Belajar dari Tiongkok, Indonesia Perkuat Modal Manusia
- 16 Sep 2026 21:43 WIB
- Ambon
RRI.CO.ID, Ambon - Pengalaman Tiongkok dalam mengintegrasikan pendidikan, riset, teknologi dan industri menjadi salah satu pembelajaran yang dapat dipertimbangkan Indonesia dalam membangun sumber daya manusia hingga 2045.
Analis Kebijakan Independen, Harry Waluyo, mengatakan, pengalaman Tiongkok menunjukkan bahwa pembangunan human capital tidak cukup hanya dengan meningkatkan jumlah lulusan pendidikan tinggi.
Dalam White Paper Link & Match 2.0, sistem yang dikembangkan Tiongkok mencakup pendidikan tinggi, talenta yang menempuh pendidikan di luar negeri dan kembali ke negaranya, integrasi universitas-industri, program excellent engineers, transfer teknologi serta riset dan pengembangan yang dipimpin perusahaan.
Harry menjelaskan, salah satu hal yang dapat menjadi perhatian adalah kemampuan industri dalam menyerap dan memanfaatkan talenta.
Konsep tersebut disebut sebagai Human Capital Absorption Capacity Index atau HACI, yang digunakan untuk melihat kemampuan perusahaan atau organisasi dalam menyerap serta memanfaatkan talenta dan teknologi.
Menurut kerangka tersebut, persoalan sumber daya manusia bukan hanya terkait berapa banyak tenaga terampil yang tersedia, tetapi juga apakah keterampilan tersebut benar-benar digunakan secara produktif.
White Paper juga mencatat bahwa brain waste dapat terjadi ketika kemampuan yang telah dibangun tidak digunakan secara produktif, seperti seorang insinyur yang tidak mengerjakan pekerjaan engineering atau seorang data scientist yang lebih banyak mengerjakan tugas administratif.
Harry menyebut, Indonesia dapat mengadaptasi sejumlah mekanisme tersebut tanpa menyalin institusi Tiongkok secara mentah.
Dalam roadmap 2026–2045, penguatan sistem Indonesia diarahkan secara bertahap. Periode 2026–2027 difokuskan pada pembangunan skills intelligence, 2028–2030 pada penguatan university-industry matching, 2031–2035 pada konversi teknologi, 2036–2040 pada perluasan skala, dan 2041–2045 pada penguatan human capital flywheel serta reinvestasi.
Pada akhirnya, sasaran yang dirumuskan bukan hanya menghasilkan lebih banyak lulusan, tetapi meningkatkan jumlah manusia yang mampu menghasilkan produktivitas, inovasi, perusahaan, teknologi, ekspor dan pekerjaan berkualitas.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....