Jejak Misterius Lagu Sayang Kane dan Nama Huwae Tahun 1909

  • 23 Agt 2026 06:13 WIB
  •  Ambon

RRI.CO.ID, Ambon - Orang Ambon tentu tidak asing dengan lagu Sajang Kane. Lagu yang telah menjadi bagian dari kekayaan musik dan budaya masyarakat Maluku ini ternyata menyimpan jejak sejarah panjang yang menarik untuk ditelusuri.

Informasi paling awal mengenai Sajang Kane disebut berasal dari tahun 1911. Lagu tersebut bersama 10 lagu lainnya serta sekitar 350 pantun, dikumpulkan dan dikompilasi dalam sebuah buku berjudul Ambonsch Volkslied, tertanggal 30 September 1911. Kompilasi itu dilakukan oleh J.J.H. Lokollo, seorang guru sekolah Melayu Ambon.

Buku tersebut kemudian diberikan atau dihadiahkan kepada Dora Elise van Maarseven, yang hidup pada 1877 hingga 1945. Ia merupakan istri Hendrik Jan Antoni Raedt van Oldenbarneveldt, Resident van Ambon yang menjabat pada periode 1910 hingga 1915.

Menariknya, buku tersebut kemudian ditemukan di Kamp Westerbork, sebuah kamp yang dibangun pada 1939 untuk menampung pengungsi Yahudi dari Jerman pada masa Perang Dunia II. Sejak 1951, tempat itu dikenal sebagai Kamp Schattenberg dan menjadi lokasi tinggal bagi beberapa ribu warga Maluku yang datang dari Indonesia. Mereka kemudian menetap di kawasan tersebut selama lebih dari dua dekade.

Jejak sejarah Sajang Kane semakin menarik ketika melihat partitur lagu yang memperlihatkan notasi musik dan liriknya. Secara tampilan, partitur tersebut terlihat cukup modern. Namun, ada satu keterangan pendek di bawah judul lagu yang justru memunculkan pertanyaan: tulisan dalam tanda kurung “Huwae 1909”.

Keterangan tersebut menimbulkan dugaan sekaligus pertanyaan mengenai siapa sebenarnya sosok Huwae. Dalam tradisi penulisan partitur, nama yang dicantumkan di bawah judul lagu biasanya berkaitan dengan pencipta, penggubah, atau pihak yang memiliki hubungan dengan lagu tersebut. Jika keterangan “Huwae 1909” memang merujuk pada pencipta atau penggubah, apakah ini berarti Sajang Kane telah diciptakan atau pertama kali digubah oleh seseorang bernama Huwae pada 1909, sebelum kemudian dikompilasi oleh J.J.H. Lokollo pada 1911?

Pertanyaan berikutnya pun menjadi menarik untuk ditelusuri: siapa nama lengkap Huwae tersebut? Apakah Huwae merupakan pencipta Sajang Kane, atau justru orang yang pertama kali mengubah dan menuliskan lagu tersebut dalam bentuk partitur? Jawaban atas pertanyaan ini masih membutuhkan penelusuran sumber sejarah dan arsip yang lebih mendalam. Namun, keberadaan keterangan “Huwae 1909” pada partitur menjadi salah satu petunjuk penting dalam mengungkap perjalanan sejarah lagu Sajang Kane dan warisan musik Ambon.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....