Musda Demokrat Maluku: Thaher Hanubun Layak Diperhitungkan

  • 26 Agt 2026 15:41 WIB
  •  Ambon

RRI.CO.ID, Ambon - Musyawarah Daerah (Musda) Partai Demokrat Provinsi Maluku yang segera digelar bukan sekadar agenda rutin lima tahunan. Forum ini akan menjadi momentum penting untuk menentukan siapa yang akan memegang kemudi partai dan ke mana Demokrat Maluku akan dibawa setelah kepemimpinan Elwen Roy Pattiasina berakhir.

Pertanyaan paling mendasar bukan hanya siapa yang mampu memenangkan Musda, tetapi siapa yang sanggup membangun Demokrat Maluku menjadi partai yang lebih solid, kuat hingga ke daerah dan kembali dekat dengan kepentingan rakyat. Di tengah mulai menghangatnya bursa calon Ketua DPD Demokrat Maluku, sejumlah nama disebut memiliki peluang.

Salah satu figur yang layak diperhitungkan serius adalah Muhamad Thaher Hanubun. Ia bukan pendatang baru dalam politik Maluku. Perjalanan politiknya dibangun melalui proses panjang, mulai dari dunia pendidikan, legislatif hingga eksekutif.

Sebelum terjun penuh ke politik, Thaher dikenal sebagai guru di salah satu SMA di Jakarta. Ia kemudian memasuki dunia politik dan dipercaya menjadi anggota DPRD Kabupaten Maluku Tenggara.

Kariernya berlanjut ke tingkat provinsi sebagai anggota DPRD Provinsi Maluku. Pengalaman tersebut memberinya pemahaman tentang bagaimana aspirasi masyarakat diperjuangkan melalui lembaga politik, sekaligus bagaimana keputusan politik dibentuk dan dijalankan.

Kariernya kemudian berlanjut ke eksekutif. Thaher kembali ke daerah asal dan berhasil memenangkan kontestasi pemilihan kepala daerah. Kini, ia memimpin Kabupaten Maluku Tenggara untuk periode kedua.

Dua periode sebagai kepala daerah tentu bukan modal politik yang kecil. Memimpin pemerintahan berarti berhadapan langsung dengan persoalan masyarakat, birokrasi, kepentingan politik, pembangunan dan tuntutan publik.

Lebih dari itu, seorang kepala daerah harus mampu mempertahankan kepercayaan masyarakat setelah memperoleh mandat untuk periode berikutnya. Di titik inilah pengalaman Thaher menjadi relevan dalam bursa Ketua DPD Demokrat Maluku.

Bukan Sekadar Soal Popularitas

Ketua partai tingkat provinsi tidak cukup hanya bermodal popularitas atau kekuatan politik sesaat. Ia harus mampu membaca peta politik, mengonsolidasikan kader, membangun komunikasi dengan seluruh DPC, menjaga keseimbangan kepentingan antardaerah dan mengambil keputusan ketika organisasi menghadapi konflik.

Tantangan itu menjadi lebih kompleks di Maluku sebagai provinsi kepulauan. Karakter masyarakat di Ambon tentu tidak sepenuhnya sama dengan masyarakat di Maluku Tenggara, Buru, Seram Bagian Timur, Maluku Barat Daya maupun Kepulauan Aru. Kondisi geografis, sosial, budaya dan dinamika politik setiap wilayah memiliki kekhasan masing-masing.

Karena itu, Demokrat Maluku membutuhkan ketua yang mampu menjadi penghubung seluruh kekuatan tersebut. Pengalaman Thaher memimpin daerah kepulauan menjadi salah satu modal yang patut diperhitungkan.

Ia memahami bahwa membangun komunikasi politik di wilayah kepulauan membutuhkan pendekatan yang berbeda. Tidak cukup hanya mengandalkan komunikasi dari ibu kota provinsi. Kader di daerah harus merasa dilibatkan. Struktur partai harus bergerak. Aspirasi masyarakat harus didengar dan diterjemahkan menjadi agenda politik.

Pengalaman itu memang tidak otomatis menjadikan Thaher sebagai kandidat terbaik. Namun, setidaknya ia memiliki bekal politik dan pemerintahan yang cukup lengkap.

Momentum Regenerasi Demokrat

Musda Demokrat Maluku kali ini memiliki arti yang lebih besar karena Elwen Roy Pattiasina telah menyatakan tidak kembali mencalonkan diri sebagai Ketua DPD Demokrat Maluku pada 2026. Artinya, ruang regenerasi terbuka.

Regenerasi tidak harus selalu berarti menghadirkan figur paling muda. Regenerasi juga dapat berarti menghadirkan energi baru, pola komunikasi baru, perspektif baru dan pengalaman kepemimpinan yang berbeda.

Dalam konteks itu, Thaher Hanubun menjadi salah satu nama yang menarik.

