Hangatkan Hidup Orang Basudara, Warga Nuetetu & Nuruwe SBB Panas Pela
- 23 Nov 2023 04:02 WIB
- Ambon
KBRN, Piru: Masyarakat Negeri Nuetetu Patai Nuduwa Siwa dan Nuruwe Lima, Rabu (22/11/2023), menggelar Panas Pela di Kantor Kecamatan Inamasol Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB). Panas Pela digelar untuk menghangatkan kembali hubungan persaudaraan antar dua negeri.
Hadir dan turut memberikan support pada tradisi leluhur ini, antara lain Penjabat (Pj) Bupati SBB Andi Chandra As'adudin, isteri Gubernur Maluku Ny. Widya Pratiwi Murad, Kepala Dinas PUPR Maluku Ismail Usemahu, pimpinan OPD lingkup Pemkab SBB, Danramil 1513-03/Kairatu, Kapolsek Kairatu, Kepala Desa se- Kecamatan Inamasol, tokoh agama dan tokoh masyarakat, serta masyarakat dua negeri
Prosesi panas pela antar dua negeri yang terpisah jauh ini, dimulai dengan ritual adat yang sakral, disusul pembacaan ikrar janji adat dan pembacaan Puisi Pela Gandong. Setelah sambutan-sambutan, prosesi panas pela ditutup dengan doa.
Pj Bupati SBB Andi Chandra dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur atas terselanggaranya Panas Pela antara antar dua negeri. Ia mengakui budaya Panas Pela Gandong sebagai warisan leluhur yang harus dipertahankan eksistensinya, terutama dalam menghadapi dinamika masyarakat yang multi kultur dewasa ini.
"Selaku pimpinan daerah, saya mengajak semua upulatu agar senantiasa melakukan revitalisasi nilai-nilai kearifan lokal sebagai modal sosial kultur dalam berbudaya," ajak Andi Chandra.
Dijelaskan Pj Bupati, revitalisasi kearifan lokal melalui panas pela adalah upaya mentransformasikan nilai-nilai budaya yang masih terus dipertahankan oleh masyarakat..
Ritual panas pela adalah sebuah ritual adat dalam rangka mengingat kembali hubungan kekerabatan dan persaudaraan antara dua desa, yakni Desa Honitetu (Nuwetetu Patai Nudua Siwa) dan Desa Huku (Buku Batai Nuruwa Lima).
"Ikatan kekerabatan panas pela merupakan identitas masyarakat Maluku yang berharga, sekaligus sebagai tanda pengingat kepada generasi penerus bahwa κιτα memiliki warisan identitas budaya yang patut di banggakan dengan tidak mengenal asal-usul," aku Andi Chandra.
Tradisi ini, tegas Pj Bupati, membuktikan bahwa agama, adat dan budaya dapat dipertahankan dalam menciptakan keharmonisan dan kedamaian hidup, sekaligus menunjukkan tingkat keadaban yang tinggi dalam pertalian sejati hidup orang basudara, sebagaimana ungkapan leluhur "Potong di Kuku Rasa di Daging", "Ale Rasa Beta Rasa" dan "Sagu Salempeng Patah Dua".
Karena itu, lanjut Andi Chandra, selaku pimpinan daerah, dirinya menghimbau kepada semua Upulatu untuk senantiasa melakukan revitalisasi nilai-nilai kearifan lokal sebagai modal sosial kultural dalam rangka membangun Kabupaten SBB yang rukun, religius, damai, sejahtera, aman, berkualitas dan demokratis yang di jiwai semangat para leluhur.
"Semoga panas pela ini hendaknya bukan sekedar ekspresi serimonial acara adat, tetapi berisi pesan kultur dan religius yang harus di pertahankan terutama tentang nilai kasih," harap Pj Bupati.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....