Komunitas Tate Maluku Hadirkan Ruang Gerak Menjaga Identitas Maluku

  • 28 Jun 2026 18:10 WIB
  •  Ambon

RRI.CO.ID, Ambon — Identitas budaya tidak hanya tersimpan dalam catatan sejarah, tetapi juga hidup melalui kebiasaan, tradisi, dan cara masyarakat menjalani kehidupan sehari-hari. Hal tersebut menjadi pembahasan dalam program ROK (Ruang Obrolan Komunitas) Pro 2 RRI Ambon bersama Komunitas Tate Maluku yang menghadirkan Chey Gihon selaku Founder Tate dan Rahmat Bacaritaayo sebagai Co Founder Tate dengan topik “Menjaga Identitas Maluku melalui Tate.”

Dalam dialog tersebut, Komunitas Tate memperkenalkan makna filosofis di balik nama “Tate”. Dalam bahasa Maluku, tate memiliki arti berjalan atau melangkah. Namun, istilah tersebut juga memiliki makna yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat, yaitu sebutan bagi seorang anak bayi yang sedang belajar berjalan dan masih membutuhkan bantuan dari orang tua.

Makna tersebut menjadi gambaran perjalanan Komunitas Tate yang terus bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya. Bagi mereka, berjalan bukan sekadar aktivitas fisik, tetapi sebuah cara untuk mengenal ruang, manusia, cerita, dan identitas yang ada di tanah Maluku.

Chey Gihon menjelaskan bahwa Tate hadir sebagai komunitas yang mencoba merekam dan merasakan kembali hubungan masyarakat Maluku dengan perjalanan. Setiap langkah yang dilakukan memiliki cerita, baik tentang alam, sejarah, maupun kehidupan sosial masyarakat.

Pembahasan juga mengangkat bagaimana perjalanan kaki memiliki kaitan erat dengan sejarah masyarakat Maluku. Pada masa lalu, masyarakat terbiasa melakukan perjalanan melalui jalur-jalur gunung dan hutan untuk berpindah dari satu wilayah ke wilayah lain. Bahkan dalam situasi sulit seperti masa kerusuhan tahun 1999, jalur perjalanan tersebut menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat.

Selain itu, tradisi papalele juga menjadi salah satu contoh nyata bagaimana aktivitas berjalan telah menjadi bagian dari identitas masyarakat Maluku. Banyak mama-mama papalele yang berjalan membawa hasil dagangan dari kampung menuju pusat perdagangan. Salah satu contoh yang sering dikenang adalah perjalanan dari kawasan Latuhalat menuju Pasar Mardika yang dilakukan dengan berjalan kaki.

Bagi Komunitas Tate, cerita-cerita seperti ini menjadi bagian penting yang perlu terus diingat oleh generasi muda. Sebab, identitas budaya tidak hanya berbicara tentang simbol atau pakaian tradisional, tetapi juga tentang kebiasaan dan perjuangan masyarakat dalam menjalani kehidupan.

Rahmat Bacaritaayo menambahkan bahwa melalui kegiatan yang dilakukan Tate, mereka ingin menciptakan ruang bagi masyarakat untuk kembali mengenal lingkungan sekitar. Dengan berjalan, seseorang dapat melihat lebih dekat kehidupan masyarakat, memahami sejarah suatu tempat, serta menemukan cerita yang mungkin terlupakan.

Melalui ROK Pro 2 RRI Ambon, Komunitas Tate Maluku mengajak generasi muda untuk tidak hanya menjadi penonton perkembangan zaman, tetapi ikut menjaga nilai-nilai lokal yang menjadi ciri khas daerah. Sebab setiap langkah yang dilakukan hari ini dapat menjadi cara untuk merawat cerita dan identitas Maluku di masa depan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....