ambon

RRI.CO.ID, MBD — Dermaga Penyeberangan Pulau Leti di Desa Batumiyau, Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD), menjadi sorotan warga menyusul terhentinya layanan kapal ferry yang selama ini menjadi salah satu akses transportasi laut masyarakat setempat. Kondisi tersebut dinilai menyulitkan warga yang hendak bepergian dari Pulau Leti ke wilayah lain, termasuk menuju Ambon.

Warga Leti Hengky Liliefna, saat berada di lokasi mengaku terkesan dengan kondisi fisik dermaga yang menurutnya cukup baik dan representatif untuk mendukung konektivitas masyarakat. Namun, ia menyayangkan infrastruktur tersebut tidak dimanfaatkan secara optimal karena tidak lagi disinggahi kapal ferry dalam waktu yang disebut warga sudah cukup lama.

“Ketika beta ada di sini, beta sangat terkesan dengan dermaga ini. Dermaga Penyeberangan Pulau Leti yang terletak di Desa Batumiyau ini sangat keren. Hanya saja, yang beta dengar dari warga, sudah tidak ada lagi kapal ferry yang menyinggahinya dalam waktu yang cukup lama,” kata Hengky.

Menurut Hengky, warga menyebut KMP Marsela sebelumnya menjadi kapal yang melayani penyeberangan di dermaga tersebut. Terhentinya layanan kapal itu membuat aktivitas dermaga ikut terhenti, sementara masyarakat masih membutuhkan transportasi laut untuk mobilitas antarpulau maupun akses menuju Ambon.

“Warga cerita biasanya KMP Marsela yang sering menyinggahinya. Namun, sejak KMP tersebut terhambat, pelabuhan yang keren ini pun nganggur, tak berfungsi. Kasihan juga, pemerintah sudah menyediakan infrastruktur perhubungan untuk kepentingan masyarakat, tetapi justru terkesan mubazir,” ujarnya.

Keterangan serupa disampaikan warga Pulau Leti, Olop. Ia mengatakan KMP Marsela sebelumnya menjadi salah satu sarana transportasi yang melayani masyarakat. Namun, menurutnya, sudah cukup lama tidak ada lagi kapal ferry yang beroperasi sehingga warga kesulitan ketika hendak bepergian, khususnya menuju Ambon.

“Awalnya itu ferry KMP Marsela yang layani di sini. Tapi tidak tahu kenapa, sudah cukup lama ini kita di Pulau Leti kalau mau ke mana-mana, atau ke Ambon khususnya, susah. Kita seng tidak tahu apa masalah atau kendalanya,” kata Olop.

Olop berharap pemerintah daerah bersama instansi terkait segera memberikan kepastian mengenai keberlanjutan layanan penyeberangan tersebut. Jika KMP Marsela mengalami gangguan atau kerusakan, ia meminta pemerintah mempertimbangkan pengoperasian kapal pengganti agar kebutuhan transportasi masyarakat tetap terpenuhi.

“Kami sebagai warga yang ada di daerah perbatasan 3T sangat berharap pemerintah daerah dan Dinas Perhubungan segera menyikapi hal ini. Tolong perhatikan kami yang ada di beranda terdepan NKRI, sebab kami butuh akses transportasi, khususnya transportasi laut,” ujarnya.

Terhentinya layanan ferry di Dermaga Penyeberangan Pulau Leti juga menjadi perhatian karena transportasi laut merupakan bagian penting dari konektivitas masyarakat di wilayah kepulauan. Warga berharap pemerintah segera melakukan pengecekan terhadap kondisi layanan, penyebab terhentinya operasional, serta menyiapkan solusi agar dermaga kembali berfungsi dan akses mobilitas masyarakat Leti tidak semakin terbatas.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....