Pesparawi Nasional 2026: antara Simfoni,Transformasi Ekonomi & Budaya Nusantara

  • 01 Mei 2026 13:26 WIB
  •  Ambon

RRI.CO.ID, Ambon - Kota Injil bersiap mengukir sejarah. PESPARAWI (Pesta Paduan Suara Gerejawi) Nasional XIV yang akan dihelat di Manokwari, Papua Barat pada bulan Juni tahun 2026, dipastikan akan tampil beda. Tak lagi sekadar kompetisi vokal, ajang yang akan mempertemukan hingga 6.000-8.000 peserta dari 38 provinsi ini diharapkan mampu mengusung misi besar melalui Tiga Pilar Pendekatan Strategis.

Ronny Loppies sebagai koordinator juri PESPARAWI XIV mengemukakan bahwa PESPARAWI XIV harus berdampak ganda bagi Indonesia khususnya bagi Indonesia Timur. Untuk itu ia membedah strategi yang akan menjadikan event ini sebagai tolak ukur baru event keagamaan nasional sebagai berikut:

1. Diplomasi Nada: Menjaga Hak dan Identitas Budaya

PESPARAWI XIV harus dapat memposisikan diri sebagai benteng pelestarian budaya. Melalui 12 kategori lomba, ajang ini menjadi wadah Diplomasi Budaya yang merajut keberagaman spiritualitas dari Sabang sampai Merauke.

Fokus utama kali ini adalah penguatan Cultural Rights (Hak Budaya), khususnya pada kategori Musik Gereja Nusantara (MGN). Pada konsep ini terjadi pergeseran fokus dari yang biasaya terarah kepada Paduan Suara Dewasa Campuran (PSDC) namun kali ini lebih terfokus kepada MGN karena banyak mengusung idiom-idiom nusantara (mulai dari kostum sampai dengan lagu).

Hal itu tidak berarti bahwa kategori yang lain tidak penting. Dari satu kategori yang diperlombakan dapat dibangun komitmen melindungi orisinalitas karya, mulai dari aransemen musik, kekhasan kostum daerah, hingga filosofi pola gerak etnik. Ini bukan sekadar tampil, melainkan upaya internalisasi nilai inklusivitas agar identitas nusantara tetap terjaga di tengah modernitas.

2. Menggerakkan Roda Ekonomi Kreatif yang Terukur

Bergeser ke sisi ekonomi, PESPARAWI 2026 diproyeksikan menjadi "bahan bakar" baru bagi industri kreatif. Fokusnya tidak hanya pada penyanyi di atas panggung, tetapi juga para aktor di balik layar.

Ekosistem Kreatif: Ribuan talenta seperti desainer kostum, koreografer, aranjer, hingga teknisi lighting dan sound profesional akan terlibat dalam perputaran ekonomi yang massif di ajang ini.

Multiplier Effect bagi UMKM: Kehadiran ribuan delegasi adalah pasar besar bagi pelaku usaha akomodasi, kuliner, dan UMKM unggulan Papua Barat.

Industri Digital: Melalui formalisasi konten digital (audio dan video) hasil lomba, setiap karya akan diproses menjadi produk kreatif yang memiliki nilai ekonomi berkelanjutan di pasar musik global.

3. Rebranding Pariwisata: Menuju Wisata Musik Berkelanjutan

Melalui event ini, Papua Barat ingin melakukan rebranding besar-besaran. Paradigma pariwisata konvensional digeser menjadi Pariwisata Alternatif Berbasis Musik—sebuah perpaduan antara wisata rohani dan eksplorasi budaya.

Konsep yang diusung dapat berupa Wisata Ramah Lingkungan. Konsep ini dapat mengintegrasikan paket-paket wisata yang mempromosikan keindahan alam "Kepala Burung" Papua dengan prinsip jejak karbon rendah (low carbon footprint). Ini adalah komitmen nyata bahwa kemeriahan PESPARAWI tetap berjalan selaras dengan pelestarian alam Papua yang magis.

Harapan Baru dari Manokwari

Dengan integrasi antara Budaya, Ekonomi Kreatif, dan Pariwisata, PESPARAWI Nasional XIV 2026 di Manokwari bukan lagi sekadar acara seremonial. Ia adalah mesin penggerak menuju Indonesia Emas 2045 yang berakar pada kekuatan identitas dan kemandirian ekonomi. Papua Barat siap menyambut dunia dengan harmoni, dan Manokwari siap membuktikan bahwa dari ujung timur, suara persatuan bisa mengubah wajah bangsa. Sukses untuk Manokwari.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....