Inspiratif, Helvin Nanda Usung Ekowisata 'The Silent Guardians'

  • 08 Agt 2026 20:50 WIB
  •  Ambon

RRI.CO.ID, Ambon - Putri Pariwisata Maluku 2026, Helvy Nanda Kuhuparuw, mendorong generasi muda Maluku untuk lebih percaya diri, mencintai budaya daerah, serta turut mempromosikan potensi pariwisata Maluku. Hal tersebut disampaikan Helvi saat menjadi narasumber dalam program Figur Inspiratif yang disiarkan Programa 1 RRI Ambon dan dipandu Nurgamar Patty.

Helvi mengungkapkan, perjalanan hingga menjadi Putri Pariwisata Maluku 2026 tidak terlepas dari keberaniannya keluar dari zona nyaman. Sebelumnya, perempuan kelahiran 2007 itu mengaku tumbuh dalam keluarga yang cukup tertutup sehingga dirinya cenderung gugup ketika harus berinteraksi dengan orang lain.

Saat berusia 18 tahun, Helvi mulai berani mengikuti berbagai kegiatan. Salah satunya ajang Jujaro Mungare Kota Ambon 2025 yang mengantarkannya meraih posisi runner up 2. Pengalaman tersebut kemudian membangun kepercayaan dirinya untuk mengikuti berbagai kegiatan lain, termasuk menjadi model dalam sejumlah kegiatan di Maluku.

Helvi mengatakan, dukungan orang tua, khususnya sang ibu, menjadi salah satu faktor penting yang mendorong dirinya berani mengejar mimpi. Menurutnya, tantangan terbesar generasi muda saat ini bukan hanya kemampuan atau bakat, tetapi keberanian untuk memulai.

“Banyak orang punya prestasi, banyak orang punya bakat, tapi mereka tidak berani mulai,” kata Helvi. Ia menilai rasa takut terhadap penilaian orang lain sering kali membuat anak muda enggan menunjukkan potensi yang dimiliki. Karena itu, Helvi mengajak generasi muda untuk percaya diri dan berani keluar dari zona nyaman.

Sebagai Putri Pariwisata Maluku 2026, Helvi membawa perhatian khusus pada potensi wisata, budaya, serta kearifan lokal Maluku. Ketertarikannya terhadap dunia pariwisata semakin kuat setelah mengikuti kegiatan promosi destinasi wisata Negeri Rutong.

Dari pengalaman tersebut, Helvi kemudian memiliki keinginan untuk ikut memperkenalkan potensi Maluku hingga tingkat nasional dan internasional. Salah satu fokus yang kini dikembangkan Helvi adalah advokasi bertajuk The Silent Guardians, yang terinspirasi dari keberadaan satu pohon mangrove di kawasan Metiela, Kaibobo.

Helvi menjelaskan, The Silent Guardians atau penjaga sunyi menggambarkan mangrove sebagai pelindung kawasan pesisir yang tetap berdiri menghadapi ombak dan angin. Gagasan tersebut kemudian dikembangkan menjadi konsep ekowisata bahari berbasis konservasi dan budaya sasi laut sebagai salah satu daya tarik baru pariwisata Maluku.

Dalam pengembangan gagasannya, Helvi menyusun empat pilar, yakni konservasi laut, budaya, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat. Pada aspek konservasi, ia mendorong perlindungan ekosistem laut, termasuk restorasi terumbu karang. Sementara pada aspek budaya, tradisi sasi laut dapat dikembangkan menjadi daya tarik wisata, termasuk melalui kegiatan festival.

Untuk edukasi, Helvi menilai generasi muda perlu dilibatkan dengan memanfaatkan perkembangan teknologi dan media sosial sebagai sarana edukasi sekaligus promosi budaya dan pariwisata. Ia juga mendorong pemberdayaan masyarakat, khususnya perempuan, melalui pengolahan hasil laut maupun kerajinan tangan sehingga memiliki nilai ekonomi.

Komitmen tersebut juga diwujudkan Helvi saat mengunjungi Kaibobo. Ia membawa 10 bibit mangrove untuk ditanam bersama masyarakat serta berdiskusi dengan anak-anak mengenai sampah laut dan pentingnya menjaga ekosistem pesisir.

Helvi melihat media sosial dapat dimanfaatkan generasi muda bukan sekadar untuk hiburan, tetapi juga sebagai media mempromosikan destinasi wisata dan melestarikan budaya Maluku.

Menurutnya, promosi wisata tidak selalu membutuhkan peralatan mahal. Foto sederhana dari sebuah destinasi disertai informasi yang menarik sudah dapat menjadi langkah kecil untuk memperkenalkan keindahan Maluku kepada masyarakat luas.

Helvi berharap Maluku dapat semakin dikenal, bukan hanya karena Ambon sebagai City of Music atau Banda Neira, tetapi juga melalui berbagai potensi lain yang belum banyak diketahui masyarakat luar, termasuk kampung halamannya, Kaibobo.

Ia ingin generasi muda Maluku mengambil peran sebagai agen perubahan dalam memperkenalkan budaya, pariwisata, dan kearifan lokal daerah.

“Berbanggalah terhadap potensi luar biasa dari daerahmu dan jagalah budaya itu supaya terus turun-temurun menjadi warisan generasi akan datang,” pesan Helvi kepada masyarakat Maluku.

Helvi juga menegaskan, dirinya ingin tetap menjadi sosok yang menginspirasi meski masa tugas sebagai Putri Pariwisata Maluku 2026 nantinya berakhir.

Baginya, mahkota bukan sekadar simbol prestasi, melainkan tanggung jawab untuk memberikan dampak dan membuka ruang bagi generasi berikutnya agar berani melanjutkan perjuangan dalam memajukan Maluku.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....