Ketahanan Pangan Maluku Diuji Perubahan Iklim Ekstrem
- 28 Apr 2026 21:00 WIB
- Ambon
RRI.CO.ID, Ambon - Ketahanan pangan di Provinsi Maluku saat ini menghadapi tekanan serius di tengah meningkatnya frekuensi cuaca ekstrem. Dalam Dialog Kentongan Pro1 yang disiarkan oleh RRI Ambon pada Selasa, 28 April 2026, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Maluku, Ina Wati Tahir, SE., M.Si, menjelaskan bahwa perubahan pola cuaca telah memengaruhi produksi dan distribusi pangan di sejumlah wilayah kepulauan.
Menurut Ina Wati Tahir, kondisi cuaca yang tidak menentu seperti hujan berkepanjangan dan gelombang tinggi telah mengganggu aktivitas pertanian dan perikanan, dua sektor utama penopang pangan di Maluku. Beberapa daerah mengalami penurunan produksi akibat gagal panen, sementara distribusi antar pulau juga terhambat karena faktor keselamatan transportasi laut.
Komoditas pangan yang paling terdampak antara lain beras, sayuran, serta hasil perikanan. Produksi beras terganggu akibat pola tanam yang tidak sesuai musim, sementara sayuran rentan rusak karena curah hujan tinggi. Di sisi lain, nelayan menghadapi kesulitan melaut akibat cuaca buruk, sehingga pasokan ikan sebagai sumber protein utama masyarakat ikut menurun.
Jika kondisi cuaca ekstrem terus berlanjut, Ina Wati Tahir tidak menutup kemungkinan adanya potensi krisis pangan di beberapa wilayah, terutama daerah terpencil yang sangat bergantung pada pasokan dari luar. Namun demikian, ia menegaskan bahwa pemerintah daerah terus melakukan langkah antisipasi untuk mencegah kondisi tersebut agar tidak berkembang menjadi krisis yang lebih luas.
Dampak langsung dari gangguan produksi dan distribusi ini terlihat pada kenaikan harga bahan pokok di pasar. Beberapa komoditas mengalami fluktuasi harga yang cukup signifikan, terutama saat pasokan terbatas. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat, terutama kelompok berpenghasilan rendah yang paling rentan terhadap kenaikan harga pangan.
Sebagai langkah strategis, pemerintah daerah Maluku telah memperkuat cadangan pangan, meningkatkan koordinasi distribusi antar wilayah, serta mendorong pemanfaatan pangan lokal. Selain itu, program intervensi seperti operasi pasar dan subsidi transportasi juga dilakukan untuk menjaga stabilitas harga dan ketersediaan bahan pokok di tengah ketidakpastian iklim.
Ina Wati Tahir juga menekankan pentingnya diversifikasi pangan lokal sebagai solusi jangka panjang. Masyarakat didorong untuk tidak bergantung pada satu jenis pangan saja, seperti beras, melainkan mulai mengonsumsi sumber pangan alternatif seperti sagu, ubi, dan hasil lokal lainnya. Upaya edukasi dan sosialisasi terus dilakukan agar masyarakat lebih adaptif terhadap perubahan, sekaligus memperkuat ketahanan pangan berbasis potensi lokal Maluku.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....