Zween Walalayo: Hayati Makna Pengorbanan dalam Jalan Salib

  • 18 Apr 2026 20:53 WIB
  •  Ambon

RRI.CO.ID, Ambon — Angkatan Muda Gereja Protestan Maluku (AMGPM) Cabang Kyrie Eleison 1 telah melaksanakan kegiatan Jalan Salib sebagai bagian dari rangkaian perayaan Paskah. Kegiatan ini tidak hanya menjadi agenda rutin gereja, tetapi juga sarana refleksi iman bagi para pemuda yang terlibat.

Salah satu pemeran utama, dengan nama lengkap Jacly Zween Walalayo kelahiran 14 September 2003 yang dipercayakan memerankan Tuhan Yesus, mengaku awalnya merasa berat menerima peran tersebut. Menurutnya, peran itu bukan sekadar akting, melainkan memiliki makna yang sangat besar dan mendalam.

“Saya jujur merasa tidak layak, karena sebagai manusia saya punya banyak kesalahan dan dosa. Saya sempat bertanya dalam hati, apakah saya pantas memerankan sosok Tuhan Yesus,” ungkapnya saat Acara Obrolan SPEKTRA Sore Ceria di Pro 2 RRI Ambon beberapa waktu lalu

Zween menjelaskan, saat pertama kali dihubungi pada tahun 2023, dirinya tidak langsung memberikan jawaban. Ia memilih untuk mengambil waktu, berdiskusi dengan orang tua, serta berdoa meminta petunjuk Tuhan. Setelah melalui pergumulan tersebut, ia akhirnya mantap menerima peran itu.

Dalam proses pendalaman karakter, ia tidak hanya fokus pada hafalan adegan, tetapi juga berusaha memahami makna penderitaan, kasih, dan pengorbanan Tuhan Yesus. Melalui doa dan perenungan, ia mencoba menghidupi setiap adegan agar yang ditampilkan terasa nyata dan menyentuh.

Ia mengungkapkan, selama pementasan, berbagai adegan dijalani secara sungguh-sungguh, termasuk adegan fisik seperti dicambuk, ditampar, hingga diperlakukan dengan keras. Hal itu dilakukan untuk menghadirkan penghayatan yang lebih dalam terhadap penderitaan yang dialami Tuhan Yesus.

“Dengan iringan musik, suasana semakin membantu saya masuk ke dalam peran. Ada momen di mana semua emosi menyatu—rasa sakit, tekanan, dan penghayatan akan pengorbanan. Di situ saya merasa bukan sekadar berperan, tetapi benar-benar memahami makna Jalan Salib,” katanya.

Dari sisi persiapan, ia menuturkan bahwa kesiapan fisik dan emosi menjadi hal penting. Para pemeran harus mempersiapkan diri secara matang karena adegan yang dijalani cukup berat. Selain itu, pengendalian emosi juga dilatih, terutama dalam masa puasa, agar tetap fokus pada tujuan pelayanan.

Di tengah kesibukan pekerjaan dan latihan, para pemuda juga dituntut mampu membagi waktu dengan baik agar seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan maksimal.

Melalui pengalaman tersebut, Zween menyampaikan pesan kepada generasi muda agar tidak menyia-nyiakan talenta dan kesempatan yang telah diberikan Tuhan. Ia mengajak pemuda untuk menyalurkan kemampuan yang dimiliki, tidak hanya untuk kepentingan duniawi, tetapi juga dalam pelayanan.

“Banyak hal di luar sana yang bisa kita kejar, tetapi apa yang Tuhan percayakan kepada kita jangan disembunyikan. Mari kita kembangkan melalui pelayanan, baik di gereja maupun organisasi pemuda,” ujarnya.

Ia menambahkan, melalui kegiatan seperti Jalan Salib, pemuda dapat belajar dan bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik serta siap melayani. Pengalaman tersebut juga menjadi pengingat akan besarnya kasih Tuhan Yesus yang rela menderita dan disalibkan demi menebus dosa manusia.

“Karena itu, sudah sepatutnya kita juga mau mengambil bagian dalam pelayanan, mulai dari hal-hal kecil, dengan hati yang tulus,” tutupnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....