Kisah Sincie Albertus, 14 Tahun Setia Menjadi Juru Parkir Resmi demi Sesuap Nasi
- 15 Sep 2026 16:17 WIB
- Ambon
RRI.CO.ID, Ambon — Di usianya yang telah menginjak 65 tahun, semangat Sincie Albertus tak sedikit pun surut. Perempuan tangguh berdarah campuran Cina Banda dan Kisar ini telah mendedikasikan hidupnya selama 14 tahun sebagai Juru Parkir (Jukir) resmi di kawasan Jalan Diponegoro, Ambon.
Berbekal tanda pengenal resmi dan kartu tugas, Sincie bukan sekadar tukang parkir biasa. Ia bertugas di bawah naungan pengelola resmi, CV Afiff Mandiri, yang mengelola retribusi parkir untuk Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon.
Di balik seragam juru parkirnya, Sincie menyimpan kisah perjuangan hidup yang luar biasa sebagai seorang ibu tunggal (single parent). Ia membesarkan anak laki-laki semata wayangnya seorang diri tanpa berpatokan pada bantuan pasangan.
Kepada RRI, Since menceritakan kisah hidupnya, Perjuangan yang dimulai sejak sang anak masih berada di dalam kandungan. Demi menghidupi dan membesarkan putra tunggalnya hingga kini tumbuh dewasa dan berusia 25 tahun, Sincie banting tulang melakukan pekerjaan keras tanpa mengeluh.
"Beta (saya) besarkan dia sendiri dari masih di dalam perut (kandungan). Kerja keras sendiri sampai dia besar," ungkap Sincie.
Sincie mengenang awal mula perjalanannya menjadi seorang Jukir. Keinginannya bermula saat diajak oleh rekan-rekannya untuk mengikuti berbagai pertemuan dan sosialisasi terkait penataan parkir kota.
"Awalnya ada keinginan, lalu diajak ikut rapat-rapat pengelola parkir. Dari situ mulai paham cara kerjanya hingga akhirnya aktif jadi juru parkir resmi," kenang Sincie.
Ia menceritakan bagaimana dia mulai menjadi Jukir saat tarif parkir masih Rp.1000 dan telah berubah seiring berjalannya waktu. "Dulu waktu awal-awal masih Rp1.000 per kendaraan. Sekarang sudah naik jadi Rp2.000 sampai Rp3.000. Tapi kadang ada juga warga yang susah atau mengerti, kita toleransi," ujarnya.
Menjalani profesi di jalanan tentu tak lepas dari tantangan. Sincie mengaku kerap berhadapan dengan pengguna jalan yang acuh, menolak membayar, hingga mengeluarkan kata-kata kasar.
"Ada yang marah-marah, gertak-gertak, bahkan mengancam. Tapi saya tetap sabar dan tertib. Yang penting kita jalankan tugas dengan benar," tegasnya.
Tak hanya tantangan di lapangan, Sincie juga pernah mengalami musibah berat. Pada Juni 2025 lalu, ia menjadi korban tabrak lari saat hendak membeli obat asam lambung di salah satu Apotik di Kota Ambon. Kecelakaan tersebut membuat kakinya cedera berat hingga harus menjalani perawatan medis .
Akibat kejadian itu, ia sempat tidak bisa bekerja selama hampir satu tahun dan posisinya sementara digantikan oleh adiknya, dan berkat ketangguhannya Sincie kini telah bangkit dan kembali mengawasi area parkirnya.
Sebagai seorang ibu dan nenek, Sincie kini hidup mandiri membesarkan anaknya. Jam kerjanya dimulai dari pukul 11.00 WIT setelah menyelesaikan urusan rumah tangga, hingga malam hari saat rumah makan di area tugasnya tutup.
Bagi Sincie, pekerjaan ini adalah bentuk rasa syukur atas napas kehidupan yang masih diberikan Tuhan dan di usianya yang senja, ia membuktikan bahwa usia dan status gender bukan halangan untuk bekerja keras secara halal dan mandiri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....