Pembinaan Kemandirian Warga Binaan di Kepulauan Dibahas Kalapas Geser
- 16 Sep 2026 15:55 WIB
- Ambon
RRI.CO.ID,Ambon-Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Geser, Nober Hasanda, menjadi narasumber utama dalam kegiatan Community of Practice (CoP) yang diselenggarakan secara virtual oleh Kantor Wilayah (Kanwil) Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) Maluku, Rabu 16 September 2026. Mengangkat tema "Tantangan dan Peluang Pembinaan Kemandirian Warga Binaan pada Daerah Kepulauan", forum ini menjadi wadah diskusi strategis dalam memperkuat program reintegrasi sosial berbasis kearifan lokal.
Dalam pemaparannya, Nober Hasanda menegaskan bahwa hakikat pemasyarakatan bukanlah pembalasan, melainkan bimbingan untuk mempersiapkan Warga Binaan agar siap kembali ke masyarakat secara produktif.
Meski wilayah kepulauan menghadapi tantangan berat seperti keterbatasan konektivitas, aksesibilitas logistik, pasar lokal yang terbatas, hingga tingginya biaya pengiriman, Nober mengajak seluruh jajaran untuk melihat kondisi tersebut sebagai peluang inovasi. Ia menekankan pentingnya mengubah setiap keterbatasan geografis menjadi potensi produktif bagi Warga Binaan.
“Tantangan adalah peluang yang tersembunyi. Fokus kita saat ini adalah jeli memanfaatkan potensi sumber daya alam lokal Maluku, seperti sektor perikanan, pertanian rempah pala dan cengkeh, hingga olahan bahan pangan serta kerajinan daerah. Melalui pengemasan modern, standardisasi mutu, dan pemasaran digital, kami berharap produk hasil karya Warga Binaan dapat bersaing secara luas, tahan lama, serta mampu mendukung ketahanan pangan dan ekonomi daerah,” tutur Nober.

Kegiatan CoP ini dibuka secara resmi oleh Kepala Bidang Pelayanan dan Pembinaan Kanwil Ditjenpas Maluku, Novriadi. Dalam sambutannya, Novriadi menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat kapasitas, menyelaraskan pemahaman seluruh jajaran pemasyarakatan, serta memetakan tantangan dan potensi lokal. Hal ini krusial agar program pembinaan kemandirian di UPT Pemasyarakatan wilayah kepulauan dapat berjalan terarah, efektif, dan berdampak nyata.
“Materi ini sangat komprehensif, mulai dari pemetaan tantangan hingga solusi teknis seperti digitalisasi pemasaran dan kemitraan dengan pemerintah daerah. Ini menjadi acuan penting bagi seluruh UPT Pemasyarakatan di Maluku dalam merancang program pembinaan yang efektif,” tutur Novriadi.
Apresiasi juga datang dari Kepala Kantor Wilayah Ditjenpas Maluku, Ricky Dwi Biantoro, yang memberikan dukungan penuh terhadap inovasi pembinaan di wilayah kepulauan. Ia menyatakan bahwa gagasan yang dibagikan dalam forum CoP ini membuka pandangan baru terkait strategi pembinaan di daerah kepulauan.
“Inisiatif dan materi yang dibawakan sangat relevan dengan karakteristik wilayah kita. Pembinaan kemandirian di daerah kepulauan harus responsif terhadap kearifan lokal agar warga binaan memiliki bekal nyata yang siap diterapkan saat kembali ke masyarakat,” ungkap Ricky.
Di saat yang sama, kegiatan ini memberikan pengalaman berharga bagi para peserta magang. Salah satu peserta, Megawati Kelderak, mengaku mendapatkan wawasan baru mengenai kompleksitas sekaligus potensi besar pelaksanaan pembinaan di daerah kepulauan. Bagi Megawati, keterlibatan tersebut menginspirasinya tentang bagaimana keterbatasan geografis dapat diubah menjadi peluang keberhasilan reintegrasi sosial Warga Binaan.
“Melalui pemaparan Bapak Kalapas Geser, kami belajar bahwa keterbatasan wilayah bukan penghalang untuk berinovasi. Ini membuka wawasan kami tentang bagaimana pemasyarakatan bekerja secara nyata dalam memanusiakan warga binaan di daerah kepulauan,” pungkas Megawati.
Melalui agenda ini, Lapas Geser bersama Kanwil Ditjenpas Maluku serta seluruh UPT Pemasyarakatan di Maluku berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan, memperluas kemitraan, serta mencetak Warga Binaan yang mandiri, berdaya saing, dan siap berkontribusi positif bagi masyarakat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....