Kisah Pengorbanan Briptu Rishyant yang Kini Diganjar Pangkat Anumerta
- 23 Jun 2026 21:26 WIB
- Ambon
RRI.CO.ID, AMBON : Laut di Pantai Nirun Lear Ngursoin, Kota Tual, masih menyimpan cerita pilu yang tak mudah dilupakan keluarga maupun rekan sejawatnya. Di tempat itulah Briptu Ananda Rishyant Putera Pratama Tutupoho menghembuskan napas terakhir saat mencoba menyelamatkan seorang pelajar yang terseret arus.
Kini, negara memberikan penghormatan tertinggi atas pengorbanannya. Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo menetapkan kenaikan pangkat luar biasa anumerta, dari Briptu menjadi Brigadir Polisi (Brigpol) Anumerta, sebagai bentuk penghargaan atas keberanian yang berujung pada kehilangan nyawa. Keputusan itu tertuang dalam Keputusan Kapolri Nomor Kep/901/VI/2026 tanggal 22 Juni 2026.
Detik-Detik yang Berujung Tragedi
Peristiwa itu terjadi pada Minggu (21/6/2026) siang di kawasan wisata Pantai Nirun Lear Ngursoin, Kecamatan Kei Kecil Selatan, Kota Tual.
Seorang pelajar, Opy Hanubun (16), terseret arus saat berenang. Melihat situasi itu, Rishyant bersama seorang prajurit TNI AU, Serda Rangga S., tanpa ragu langsung terjun ke laut untuk melakukan penyelamatan.
Namun gelombang tinggi dan arus kuat membuat situasi berubah cepat menjadi berbahaya. Keduanya justru ikut terseret ombak hingga akhirnya tidak dapat diselamatkan.
Di lokasi kejadian, suasana panik berubah menjadi duka. Upaya penyelamatan korban yang awalnya dilakukan dengan refleks kemanusiaan, berakhir dengan kehilangan dua aparat negara.
“Ia Tidak Berpikir untuk Dirinya Sendiri”
Kapolda Maluku, Dadang Hartanto, menyebut tindakan almarhum sebagai bentuk nyata keberanian yang lahir dari naluri kemanusiaan seorang Bhayangkara.
“Brigpol Anumerta Rishyant Tutupoho adalah pahlawan kemanusiaan. Ia gugur ketika mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan seorang anak bangsa,” kata Dadang.
Ia menegaskan, pengorbanan tersebut menunjukkan bahwa tugas kepolisian tidak hanya sebatas penegakan hukum, tetapi juga hadir dalam situasi darurat kemanusiaan.
“Ia tidak berpikir tentang keselamatannya sendiri ketika melihat masyarakat membutuhkan pertolongan,” ujarnya.
Rumah Duka yang Sunyi, Tapi Penuh Kehormatan
Setelah peristiwa itu, jenazah almarhum disemayamkan di rumah duka di kawasan Kebun Cengkeh, Desa Batu Merah, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon.
Kapolda Maluku bersama jajaran dan Ketua Bhayangkari Daerah Maluku datang langsung memberikan penghormatan terakhir kepada keluarga.
Di rumah sederhana itu, duka keluarga bercampur dengan kebanggaan. Sang Bhayangkara muda pulang bukan dalam tugas rutin, tetapi dalam pengabdian terakhir yang tak sempat ia tinggalkan.
Negara Hadir Memberi Penghargaan
Kenaikan pangkat anumerta yang diberikan Kapolri menjadi simbol pengakuan negara atas pengorbanan yang tidak terukur dengan jabatan maupun usia.
Kabid Humas Polda Maluku, Rositah Umasugi, mengatakan keputusan tersebut adalah bentuk penghargaan atas dedikasi almarhum.
“Pengorbanan almarhum menunjukkan bahwa tugas kemanusiaan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pengabdian anggota Polri,” ujarnya.
Dua Seragam, Satu Pengorbanan di Laut Tual
Peristiwa ini juga menelan korban dari unsur TNI AU, Serda Rangga S., yang bersama almarhum turut melakukan penyelamatan.
Keduanya kini dikenang sebagai dua sosok berbeda seragam, namun dipersatukan oleh satu hal yang sama: keberanian menolong sesama tanpa menghitung risiko.
Di Tual, nama Rishyant kini tidak hanya disebut sebagai anggota Polri, tetapi sebagai sosok yang memilih untuk tetap masuk ke laut ketika orang lain ragu.
Di mata keluarga, ia bukan sekadar aparat, melainkan anak yang pulang dengan kehormatan tertinggi—meski tanpa sempat kembali dalam keadaan hidup.
Penghargaan anumerta itu kini menjadi penanda bahwa keberanian di tengah bahaya tetap memiliki tempat dalam ingatan negara, meski harus dibayar dengan nyawa.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....