Ia memiliki pengalaman legislatif dan eksekutif. Ia pernah menjadi wakil rakyat dan kini telah dua periode menjadi kepala daerah. Kombinasi tersebut dapat menjadi modal untuk memahami politik dari dua sisi: bagaimana memperjuangkan kepentingan melalui lembaga legislatif dan bagaimana menerjemahkan kebijakan ketika berada di pemerintahan.

Namun, tantangan terbesar bukan sekadar memenangkan Musda. Justru pekerjaan sesungguhnya dimulai setelah Musda berakhir. Ketua terpilih harus mampu merangkul kader yang berbeda pilihan. Tidak boleh ada politik balas dendam terhadap pihak yang kalah. Tidak boleh pula partai hanya hidup ketika pemilu semakin dekat. Demokrat harus bekerja sepanjang waktu.

Konsolidasi organisasi harus dilakukan dari tingkat provinsi hingga ranting. Kader harus dirawat. Regenerasi harus berjalan. Komunikasi dengan masyarakat harus diperkuat.

Ketua DPD Demokrat Maluku ke depan harus mampu menjadi pemimpin yang merangkul, bukan memperlebar sekat. Ia harus mampu berdiri di tengah ketika terjadi perbedaan. Harus membuka ruang bagi kader baru. Dan yang paling penting, harus mengembalikan orientasi partai kepada kepentingan masyarakat.

Musda Bukan Sekadar Perebutan Kursi

Jika dalam Musda nanti muncul sejumlah kandidat, kompetisi tersebut merupakan bagian dari dinamika demokrasi internal partai.

Tetapi ukuran keberhasilan Musda tidak boleh berhenti pada pertanyaan siapa yang menang.

Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: apakah Demokrat Maluku menjadi lebih kuat setelah Musda?

Sebab kemenangan dalam Musda hanya berlangsung sehari. Tanggung jawab memimpin partai berlangsung bertahun-tahun.

Ketua DPD terpilih akan menghadapi pekerjaan berat: membangun konsolidasi, memperkuat struktur, menjaga kader, merekrut generasi baru, memperluas komunikasi publik dan membangun kembali kepercayaan masyarakat.

Partai politik tidak boleh hanya sibuk menghitung suara ketika pemilu semakin dekat.

Partai harus hadir ketika masyarakat membutuhkan. Harus mendengar suara dari kampung-kampung, pulau-pulau dan daerah yang selama ini jauh dari pusat kekuasaan.

Dalam konteks kebutuhan tersebut, pengalaman Thaher Hanubun layak dipertimbangkan.

Bukan semata karena ia seorang bupati. Bukan hanya karena telah dua periode memimpin Maluku Tenggara. Tetapi karena ia telah melewati perjalanan politik yang panjang dan memahami dinamika legislatif sekaligus pemerintahan.

Tentu, keputusan akhir tetap berada dalam mekanisme organisasi Partai Demokrat. Dukungan DPC, proses penjaringan, Musda dan keputusan DPP akan menentukan siapa yang akhirnya dipercaya memimpin Demokrat Maluku.

Kemunculan nama Thaher juga tidak berarti menutup peluang kandidat lain.

Sebaliknya, semakin banyak figur berkualitas yang tampil, semakin sehat pula proses demokrasi internal Demokrat Maluku. Para pemilik suara dapat menentukan pilihan berdasarkan kapasitas, pengalaman, integritas dan visi kepemimpinan.

Menentukan Arah Demokrat Maluku

Pada akhirnya, Musda Demokrat Maluku bukan sekadar memilih seorang ketua. Yang sedang dipertaruhkan adalah arah masa depan partai. Demokrat membutuhkan pemimpin yang mampu menyatukan, bukan memecah.

Membuka ruang kader, bukan membangun lingkaran terbatas. Memperkuat struktur di daerah, bukan hanya mengandalkan kekuatan politik di ibu kota provinsi. Maluku membutuhkan Demokrat yang hadir di tengah masyarakat. Demokrat yang mampu melahirkan kader baru.

Demokrat yang memiliki daya tawar politik, tetapi tidak kehilangan pijakan pada kepentingan rakyat. Jika ukuran pemimpin adalah pengalaman, kapasitas pemerintahan, rekam perjalanan politik dan kemampuan memahami karakter masyarakat kepulauan, maka nama Muhamad Thaher Hanubun sulit untuk diabaikan.

Musda memang akan memilih seorang ketua. Tetapi sesungguhnya, Demokrat Maluku sedang memilih siapa yang akan memegang kemudi organisasi menghadapi pertarungan politik berikutnya.

Karena Demokrat tidak hanya membutuhkan pemenang Musda. Demokrat membutuhkan pemimpin yang mampu membuat partai menjadi pemenang dalam memperjuangkan kepentingan rakyat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....